Gomenasai Anime Smiley trisillumination: Desember 2014

Senin, 22 Desember 2014

Ibu, Selamat hari IBU..



Assalaamu'alaikum..
Selamat Malam Ibu.. :D
Apa kabar hari-hari tenang disana?

Ibu,
Semakin banyak jumlah hari tanpa cerita,
Dan makin banyak hitungan malam tanpa bersua dengan Ibu sebelum buaian mimpi yg menutup hari..

Ibu,
September lalu, genap 16 tahun sudah kepergian mu..
Masih membekas keseluruhannya, kepergian tanpa pamit dan tidak adanya kesempatan melihatmu untuk terakhir kalinya..
Dan jika itu bisa disebut sebagai sebuah kenangan, aku akan berusaha terus menerimanya..
Menerima untuk tetap bisa mengingatnya..
Sekecil apapun..
Sepahit apapun..
Karena hanya dengan itu, Ibu tetaplah ‘ada’..

Ibu,
Mungkin aku bertumbuh tidak sesuai harapan Ibu..
Mungkin aku tidak menjadi seseorang yang Ibu dambakan seperti di masa kelahiranku..
Maaf Bu..
Bahkan aku tidak mengetahui segala harapanmu..
Aku tidak tahu apa yang Ibu dambakan seperti apa kelak aku di masa depan..
Segala harapan yang tidak sempat Ibu ucapkan langsung kepadaku..

Ibu,
Pernah aku begitu marah kepada mu..
Marah kepadamu yang meninggalkan aku tanpa sempat mengajarkan apapun..
Tanpa sempat mengenalkanku lebih jauh mengenai seluruh isi dunia..
Namun setelahnya aku sadar, jika aku telah salah..
Ibu mengajarkan yang lebih besar dari itu semua..
Ibu mengajarkan yang belum tentu Ibu lain ajarkan kepada anak lainnya diusia yang sama..
Ibu mengajarkan sesuatu yang lebih dari itu dengan cara Ibu sendiri..

Kehilangan..

Ibu,
Dengan cara itu Ibu mengajarkanku untuk melepas..
Dengan cara itu Ibu mengajarkanku untuk selalu ikhlas..
Dengan cara itu Ibu mengajarkanku untuk menerima..
Dengan cara itu Ibu mengajarkanku untuk belajar berdiri terus diatas dua kaki ku sendiri..
Berdiri tanpa topangan dari Ibu agar aku mampu belajar tertatih untuk berjalan, sampai akhirnya aku bisa berlari..
Hingga dengan apapun yang ada didepanku kelak, aku tidak akan tersakiti lebih dari rasa sakit saat kehilangan Ibu dulu..

Dan Ibu berhasil..

Ibu,
Orang bilang tidak ada manusia yang sempurna..
Begitu pun untukmu.. juga untukku..
Tapi rasa memiliki dari kita satu sama lain lebih dari sempurna dari apa yang aku tulis disini..
Ketika Ibu melahirkan aku, dan aku pertama kali memanggil dirimu, Ibu..
Aku tidak bisa mengingat lagi masa itu..
Tapi aku bisa merasakannya..

Ibu,
Terlahir menjadi putri satu-satunya dan menjadi terakhir seharusnya bisa menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri ya?
Mungkin tidak untukmu, tapi menjadi hal istimewa untukku..
Karena aku tau Ibu menyayangi semua anak-anak Ibu..

Ibu,
Saat ini aku sudah berumur 20 tahun..
Kenangan bersama dirimu bahkan tidak sampai 1/5 dari umurku sekarang..
Dan akan terus tergerus, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia ku..
Sekecil apapun itu..
Sepahit apapun itu..
Meski harus kembali menjadi seperti anak kecil yang menangis karena kehilangan mainan saat mengingatnya..
Yang aku usahakan saat ini adalah, aku tidak ingin melupakannya..

Ibu,
Hari ini 22 Desember 2014, artinya sudah 17 kali tanggal ini terlewatkan setelah ketiadaanmu..
Orang-orang bilang hari ini adalah Hari Ibu..
Orang-orang tertentu mengatakan, bahwa setiap hari adalah hari Ibu..
Dan tanpa ragu aku mengatakan, hanya saat aku mengingatmu itulah yang aku katakan sebagai Hari Ibu..

Ibu,
Pada tanggal ini aku selalu melihat disekelilingku orang-orang yang mengucapkan Selamat Hari Ibu kepada Ibu mereka..
Di media social, aplikasi chat, ataupun dengan membuat penulisan seperti aku saat ini..

Ibu,
Apakah jika kita benar-benar menyayangi seorang Ibu, kita harus mengatakannya secara langsung?
Apakah aku tidak boleh mengumbar kepada orang lain tentang perasaan aku kepada mu?

Ibu,
Aku juga ingin mengatakan secara langsung jika aku menyayangi mu. teramat sangat menyayangimu..
Tapi aku tidak memiliki kesempatan itu..
Hingga keinginan untuk berbagi tentang rasa sayangku padamu kepada orang lainpun terasa begitu sulit..
Karena aku tidak memiliki foto bersama mu seperti anak-anak lain yang bisa memamerkan foto kebersamaan bersama Ibu mereka..
Karena aku tidak memiliki cerita tentang waktu kebersamaan kita yang bisa aku ceritakan kepada yang lainnya..

Karena waktu kita begitu singkat..
Waktumu Sangat Singkat..

Ibu,
Jika ada hal yang begitu aku sesalkan adalah..
Dimana aku tidak diberi kesempatan untuk bisa membalas segala yang sudah Ibu berikan kepadaku, meskipun hanya dengan segelas air putih yang aku beli dari uang hasil keringatku..
Dimana waktu Ibu sangat sedikit, sehingga Ibu tidak bisa melihat aku untuk menjadi sama sepertimu..

Seorang Ibu..

Ibu,
Setiap untai Do’a yang biasa kupanjatkan terkadang tidak bisa meredam semuanya..
Do’a yang selalu aku tunjukkan kepada Dia yang selalu mengerti bahasa dalam tetes air mata..
Maaf jika aku masih suka lalai dalam mendo’akanmu..

Ibu,
Aku membuat ini semua karena, selain do’a yang bisa kuminta kepada Yang Maha Kuasa..
Hanya dengan cara ini aku bisa menunjukkan jika aku juga memiliki Ibu seperti yang lainnya..
Hanya dengan cara ini aku ingin berterimakasih kepadamu karena melahirkanku..
Hanya dengan cara ini aku bisa menunjukkan bagaimana aku begitu kagum padamu yang masih memberiku ASI dikala sakitmu..
Hanya dengan cara ini aku bisa menunjukkan bagaimana aku begitu menyayangimu..

Ibu,
Ada yang bilang jika Hari Ibu dibutuhkan hanya untuk mereka-mereka saja yang memiliki Ibu..
Tapi aku tau, sejatinya semua orang memiliki Ibu kan?
Ada atau tidaknya Ibu disamping seorang anak..
Meskipun mereka sudah menjadi seorang kakek dan nenek dengan banyak cucu sekalipun..
Mereka tetap dilahirkan dari rahim seorang Ibu kan?
Aku masih butuh hari Ibu, jika moment ini membuatku selalu mengingatmu..

Ibu,
Selamat hari ibu..

Malam ini, kembali aku titipkan salam rindu kepadamu.



Wassalaamu’alaikum..


Anakmu yang selalu mengingat dan menyayangimu..
Tri Susilowati