Gomenasai Anime Smiley trisillumination: That's All Cause Ify Part 19c

Selasa, 25 Desember 2012

That's All Cause Ify Part 19c


Ify sedang sibuk mengerjakan PR Kimianya untuk senin besok di Gazebo pinggir kolam renang. Biasanya saat mengerjakan Kimia Ify sering meminta Rio membantunya, berhubung Rio memang jago dalam bidang ini. Tapi disaat seperti ini tentu saja Rio tidak bisa diharapkan, bertemu saja sudah bertatap sinis bagaimana mungkin untuk saling bicara. Dari ekor matanya Ify melihat Rio yang berjalan kearahnya dan langsung duduk dihadapan Ify dengan membuang pandangan.
“Mau ngapain?” Tanya Ify to the point malas berbasa-basi karena memang kepalanya sudah mumet dengan masalah ditambah PR Kimia yang bertumpuk.
“Cuma duduk” Jawab Rio singkat.
“Oh, masih ada juga orang egois yang berani duduk depan gue” Ucap Ify.
“Sorry, loe bilang gue egis dari sisi mana ya? Sadar ga sih ego loe juga tinggi” Ucap Rio dingin.
“Seenggaknya gue masih bisa mengendalikannya” Ucap Ify tak mau kalah.
“Come On, gue ga marah sama loe. Kenapa loe sinis gitu sih” Ucap Rio.
“Loe marah sama sahabat gue. Pikir dong Yo kalo ngomong. Gimana perasaan Shilla saat loe bentak dia kayak tadi” Ucap Ify.
Rio menggelengkan kepala heran. “Wajar gue marah”
“Tapi dia ga tau apapun tentang Bian” Ify kembali berargumen.

“Tapi gue rasa dia tau cara dia bertanya dengan lebih sopan” Ucap Rio sarkatis.
Baru saja Ify mau membalas ucapan Rio. Konsentrasinya terpecah saat dering menandakan sms masuk ke I-Phone nya.
--------------------------------------
From : Obiet
--------------------------------------
Kak, Kak Shilla masuk
RS GabShivers..
Bisa kesini?
Kabarin temen loe yang laen..
Thx
-------------------------------------

Ify langsung buru-buru memforward sms nya ke temannya yang lain.
“Omongan kita belum selesai Fy” Ucap Rio back to the topic.
“Shilla masuk Rumah sakit, gue mau kesana. Loe ikut ga?” Tanya Ify langsung.
“Gue............” Rio agak menggantung jawabannya.
“Bukan waktunya buang-buang waktu” Ucap Ify tergesa.
“Gue ga ikut” Ucap Rio mantap.
Ify menatap Rio tak habis pikir dengan jalan pikirannya. Tanpa berkata dengan sedikit hentakan kepala dan gerakan cepat Ify membereskan PR kimia dan menumpuknya jadi satu diatas meja lalu dengan langkah tergesa meninggalkan Rio yang masih berdiam.

***

Gabriel mengurungkan niatnya untuk langsung kerumah Ify, setelah mendapat kabar dari Ify bahwa Shilla masuk rumah sakit.
---------------------------------
From : IfyAlyssa ‘MySist’
---------------------------------
Guys, Shilla masuk RS..
Gw, otw.. Langsung ketemu
Di RS GabShivers..
Thx..
---------------------------------
Setelah menitipkan barang-barang pribadinya kepada tukang kebun dari rumah milik Ayah kandungnya sendiri. Gabriel memutuskan untuk langsung kerumah Sakit yang letaknya tidak jauh dari rumahnya tersebut.

***

Ify berjalan tergesa keluar dari rumah Rio. Hingga menabrak Deva yang baru saja mengambil seragam.
“Wedeehh, selaww sistaa” Ucap Deva.
“Mana kunci mobil?” Tanya Ify to the point.
“Lo mau pulang?” Tanya Deva balik.
“Gue mau ke rumah sakit Shilla kayaknya opname Gue titip Bian” Ucap Ify cepat tanpa memperhatikan tanda baca kata yang diucapkannya sambil menyambar kunci jazz silver miliknya dan langsung mengemudikannya.

***

“Shilla gimana?” Tanya Ify yang baru datang. Sudah ada Agni, Sivia, Acha, Alvin, Gabriel, Cakka, Ozy, dan Obiet.
“Nunggu hasil Lab. Kak. Jadi untuk malam ini dia opname” Jawab Obiet.
“Kok bisa sih?” Tanya Ify.
“Keluhannya bagian pinggang belakang dia sakit Fy” Jawab Sivia.
“Loe udah pada liat?” Tanya Ify.
“Belom, baru mamanya Shilla” Jawab Acha.
“Loe kenapa dateng telat Fy? Loe yang ngabarin juga” Ucap Agni.
“Ada trouble dikit” Ucap Ify tanpa mengurangi nada cemas dari bicaranya.
“Tenang Fy, kayaknya Shilla gapapa” Ucap Alvin.
“Semoga” Jawab Ify tersenyum kecut.
Tak lama Mamanya Shilla keluar dari ruang tempat Shilla dirawat. Matanya sembab menandakan sudah lama menangis.
“Shilla gimana Tan?” Tanya teman-teman Shilla berbarengan.
“Shilla udah tidur, obat pengurang rasa sakitnya sepertinya berfungsi baik.” Jawab Mama Shilla memaksa tersenyum. “Kalian mau lihat dia?” Tanya Mama Shilla.
“Nanti aja deh tante biar Shilla istirahat dulu” Ucap Sivia. Yang lain mengangguk setuju.
“Gimana kalo tante makan dulu, biar kita yang jaga Shilla” Usul Alvin.
Mama Shilla menggeleng “Tante tadi udah makan sebelum Shilla dibawa kesini, kalian aja”
“Yaudah Ma, aku sama yang lain pamit makan dulu ya. Ga lama, nanti kita balik lagi” Ucap Obiet. “Yuk” Ajak Obiet.
“Gue tetep disini” Ucap Fyel barengan.
Yang lain saling berpandangan heran.
“Oke, mau mesen?” Tawar Agni.
“Ga usah untuk gue, kalian aja” Ucap Ify.
“Gue, teh manis hangat satu. Buat Tante Mia, lumayan buat nambah energi” Pesan Gabriel.
Yang lain hanya berpandangan, seakan berkata ‘kayaknya-pernah-denger’
“Okelah, cabut” Koor Alvin.

***

Ify, Gabriel, dan Mama Shilla duduk dalam diam, seperti tidak adanya lagi bahan pembicaraan menarik untuk membuka percakapan.
“Fy” Bisik Gabriel.
Ify menoleh “Apa?”
“Gue...”
“To the point kak, gue lagi buntu nih” Keluh Ify.
“Loe berantem ya sama Rio?” Tebak Gabriel.
Ify melengos “Kok bahas itu sih?”
“Loe buntu gara-gara cowok? Ada apa gerangan sistaaa?” Ucap Gabriel dengan nada sedikit menggoda dan menepuk puncak kepala Ify.
“Kakk......” Ucap Ify memelas. “Loe sebenarnya mau ngomong apasih?” Ucap Ify gemas kembali ke topik semula.
“Gak jadi” Ucap Gabriel tersenyum aneh.
Ify melengos lalu meninggalkan Gabriel dan berjalan kearah Tante Mia.
“Tante” Panggil Ify pelan.
Tante Mia mengangkat wajahnya “Kamu, sini” Ucap Tante Mia tersenyum sambil menepuk bangku disebelahnya.
“Sabar Ya Tan” Ucap Ify mengusap punggung Tante Mia.
“Ada kamu, Obiet dan temen Shilla yang lain, cukup membuat tante kuat kok” Ucap Tante Mia tersenyum getir.
Ify tersenyum.
“Kenapa ya? Kalo sakit biasa banyak banget rangkaian tesnya tadi. Ditambah tes lab pula” Tanya Tante Mia lebih kepada dirinya sendiri.
“Udah prosedur, yang penting nantinya Shilla cepet sembuh Tan” Ucap Ify menghibur.
“Amin” Doa Tante Mia. “Pacar kamu Fy?” Menunjuk Gabriel.
“Hah? Gak Tante, sahabat kecil aku” Jawab Ify.
“Kalian mirip, jangan-jangan jodoh lagi” Goda Tante Mia.
“Hehehehe tante bisa aja. Ya Ga lah” Ucap Ify, aslinya dalam hati udah ngakak ga jelas, Dia ama Gabriel mirip? Yaiyalah saudara !
“Oh ya, kamu kenal temen Shilla yang namanya.. siapa ya? Waktu itu pernah jemput Shilla” Tanya Tante Mia.
“Rio?” Tebak Ify.
“Iya, Mario kan?” Tanya Tante Mia memastikan.
“Iya, dia sahabat aku juga” Ucap Ify tiba-tiba rada malas.
“Kok dia gak kesini ya? Shilla waktu itu sumringah banget loe pas Rio jemput kerumah, Bangun lebih pagi dan lain-lain” Cerita Tante Mia.
Ify agak sedikit suprised ‘Jangan-jangan Shilla?... Ah ga, dia ga cerita kok’ Bathin Ify.
“Tadi Rio agak sibuk Tante, jadi ga bisa” Ucap Ify beralasan.
“Ohh” Tante Mia mengangguk-angguk mengerti.
“Buat Tante” Ucap Gabriel tiba-tiba sambil menyerahkan sebungkus Teh Manis hangat.
Tanpa disadari ternyata teman-temannya sudah kembali dari kantin.
“Makasih ya.. Emm..”
“Gabriel Tante, Panggil Iel” Ucap Gabriel sopan memperkenalkan diri.
“Makasih ya Yel” Ucap Tante Mia.
Akhirnya sambil menunggu Shilla mereka semua saling bercengkrama, berusaha menciptakan suasana hangat menutupi sebuah kecemasan yang ada.

***

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Ify memarkirkan jazz Silvernya dalam Bagasi rumah Rio. Sebenarnya dia merasa tak enak jika harus pulang selarut ini dirumah orang. Tapi dia lebih tidak enak lagi meninggalkan Mama Shilla sendiri saat teman-temannya pulang dari jam 8 malam tadi. Dering I-Phone putih miliknya menghentikan aktivitasnya untuk masuk kedalam rumah Rio.
“d’V-miLe ViaZizah myBff* calling”
“Iya Vi?”
“Loe udah sampe rumah belum Fy? Atau dirumah sakit? Besok sekolah, loe jangan balik malem-malem. Loe keliatan paling cape diantara kita semua? Loe....”
“Gue udah dirumah Rio kok Vi” Potong Ify.
“Kok loe balik kerumah Rio lagi? Loe nginep lagi?” Tanya Sivia.
“Permintaan Mamanya” Jawab Ify singkat, lumayan agak lelah hari ini dan menumpukkan tubuhnya ditiang depan pintu rumah Rio.
“Yaudah deh, loe cepet gih istirahat. Biar ga sakit, Nite ya”
“Iya.. Iya bawel -__- Nite too” Ucap Ify langsung mengakhiri sambungan telepon.
Ify menggelengkan kepala karena tingkat kebawelan Sivia.

***

Gabriel menatap rumah milik Ayah kandungnya, dengan sebuah keyakinan pasti sang ayah sudah tidur dikamarnya. Gabriel menatap Blackberry Bold miliknya.
“Kayaknya masih ada yang gue harus balikkin ke Papa besok pagi. Terpaksa balik kerumah deh” Gumam Gabriel sambil melempar-lempar kecil BB nya.

***

“Kok loe belum pada tidur sih?” Tanya Ify yang bertemu Deva dan Ray sedang asyik bermain PS diruang tengah.
“Gimana mau tidur, salah satu anggotanya belum pulang” Ucap Ray.
“Disuruh Kak Rio nih, dia tadi nungguin loe ampe setengah sebelas.. Ampe PS Ray dideportasi kesini” Ucap Deva.
“Sekarang orangnya mana?” Tanya Ify.
“Kayaknya tiduran di gazebo belakang” Jawab Ray.
“Oh, Bian?” Tanya Ify.
“Bian udah tidur. Kak Rio pesen, katanya loe langsung tidur aja. Coz dari tadi siang muka loe agak pucet” Ucap Deva.
“Sekarang juga deh kayaknya, stadiumnya nambah iya” Ceplos Ray sambil menatap Ify.
“Biasa aja. Gue keatas ya. Loe berdua tidur jangan begadang. Nite” Salam Ify.
“Nite too Sist” Ucap RayDev bareng.

***

Sesampai dikamar Bian, Ify menyingkap Tirai yang berhadapan langsung dengan gazebo dan kolam renang, menatap kearah belakang Gazebo. Ada Rio yang sepertinya memainkan gitarnya dengan asal. Ify kembali menutup rapat tirainya dan berjaln kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan piyama. Pendengaran Ify terganggu dengan adanya peraduan dari gerakan Air. Ify kembali menyingkap tirai dengan cepat. Ternyata peraduan air berasal dari arah kolam renang. Dan Rio sedang berenang didalamnya. Gila ! Ify menatap jam dinding yang mulai menunjukkan pukul setengah 12 malam. Dengan terburu-buru Ify segera menutup tirai dan melangkah cepat kearah gazebo.

***

“Ternyata orang egois punya nyawa banyak ya? Berenang tengah malam gini, apa sih yang ada dipikiran loe?” Tanya Ify sinis.
Seperti tak mendengar suara Ify, Rio masih asyik dengan kegiatannya sendiri.
“Loe denger gue ga sih. Naik sekarang. Ini mau tengah malem!” Bentak Ify.
Rio masih tak bergeming. Ify melepas sandal doraemon miliknya dan akhirnya ikut menceburkan diri ke kolam renang. Saat tubuhnya kepermukaan dirasakan hawa dingin menyergapnya, tapi segera ditahannya.
“Loe apaan sih Fy?” Ucap Rio sambil berenang mendekat kearah Ify.
“Loe yang apaan? Sadar ga sih loe bisa sakit karena ini?” Ucap Ify sinis.
“Peduli loe? Loe pikir loe engga apa?” Ucap Rio tak mau kalah.
Rio dan Ify sama-sama terdiam. Hening dalam pikiran masing-masing.

***

“Kakak loe ama kakak gue waras ga sih Dev? Berenang tengah malam gini kayak nyari wangsit” Ucap Ray asal.
“Hah serius loe Ray? Suara air dari tadi, itu mereka?” Tanya Deva yang langsung bangkit mengikuti Ray yang melihat dari jendela kamarnya.
“Gue pikir ada kuntilanak pengkolan atau gendruwo kurus berenang” Ucap Ray asal.
“Anjrit, omongan loe horor amat. Aduh, mana kak Ify kayaknya agak ga sehat” Ucap Deva cemas.
“Bukannya otak dia ga sehat” Cibir Ray.
Deva menoyor Ray, “serius dodol”
“Peace Bro, kayaknya kita bakal besanan” Ucap Ray.
“Kasian banget anak gue nanti punya om mirip pion catur kayak loe” Ucap Deva.
“Devaaa”

***

“Naik Fy, gue Cuma menjernihkan pikiran kok” Ucap Rio rendah pada akhirnya.
Ify menggeleng.
“Gue bilang naik Fy. Ntar loe sakit” Ucap Rio lagi.
“Kita sahabat kan? Berbagi bareng, ngerasin bareng. Biar gue ngerasain cara penjernihan pikiran versi loe” Ucap Ify santai.
Rio tak lagi menjawab. Memutuskan mengalah dan naik kepermukaan duluan. Lalu mengulurkan tangannya pada Ify. “Ayo naik” Ajak Rio.
Ify menerima uluran tangan Rio dan naik kepermukaan, masih duduk dipinggir kolam renang dan mencelupkan kakinya kekolam. Hingga ada sebuah handuk yang menyelimuti Ify.
“Eh...”
“Pake aja” Titah Rio yang sedang menenteng gitarnya. Dan mengikuti posisi duduk Ify. Ify menggeser duduknya lebih dekat kearah Rio dan menyelimutkan sebagian handuknya kearah punggung Rio yang sibuk menyetem gitarnya.
“Gausah Fy” Tolak Rio.
“Gue bilang kan? Berbagi bareng, ngerasain bareng. Pengen tau rasanya kalo diselimutin handuk gini setengah-setengah” Ucap Ify. Rio tak membantah dan asyik memetik gitarnya dengan asal hingga membentuk intro sebuah lagu yang familiar.
Melihat tawa mu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimatamu
Warna-warna indahmu

Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Sifatmu nan s’lalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Suara lembut Rio sepertinya benar-benar menghipnotis Ify saat ini. Ify hanya terdiam sambil memandang wajah Rio yang tidak berhenti tersenyum saat menyanyikan lagu tadi. Tak jauh berbeda, saat menyanyi tak hentinya Rio memandang lekat wajah manis Ify. Bahkan hingga lagu berakhirpun mereka masih diposisi bertahan dengan sebelumnya. Hingga sebuah angin malam berdesir halus menerpa kulit mereka yang basah.
Wushhh...
Rio dan Ify saling tersentak, tersadar dari dunia mereka dan langsung membuang pandangan.
‘Rasa itu ada lagi, nyaman dan berdetak hebat’ Bathin Ify mukanya sudah memerah sekarang membayangkan senyum Rio yang membuatnya sulit untuk tidak menggerakkan otot-otot disekitar mulutnya untuk tersenyum.
Rio sendiri malah melampiaskan dengan menyetem gitarnya secara asal. ‘Kira-kira tadi gue ada salah ngomong ga ya? Aduh Tuhan, jantung ini kayaknya udah mau move dari tempatnya’ Bathin Rio.
“Fy/Yo” Panggil RiFy berbarengan.
“Mm.. loe duluan aja” Ucap Rio kaku.
“Apasih? Kenapa jadi kaku gini” Ucap Ify sambil memainkan bola matanya agar tidak memandang kearah Rio sambil menggigit bawah bibirnya menahan dingin.
Rio nyengir sambil menggarukkan tengkuknya yang tidak gatal. “Loe duluan” ucapnya singkat.
“Mmm..” Belum sempat berkata Ify merasakan kepala agak sedikit berat.
“Kenapa Fy?” Tanya Rio yang menangkap reaksi aneh Ify.
Tanpa menjawab Ify menggeleng cepat.
“Kita masuk aja yuk. Muka loe juga pucet banget” Ajak Rio.
Sekali lagi tanpa menjawab Ify langsung bangun berdiri dan memaksa untuk berjalan dan akhirnya linglung sendiri. Dengan cepat Rio menyangga tubuh Ify sebelum jatuh.
“Gue bantu Fy” Ucap Rio.
“Pusing Yo” Ucap Ify singkat sambil sedikit memijat keningnya sebelum akhirnya semua gelap.

***

“Aduh lagian Mas Rio tuh ada-ada aja deh. Ngapain coba berenang tengah malem gini. Ngajak anak orang juga. Mba Ify dari tadi siang tuh cape ngurus semuanya. Baru pulang juga jam segini, aturan kan istirahat bukan diajak berenang dan bla.. bla.. blaa” Ocehan Bik Nah menghiasi kamar Rio saat ini. Bik Nah baru saja menggantikan baju Ify yang basah dengan piyama tidurnya, tidak lupa menyelimutkan selimut yang ada diatas tempat tidur Rio. Sedangkan Rio hanya berdiri disamping tempat tidur setelah mengganti bajunya.
“Anaknya keras kepala Bi, siapa juga yang mau ngajak, taunya dia berenang sendiri” Keluh Rio sambil duduk disisi tempat tidur.
“Makanya Mas, kalo sama cewek tuh ngalah dikit kenapa” Nasihat Bik Nah yang memang sudah mengurus Rio dan Ray sejak kecil jadi mengerti sifat majikkannya seperti anaknya sendiri.
“Ini juga udah ngalah, sama dia mah harus ngalah” Ucap Rio sambil menunjuk Ify dengan dagunya. “Tapi Ify gapapakan Bik?” Tanya Rio sedikit cemas.
“Gakpapa deh kayaknya, Cuma kecapean aja. Ini badannya panas juga efek berenang, nah tinggal kompres, udah bibi siapin” Jelas Bik Nah panjang lebar.
Rio mengangguk. “Bibi kalo mau istirahat, yaudah istirahat gih, Aku yang jaga Ify” Ucap Rio.
“Gapapa Mas? Mas Rio kan besok sekolah” Tolak sang Bibi.
“Gapapa kok. Toh gara-gara aku juga, tanggung jawab lah” Ucap Rio santai.
“Bener ya Mas. Bibik kekamar. Hati-hati Mas, anak gadis ini jangan diapa-apain” Pesan Bik Nah.
“Ya Ampun Bik. Yang ada saya diapa-apain ama dia kalo berani macem-macem” Ucap Rio geleng-geleng kepala heran.
Bik Nah nyengir “Kali aja Mas, Mba Ify cantik lho, pinter lagi, pasti tipe idaman” Ucap Bik Nah.
“Tapi nyolot, bawel sama keras kepalanya itu lhoo, ampunn” sanggah Rio.
“Manusiawi tau Mas, keras kepalanya itu justru yang buat Mba Ify menarik, buktinya baru dia cewek pertama yang Mas Rio bawa kerumah, nginep dirumah ini, tidur dikamar Mas Rio, terakhir kayaknya dulu Bibik pernah nanya apa kriteria cewek yang bisa ngambil hati Mas Rio, jawaban mas Rio waktu itu ‘Ambil dulu hati Bian, baru bisa ambil hati aku’”
Telak. Rio menelan ludahnya sendiri mendengar pernyataan terakhir Bik Nah.
Rio menggaruk belakang telinganya. ‘Ini nih efek main asal jeplak aja’ Bathin Rio.
“Bener kan Mas?” Tanya Bik Nah.
“Aduh  Bibi apasih? Mending sekarang Bik Nah istirahat aja, besok kan mesti bangun pagi berberes. Aku jaga disini. Janji ga akan ngapa-ngapain dia. Oke.. oke” Ucap Rio sambil mendorong-dorong (?) Bik Nah keluar kamarnya, saat ingin menutup pintunya, Tiba-tiba Bik Nah kembali muncul.
“Mas Rio mukanya merah” Ucap sang Bibik sampai akhirnya meninggalkan Rio yang mengacak (?) mukanya.
“Ininih efek kadang kelewat jujur ama Bik Nah” Gumam Rio sambil mengacak rambutnya.
“Tauah, mending tidur” Ucap Rio sambil menggeret sofa tanpa senderan dan mendekatkannya ketempat tidur lalu menyandarkan kepalanya disamping kepala Ify. (Ngerti ga? Jadi satu bantal berdua, tapi Ify ditempat tidur Rio disofa tanpa senderan tidurnya nyamping)
Sejenak Rio memandang wajah Ify yang tertidur, gurat lelah sangat tampak diwajah manis itu. Rasa bersalah menyergapnya, seandainya saja sifat keras kepala Rio tidak meningkat pasti dia bisa membantu gadis ini. Minimal ia dapat berbagi tugas dengan Ify.
“Maafin gue untuk hari ini ya” gumam Rio kecil sambil menyingkirkan rambut yang menerpa wajah Ify. Rio bisa merasakan tangannya menghangat saat menyentuh pipi Ify. Rio memutuskan untuk menunda tidurnya. Tetap dalam posisinya, wajah Ify darinya hanya berkisar hitungan centimeter. Rio masih tetap memandang wajah Ify, wajah sahabatnya atau mungkin kini telah berstatus sebagai pengambil hati miliknya. Merasakan setiap detak nyaman saat disamping gadis ini, baik saat sharing hingga debat saat berbeda pendapat. Baik saat kompak ataupun saat saling menjadi rival. Ada yang mengganjal saat ini, tidak mungkin Rio merusak persahabatannya dengan Ify dengan rasa yang telah dimilikinya kini. Apalagi mengingat Gabriel yang memang sahabat kecil Ify yang begitu dekat dengan Ify, pasti lebih mengetahui segalanya tentang Ify dibanding Rio yang hanya sahabat dari SMP.
“Gue harus gimana dong Fy?” Gumam Rio kecil. Ify agak menggeliat kecil dan membuka matanya, Rio tidak menyadarinya.
Saat mengangkat wajahnya tatapan Rio dan Ify bertemu, kali ini jarak wajah mereka tidak lebih dari 10 centimeter. Mungkin tadi tidak begitu bermasalah, karena Ify tertidur, sekarang? Ify ternyata terbangun, dan Rio sendiri malah terpaku diposisinya.
Ify memandang wajah Rio yang kini begitu dekat dengannya. Jantungnya sudah berdetak hebat tak karuan, bodohnya, Ify yang biasanya tenang dan bisa berpikir walau saat terdesak, sesaat pikirannya membuntu. Tatapan Rio sendiri seperti tanpa sengaja telah menguci matanya untuk tidak mengalihkan pandangan.

Pernahkah mendengar? jika ada sebuah emosi tdak bisa terungkapkan dengan kata maka geraklah yang akan bicara.

Tanpa diperintah perlahan wajah Rio mendekat kearah Ify. Ify yang tidak tau harus berbuat apa hanya dapat memejamkan matanya hingga sebuah suatu yang hangat dan lembab menyapu bibir manis miliknya.

Tersentak keduanya bersamaan tersadar dan langsung menjauhkan wajah masing-masing serta membuang pandangan. Rio bangun dari posisinya, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mencoba berpikir bagaimana dia bisa melakukannya tehadap sahabatnya sendiri? Nihil. Tak ada yang bisa menjawabnya kecuali hati kecilnya saat ini.
Ify sendiri tidak beda jauh, mencoba berpikir keras. Usahanya justru malah membuat kepalanya semakin berat.
“Maaf Fy” Ucap Rio canggung.
Ify menggeleng cepat tanpa menjawab.
“Gu.. Gue...”
“Bian dimana Yo?” Potong Ify cepat.
“Dikamar  biasa, ini loe dikamar gue. Mau kesana?” Tawar Rio.
Ify mengangguk dan berusaha berdiri lagi sendiri tanpa bantuan. Alhasil efek kepalanya yang memberat tubuhnya limbung lagi dan akhirnya ditangkap Rio.
“Gue bantu Fy” Ucap Rio sambil merangkul Ify.
Akhirnya mereka pindah kekamar Bian.

@Kamar Bian

Rio membantu Ify membaringkan tubuhnya disamping Bian.
“Gue aja yang tidur di sofa. Gantian sama loe” Ucap Ify.
“Loe mau makin sakit ya? Ga usah ngeyel deh. Gue yang tidur disana” Ucap Rio tak mau dibantah.
“Gantian tau, kan loe pemilik rumah. Lagian bikin badan sakit tau kalo tidur ditempat kayak gitu terus.” Ucap Ify.
“Ck, loe sakit aja masih ga mau kalah” Ucap Rio heran.
Ify terdiam.
“Oke, gue tidur sebelah kanan Bian, loe tidur sebelah kirinya. Gue janji ga akan macem-macem. I promise” Ucap Rio pada akhirnya.
Ify menatap Rio ragu, mengingat kejadian tadi.
“Gausah natap gue kayak gitu deh. Ga akan keulang kok. Ayo tidur udah jam 2 pagi nih” Ajak Rio sambil menyelimutkan tubuh Ify dan Bian lalu berjalan memutar untuk tidur disebelah Bian.
Tak bisa lagi membantah Rio yang menyaratkan ucapan yang tidak ingin disaut lagi. Ify akhirnya berusaha memejamkan matanya dengan senyum indah yang terukir dibibirnya kini.
Rio sendiri, masih belum memejamkan matanya, memandang wajah Ify jadi malah membuatnya susah tidur sendiri. Seakan takut kehilangan kesempatan untuk tetap kembali memandang wajah itu esok harinya. Perlahan matanya memberat, memaksa dirinya untuk berhenti memandangi Ify malam ini. Dan akhirnya lelap tertidur.

Cheers (;!!!

Trisil {}

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar