Gomenasai Anime Smiley trisillumination: That's All Cause Ify Part 19b

Selasa, 25 Desember 2012

That's All Cause Ify Part 19b


Taman dekat Rumah Acha

“Heuhhh, aku pikir jogging kali ini bakal seru” Keluh Acha sambil mengusap peluhnya
“Ga ada yang nyangka kali Cha, akan ada kejadian kayak tadi” Ucap Ozy sambil menepuk puncak kepala Acha.
“Tapi sebel aja Zy. Jadi kacau gitu” Ucap Acha sambil memanyunkan bibirnya.
“Iih jelek deh neng Acha kalau gitu” Ledek Ozy.
“Maunya gimana?” tanya Acha malas-malasan.
“Senyum” Jawab Ozy singkat sambil tersenyum manis.
Dengan terpaksa Acha mengikuti senyum laki-laki dihadapannya.
“Jangan terpaksa deh” Ucap Ozy.
“Bener-bener bad mood Zy” Ucap Acha sambil melengos.
Tanpa berkata apapun Ozy langsung berjalan meninggalkan Acha. Acha yang bingung hanya dapat berdiam diri sambil melengos tak karuan

***

Masih dilapangan yang sama. Agni, Ify dan Bian masih saja menghabiskan waktu pagi mereka disana untuk bermain basket.
“Oper Fy” Ucap Agni sambil mengancang untuk menerima bola. Ify melepar bola kearah Agni.
Hupp. Diterima bagus oleh Agni.
“Gitu caranya, Bian ngerti?” Tanya Ify.
Bian mengangguk ragu.
“Kenapa?” Tanya Agni yang melihat keraguan di wajah Bian.
“Gawangnya tinggi banget aku mana sampe?” Tanya Bian polos.
Sontak Agni dan Ify terkekeh.
“Gini ya” Ucap Ify sambil mensejajarkan tingginya dengan Bian. “Kamu emang ga sampe. Tapi Kak Agni dan Kak Ify sampe. Jadi kita kerja sama untuk masukkin ke ring basket diatas sana” Ucap Ify sambil menunjuk Ring yang berada kurang lebih 3 meter diatas tanah.
Agni mengangguk mensetujui. Bian tersenyum sumringah.
“Ayo, kita main lagi. Masukkin bola bareng-bareng” Ajak Bian mengoordinir Ify dan Agni yang langsung berlari bebas menjauh sambil mengambil posisi.
Permainan satu grup itu dimulai. Dari Bian yang memulai melempar bola kearah Ify. Yah walau tidak begitu baik dan bisa dibilang melenceng tapi masih dapat diterima baik oleh Ify. Ify mulai membaginya kearah Agni. Diterima Agni dan langsung saja dishoot dari daerah three point.  Masuk. Bian tersenyum senang dan bertepuk tangan. Ify dan Agni ikut tersenyum senang. Dan akhirnya Ify dan Agni memutuskan untuk beristirahat dipinggir lapangan. Sedangkan Bian masih memainkan bola secara asal di pinggir lapangan juga.
“Ademmm” Ucap Ify setelah meminum air mineralnya dan mulai mengatur napasnya.
“Fy tadi elo...” Ucapan Agni menggantung.
“Tadi gue kenapa?” Tanya Ify penasaran.
“Hah? Ga, maksud gue tadi elo. Emm bukan maksud gue. Gue pikir loe bisa deket sama Bian demi Rio. Ternyata memang dia anak yang menyenangkan ya?” Ucap Agni cepat dalam satu tarikkan nafas.
Ify diam. Mencoba berpikir dan mencerna semuanya. “Sangat menyenangkan dia” Ucap Ify singkat.
“Bian atau abang sepupunya?” Goda Agni.
“Apasih loe. Bian lah” Jawab Ify sambil tersenyum.
“Yehh, gue pikir. Abis loe berdua tergolong deket sih untuk pertemuan singkat” Ucap Agni. Ify nyengir.
“Jadi kebayang beneran loe jadi ceweknya Rio dan jadi kakaknya Bian beneran” Ucap Agni mengandai.
“Agni apaan sih?” Rajuk Ify.
Agni ngakak. “Muka loe merah Fy” Ledek Agni.
Ify menutup mukanya “Iih, efek kepanasan tau” Ucap Ify ngeles (?)
“Masih jam 9 dodol masa iya semerah itu” Ucap Agni sambil melihat jam sport dipergelangan tangannya.
Ify nyengir.
“Nyengir mulu, behel silau tuh” Ucap Agni.
Ify ngakak. “Lagian ngeselin banget sih bayangan loe” Ucap Ify.
“Oh jadi ga mau sekedar bayangan? Mau beneran?” Ucap Agni makin jadi.
“Loe mau beneran sama Cakka Ag?” Tembak Ify telak mengalihkan pembicaraan.
“Kok jadi gue yang kena?” Tanya Agni.
“Tadi loe sebenernya mau nanyain tentang Caka yang tadi kan ke gue? Tapi malah ngalihin  dan akhirnya mojokkin gue. Ya kan?” Tebak Ify.
“Segitu keliatannya Fy” Ucap Agni melengos. Ya, hanya kepada Ify memang Agni tak bisa berbohong.
“Muka loe kayak di mix kesel, marah, cemburu dan melas gitu tau” Ucap Ify seenaknya.
“Enak aja, emang muka gue Pop Ice apa?” Ucap Agni menoyor Ify.
Ify nyengir. “Sebenernya kenapa loe kayak gitu ke Cakka sih Ag? Dia bener mau berubah demi loe loh” Ucap Ify.
Agni menggeleng. “ Gue juga ga tau Fy, disatu sisi gue emang mau menjauh dari dia buat Oik. Karena gue yakin Oik masih suka Cakka. Tapi disisi lainnya hati gue menolak itu semua” Ucap Agni tertunduk.
“So?” Tanya Ify.
Agni menatap bingung.
“Life must go on girl ! ga perlu loe ungkit apa yang udah lewat. Sekarang coba perhatiin sikap Oik ke Cakka gimana. Apa mereka...”
“Mereka berdua masih sering teleponan Fy” Samber Agni, sambil mengingat bagaimana ia tidak sengaja mendengar percakapan Oik dan Cakka.
“Hey, gimana kalo itu tujuannya buat nanyain loe, biar Cakka bisa deket lagi sama loe?” Ucap Ify sumringah.
“Mimpi loe ketinggian” Ucap Agni. “Udah 3 hari Cakka ga sms ataupun missed call lagi” lanjutnya.
“Hayooo, loe kangen yaaa” Goda Ify.
“Ify apaan sih” Ucap Agni sambil memukul pelan tangan Ify. Ify tergelak.
“Puas banget gue Ag. Pokoknya gue pesen apapun yang terjadi loe mesti tetap berpikir positif. Coba move on dan lupain semuanya. Gue yakin loe tau apa yang terbaik buat loe, adek loe, dan Cakka.” Ucap Ify sambil bangkit berdiri.
“Sipp. You always understand and made me better” Ucap Agni sambil tersenyum lepas.
“Untuk sahabat selalu” Ucap Ify sambil merangkul Agni yang ikut berdiri.

***

“Widihhh ademmm” Ucap Oik sumringah sambil merentangakan kedua tangannya. Kedua matanya terpejam. Merasakan berbagai euphoria sejuk yang ada disekelilingkan. Tidak jauh berbeda seperti Oik, Obiet merelaksasikan dirinya dengan mata terpejam dan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celananya.
“Ini nih yang paling gue suka saat jalan-jalan. Ketemu tempat tenang.” Ucap Oik entah pada siapa.
Obiet membuka kedua matanya mendengar ucapan Oik.
“Serasa semua beban lepas ya?” Tanggap Obiet.
“Dan ga pernah ada masalah” Ucap Oik lirih dibagian terakhir.
“Kenapa? Masalah Kak Cakka ya?” Tebak Obiet.
Oik memandang Obiet, dan sedikit mengangguk. “Gue, gue ngerasa bersalah sama Kak Cakka dan Kak Agni. Bodoh banget ya gue?” Tanya Oik.
“Menurut loe? Kalo loe sendiri aja ga bisa lepas dari bayang rasa bersalah loe gimana mau nyelsain masalah ini. Loe mesti move on dulu. Fokus terhadap satu permasalahan. Baru berlanjut kemasalah lainnya” Nasihat Obiet.
“Tapi gue terlalu pusing tau ga? Ini semua terlalu bersamaan.” Keluh Oik.
Obiet berjalan mendekat kearah Oik, meraih kedua bahu Oik dan menghadapkan padanya. Memandang lekat wajah manis Oik dan berkata “Tenang, hadapi semuanya dan loe bisa selesaikan secara perlahan” dan menepuk puncak kepala Oik pelan.

***

Sudah setengah jam berlalu sepeninggalnya Ozy. “Aduh, kayaknya Ozy beneran ngambek nih. Gimana dong?” Gumam Acha panik.
“Aah, bodolah, lagian ga ngerti amat mood orang” Gumam Acha lagi –plinplan-
Sedang asyiknya bergumam ria. Acha merasakan sesuatu yang dingin menempel dipipinya, langsung saja aja menepisnya kasar.
“Hupp, untung ketangkep ga jatuh” Ucap Ozy disertai cengiran lebarnya dan menenteng kantong kresek hitam yang tadi ditempelkannya di pipinya Acha.
“Itu apa sih Zy. Dingin tau ga” Sewot Acha.
“Wah, mood kamu jelek banget sih Cha dari pagi” Ucap Ozy heran.
“Abis, udah jogging gagal, kamu dari tadi ngilang. Lama lagi aku ditinggal sendirian kayak sapi ompong. Muncul tau-taunya bawa benda ga jel.....” Kebawelan Acha terpaksa terhenti karena Ozy mencium pipi kirinya.
“Eh” Ucap Acha kaget sambil memegang pipi kirinya. Wajahnya sudah bersemu merah.
“Bawelnya Ify nempel di kamu ya sekarang? Tadi aku pergi buat cari benda supaya kamu ga bad mood lagi tau” Ucap Ozy sambil merogoh kantong yang tadi dibawanya dan mengeluarkan Ice Cream Sweet Heart Strawberry dari dalamnya.
“Nih liat deh, muka kamu kayak Ice ini tau. Merah jambu, Cantik” Ucap Ozy tulus.
“Ozy gombal deh” Ucap Acha sambil membuang mukanya yang semakin merah dan senyam-senyum ga jelas.
“Tapi Achayankk suka kan?” Goda Ozy.
“Ozy berhenti deh, muka aku beneran panas tau” Rajuk Acha sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Jangan ditutup” Ucap Ozy manja sambil menarik tangan yang menutupi wajah Acha. “Ntar aku kehilangan waktu buat terus mandangin wajah kamu” Gombal Ozy makin jadi --‘
“Ozyyyy”

***

Selesai membersihkan diri dari jogging pagi Ify langsung memasak untuk makan siang yang diiringi dengan celotehan Bian. Sekarang Ify agak sedikit bersantai dengan Bian. Karena dari pulang jogging tadi dia belum bertemu dengan Rio.
“Kak Rio mana ya kak? Tadi kok pulang duluan sih?” Tanya Bian.
“Mungkin, Kak Rio main kerumah temennya.” Jawab Ify seadanya karena merasa agak lelah.
“Tapi kan tadi pas Kak Rio pergi, temen-temennya masih lengkap dilapangan” Argumen Bian polos.
“Kakak ga tau sayang, nanti kalo Kak Rio pulang kita tanya aja ya?” Jawab Ify.
Bian mengangguk-angguk mengerti.
“Kak, diruang atas deket kamar Kak Rio ada Piano punya Tante Manda Kak. Kak Ify bisa maenin kan? Ajarin aku dong” Pinta Bian.
Entah kenapa setelah mendengar kata Piano Ify langsung berbinar lagi.
“Oke, kita keatas” Ajak Ify bersemangat.

@Ruang Piano.

Seperti biasa, Ify mengusap perlahan permukaan Grand Piano itu dan memulai pemanasan dengan instrument Moonlight milik Beethoveen dengan sempurna.
“Wawww.. Kereeenn” Puji Bian sambil meng’O’kan mulutnya sambil memegang kedua pipi chubbynya.
“Makasih sayangg” Ucap Ify.
“Ajarin aku yah Kak. Yah.. Yah.. Yah.. Pleasee” Mohon Bian.
Ify mengangguk dan tersenyum manis sambil menggeser duduknya agar Bian bisa duduk disebelahnya.
“Jadi kita mulai dari mana?” Sambut Bian.
“Kita mulai...” Jawab Ify sambil menerangkan beberapa chord kunci dalam piano dasar dan mengenalkan nada-nada yang mudah sehingga sapat dicerna Bian secara cepat.
“Bian ngerti?” Tanya Ify.
Bian mengangguk semangat. Paham.
“Kita coba yaa. Kita duet. Kak Ify di nada, Bian di Kuncinya dulu. Nanti tukeran, terus selanjutnya Bian coba dua-duanya. Siap?” Tanya Ify.
“Siap” Ucap Bian mantap.
Akhirnya Ify dan Bian mencoba berduet langsung pada bagian reffnya.

Andaikan aku punya sayap..
Ku kan terbang jauh..
Mengelilingi angkasa..
Kan kuajak, ayah bundaku..
Terbang bersamaku..
Melihat indahnya dunia..

Prok.. Prok.. Prok..

“Sempurna. Bian hebatt” Puji Ray yang baru pulang bersama Deva.
“Kak Ify ga ada matinya, mantap gann” Ucap Deva.
“Sapa dulu gurunya” Ucap Bian bangga.
“Amazing mamen, anak umur 5 tahun bisa maen sekeren tadi. Loe guru yang baik kak” Ucap Ray.
“Thanks Ray” Ucap Ify.
“Kak Rio belum pualng kak?” Tanya Deva.
“Gue sih belum ketemu” Jawab Ify.
“Dikamar kali Kak” Ucap Ray.
“Mungkin” Jawab Ify singkat.
“Loe marah kak?” Tanya Ray.
Ify menggeleng, “Emang face gue menggambarkan gue ambekkan ya kayak abang loe?” Tanya Ify balik.
Ray nyengir “Tampang loe ngeselin sih kak jadi gue ga tau” Ucap Ray santai sambil kabur dari ruang musik.
“Rayyy.. Jangan makan siang loee” Teriak Ify geram.
“Wedeh selaww kak, muka loe rada pucat. Sakit loe?” Tanya Deva.
“Hah? Ga. Rada cape aja kali ya. Coz gue belum istirahat dari pagi” Jawab Ify.
“Oh yaudah, loe istirahat gih, Bian biar sama gue” Ucap Deva.
“Ahh, gamm..”

She’s not a saint and..
She’s not what you think..
She’s an actress.. whoaa..
She’s better known..
For the things that she does..
On the mattress.. Whoaa..

Ify memandangi I-Phone putih miliknya yang terdengar nada panggil dengan tulisan tertera discreen.
“Mama Manda”
Calling
Ify langsung menekan tombol hijau, dan mendekatkan I-phone nya ketelinganya,
“Hallo, Kenapa Ma?” Tanya Ify.
“Hallo Ify, gini Fy. Berhubung usaha Tante yang di Manado lagi ada sedikit problem nih Fy. Kayaknya terpaksa Tante hari ini ga pulang, mungkin lusa. Kamu bisa ga nginep lagi sehari. Sama Deva juga. Besok kamu berangkat sekolah bareng Rio dan Ray aja. Gimana?” Jelas Mama Manda.
“Emm, Gimana ya Ma? Oke deh. Tapi besok Bian Gimana?” Tanya Ify.
“Nanti sore Bik Nah pulang kok. Jadi besok Bian sama Bik Nah” Jawab Mama Manda.
“Oke kalau gitu. Ada pesan lagi?” Tanya Ify.
“Ga deh, itu aja, nanti Mama juga bilang Rio, maaf ya ngerepotin kamu lagi” Ucap Mama Manda.
“Oke, Gak kok Ma, hati-hati ya”
“Iya, makasih. Sampai nanti sayang”
“Sampai nanti juga Ma” Ucap Ify sambil mengakhiri percakapan.

“Heuuhh, hari ini aja hubungan gue ga baik ama Rio, tapi mesti sehari lagi” Gumam Ify.
“Kenapa Kak?” Tanya Deva yang masih ditempat.
Ify menjelaskan tentang pembicaraannya dengan Mama Manda.
“Yess, bisa begadang lagi gue sambil maen PS ama Ray” Ucap Deva.
Ify melotot, “Enak di elo ga di gue” Ucap Ify sewot.
“Tabah ya kakak cantik” Ucap Deva sok prihatin.
“Rese loe, mending sekarang loe balik kerumah ambil baju seragam gue buat besok. Bialng ama orang rumah kita nginepnya injury time” Titah Ify.
“Sippo Bos” Ucap Deva semangat sambil berjalan keluar dari Ruang Musik.

Sepeninggal Deva
“Kak, Bian ngantuk nih, tidur siang yuk” Ajak Bian sambil menutup mulutnya yang baru menguap.
“Ayo” Jawab ify sambil menggandeng Bian kekamarnya.

Tanpa sepengetahuan yang lain. Ada seorang pemuda yang menarik senyum mendengar alunan nada dari piano tadi dan suara salah satu pianisnya dari Kamarnya. Rio.

***

“Shillaa.. Shilla.. makan siang dulu sayangg” Panggil sang mama sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar anak sulungnya.
“Shilla.. bangun dulu yuk” Panggil sang Mama lagi.
“Siang Ma, Ngapain Ma?” Tanya Obiet yang baru pulang.
“Eh, ini Biet. Kakakmu pulang jogging langsung kekamar, belum sarapan juga dia. Bantu Mama bangunin dong” Pinta sang Mama.
“Kamarnya dikunci?” Tanya Obiet.
“Iya nih. Mama bingung. Tumben aja” Jawab sang Mama.
‘Apa gara-gara dibentak Kak Rio tadi ya?’ Bathin Obiet. Obiet menggedikan bahunya menjawab pertanyaannya sendiri.
“Kak, Kak Shilla. Bangun Kak” Panggil Obiet sambil mengetuk pintunya.
“Tadi pas Kak Shilla pulang ada yang aneh ga?” Tanya Obiet.
Sang Mama seperti mencoba memflashback ingatannya.
“Tadi pas pulang langsung ngucap salam, trus langsung kekamar. Udah gitu doang” Jawab sang Mama.
Obiet manggut-manggut. “Kunci cadangan aja Ma” Saran Obiet.
Sang Mama menepuk jidatnya “Kenapa ga dari tadi sih kamu pulang” Keluh sang Mama.
Obiet nyengir. “Yee, si Mama. Mama yang pegang itu kunci mama yang lupa” Ucap Obiet tak mau kalah.
Tanpa berkata lagi sang Mama masuk dalam kamarnya yang berada disamping kamar Shilla, dan keluar lagi sambil membawa kunci ditangannya yang dibuat untuk membuka pintu kamar Shilla.
Ketika pintu terbuka. Tampaklah Shilla yang tertidur dilantai kamarnya.
“Shilla” pekik sang Mama yang lagsung menghampiri Shilla diikuti Obiet.
“Angkat ketempat tidur Biet” titah sang Mama. Obiet menyanggupi dan membopong tubuh Shilla keatas tempat tidur.
“Shill?” Panggil sang Mama sambil menepuk-nepuk pipi Shilla yang agak panas.
“Mama tenang dulu dong” Ucap Obiet.
“Gimana mau tenang, Kakak kamu tiba-tiba badannya panas gini juga” Ucap sang Mama.
Obiet diam.
“Shill.. Shilla sayangg” Panggil sang mama. Masih dengan gerakan yang sama.
Perlahan mata Shilla terbuka lemah.
“Shilla, kamu kenapa sayangg?” Tanya sang Mama bersemangat ketika mengetahui Shila terbangun.
“Sakit Ma, sakitt” Ucap Shilla lirih sambil memegangi pinggangnya.
“Kenapa sayang?” Tanya sang Mama sambil mengusap pinggang Shilla.
“Sakit Mama.. Sa-kit..” Ucap Shilla terbata, bahkan butiran bening sudah meluncur bebas dipipinya.
“Kita kerumah sakit ya? Obiet Siapin Mobil” Ucap sang Mama.
Tak ada jawaban dari Shilla kecuali rintihannya. Dan tanpa menjawab lagi. Obiet langsung bersiap dan menyiapkan mobil lalu membawa Shilla kerumah sakit.

***

CKIITTT.. Bunyi Ban motor yang beradu dengan aspal memenuhi jalan yang lengang ini. Alvin –sang pengendara- langsung mengerem cagiva secara mendadak hingga membuat tubuh Sivia bertubrukan dengan tubuhnya. Tapi tak ada protes seperti biasanya. Alvin menengok kebelakang tampak ekspresi wajah Sivia yang mensaratkan ketakutan.
“Well, kayaknya untuk kedua kalinya gue buat loe takut dengan tingkah gue” Ucap Alvin.
Sivia tidak menjawab. Malah menunduk. Akhirnya Alvin memutuskan meminggirkan cagivanya dan turun sambil mengajak Sivia duduk dibangku taman tak jauh dari cagivanya terparkir.
“Gue rasa gue ga perlu jelasin lagi” Ucap Alvin memulai percakapan.
Sivia menoleh. “Maaf, gue...”
“Ck, hoby loe minta maaf ya? Loe ga salah tau” keluh Alvin.
“Tapi gue kan..”
“Sssstt” Ucap Alvin menghentikan pembicaraan Sivia dengan menempelkan telunjuknya di bibir Sivia. “Lo ga salah oke? Maaf gue tadi buat loe takut. Dengan ngebut diatas kecepatan rata-rata. Lain kali loe pegangan aja” Ucap Alvin.
“Itusih mau elo” Ucap Sivia manyun.
Alvin tersenyum dan mengacak poni Sivia gemas.
“Yee, banyak tau cewek yang ngantri untuk mendapat kesempatan itu. Loe gue tawarin Cuma-Cuma juga” Ledek Alvin.
“Kalo gitu tawarin aja cewek lain” Ucap Sivia.
“Gue maunya elo” Ucap Alvin asal. Namun cukup membuat perut Sivia tergelitik dan pipinya bersemu.
“Nyeh, terbang nih anak” Ucap Alvin.
“Apaansih” Ucap Sivia salting.
Alvin tersenyum puas mengacak puncak kepala Sivia.
“Tentang keluarga loe?” Tanya Sivia kembali ke topik awal.
Air muka Alvin mendadak berubah kecut.
“Eh, tapi kalo loe ga mau cerita gapapa kok. Serius gue ga maksud...”
“Gausah panik lagi, kesannya muka gue serem banget” Potong Alvin kepada ucapan Sivia dengan nada panik.
Sivia nyengir “Gue takut loe ngamuk tau” Ucap Sivia.
Alvin menggeleng heran “Loe ga ada sangkut pautnya, ngapain gue ngamuk ke elo” Cibir Alvin.
“Ieuhh, yang dulu?” Tanya Sivia.
“Itukan dulu, loe belum tau, gue juga rada labil. Beda tau” Ngeles Alvin.
Sivia manggut-manggut. “Mau berbagi?” Tawar Sivia.
Alvin memutar bola matanya. “Kenapa ga?” Ucap Alvin akhirnya menceritakan bagaimana keadaan keluarganya.

***

“Oh, jadi selama ini kamu bohongi Papa, Yel?” Bentak sang Papa.
“Bohong dari sisi mana?” Ucap Gabriel santai.
“Kamu tidak pernah cerita jika kamu sudah bertemu dengan mereka lagi?” Ucap sang Papa masih tidak mengurangi intonasi bicaranya.
“Papa peduli? Ga penting juga kan?” Ucap Gabriel seenaknya.
“Menjauh dari mereka atau kita kembali ke Spore” Bentakan dengan nada otoritas tak ingin dibantah.
“Ga akan. Dan ga pernah” Ucap Gabriel tegas.
“Baiklah, silahkan tinggalkan rumah ini. Tinggal bersama mereka dan terpaksa Papa cabut semua fasilitas kamu”
“Well, ini aku kembaliin. Dan aku akan merasa hutang budi untuk itu” Ucap Gabriel mantap karena merasa Papanya sudah keterlaluan. Sambil menaruh kunci cagiva dan mobil fortuner miliknya serta dompet miliknya Gabriel berjalan kearah kamarnya untuk membereskan baju-bajunya. Satu tempat yang ditujunya kini. Rumah Ify.

***

Ify sedang sibuk mengerjakan PR Kimianya untuk senin besok di Gazebo pinggir kolam renang. Biasanya saat mengerjakan Kimia Ify sering meminta Rio membantunya, berhubung Rio memang jago dalam bidang ini. Tapi disaat seperti ini tentu saja Rio tidak bisa diharapkan, bertemu saja sudah bertatap sinis bagaimana mungkin untuk saling bicara. Dari ekor matanya Ify melihat Rio yang berjalan kearahnya dan langsung duduk dihadapan Ify dengan membuang pandangan.
“Mau ngapain?” Tanya Ify to the point malas berbasa-basi karena memang kepalanya sudah mumet dengan masalah ditambah PR Kimia yang bertumpuk.
“Cuma duduk” Jawab Rio singkat.
“Oh, masih ada juga orang egois yang berani duduk depan gue” Ucap Ify.
“Sorry, loe bilang gue egis dari sisi mana ya? Sadar ga sih ego loe juga tinggi” Ucap Rio dingin.
“Seenggaknya gue masih bisa mengendalikannya” Ucap Ify tak mau kalah.
“Come On, gue ga marah sama loe. Kenapa loe sinis gitu sih” Ucap Rio.
“Loe marah sama sahabat gue. Pikir dong Yo kalo ngomong. Gimana perasaan Shilla saat loe bentak dia kayak tadi” Ucap Ify.
Rio menggelengkan kepala heran. “Wajar gue marah”
“Tapi dia ga tau apapun tentang Bian” Ify kembali berargumen.

“Tapi gue rasa dia tau cara dia bertanya dengan lebih sopan” Ucap Rio sarkatis.
Baru saja Ify mau membalas ucapan Rio. Konsentrasinya terpecah saat dering menandakan sms masuk ke I-Phone nya.
--------------------------------------
From : Obiet
--------------------------------------
Kak, Kak Shilla masuk
RS GabShivers..
Bisa kesini?
Kabarin temen loe yang laen..
Thx
-------------------------------------

Ify langsung buru-buru memforward sms nya ke temannya yang lain.
“Omongan kita belum selesai Fy” Ucap Rio back to the topic.
“Shilla masuk Rumah sakit, gue mau kesana. Loe ikut ga?” Tanya Ify langsung.
“Gue...................”

Cheers (;!!!

Trisil {}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar