Lumos Maxima!! Happiness can be found even in the darkest of times, if one only remembers to turn on the illuminate - Albus Dumbledore, Trisil's student
Selasa, 25 Desember 2012
That's All Cause Ify Part 37a
***
Malam dengan hiasan kerlip bintang yang hanya berbentuk titik kecil tidak membuat hati Rio menjadi lebih baik. Semilir angin malam justru malah membuat tenggorokannya kering dengan segala macam permasalahannya akhir-akhir ini. Mencoba menenangkan pikiran, Rio beritikat untuk mengambil segelas air putih untuk menyegarkan tenggorokannya sekaligus menjernihkan pikirannya.
Saat membuka pintu kamar. Tepat bersamaan dengan Ray yang sepertinya baru pulang dari kegiatannya hari ini.
“Ray” Sapa Rio.
Ray hanya menanggapi dengan gumaman.
“Dari mana loe?” Tanya Rio sambil memperhatikan Ray yang masih memakai celana sekolah dengan atasan kaos biasa.
“Rumah Deva” Jawab Ray.
Rio tersentak. Nama Deva yang justru terucap dari ucapan Ray malah justru mengingatkannya pada gadis itu. “Nnngg.. Ngapain?” Tanya Rio reflek begitu saja.
“Ya.. Biasa.. Main, ngobrol” Jawab Ray dengan dahi berkerut. Namun gerakan matanya memandang kearah wajah Rio berharap bisa menemukan apa yang dimaksud dari pertanyaan tadi.
Rio hanya meng’o’kan mulutnya. Hasrat haus yang dari tadi dirasanya tidak lagi dirasakan. Jadi dia putuskan kembali kekamar.
“Kak.........” Kali ini Ray menghentikkan gerakan Rio membuka pintu kamarnya.
Rio tidak menjawab. Membalikkan badanpun tidak. Hanya gerakannya saja yang terhenti.
Ray menghela nafas. “Jujur... Gue kecewa sama tindakan loe tadi pagi”
Rio bergeming. Tanpa berkomentar lagi Rio langsung masuk kembali kedalam kamarnya. Meninggalkan Ray yang masih diam tanpa ada maksud menuntut komentar.
“Seharusnya tadi saatnya loe menentukkan sikap............”
***
Bila.... Aku... tak berujung denganmu
Biarkan kisah ini kukenang selamanya
Tuhan... Tolong... Buang rasa cintaku
Jika kau tak izinkan aku... Bersamanya....
Ketukan di pintu Kamar Ify disusul dengan suara orang yang mengetuknya membuyarkan konsentrasi Ify. Ify menghentikan permainan pianonya. “Masuk aja, gak gue kunci kok Yel” Ucap Ify mengenali suara pengetuk pintu.
Gabriel muncul dari balik pintu begitu Ify telah mempersilahkannya.
“Ngapain?” Tanya Ify to the point.
“Harus ada kata ngapain dulu ya?” Jawab Gabriel seenaknya sambil melempar dirinya ke tempat tidur Ify.
Ify memutar arah duduknya kearah tempat tidurnya. “Terus?” Tanya Ify malas.
“Ahh, gak seru loe Py” Dengus Gabriel.
“Kok gue?” Balas Ify.
Gabriel bangun dari tempat tidur Ify dan berjalan kearah Ify. “Loe kalo galau jadi gak asyik deh” Ucapnya sambil menoyor Ify.
Ify manyun. “Siapa yang galau coba? Biasa aja.”
“Itu, main piano. Nyanyi lagu galau. Ditanyain sensi. Apatuh namanya?” Ucap Gabriel
“Random!” Jawab Ify mantab.
Gabriel melengos. Ify nyengir.
“Terserah, loe punya utang cerita soal loe sama Rio” Ucap Gabriel yang lalu duduk disisi tempat tidur Ify.
Ify mengikuti Gabriel berpindah tempat juga disisi tempat tidurnya. Dengan memeluk Boneka Sticth ukuran besar yang bisa digunakan sebagai sandaran Ify mulai berkata lagi. “Harus yah diceritain?”
“Wajib!” Tegas Gabriel
Ify melengos. “Mau darimana?” Tanyanya malas.
“Awal! Semua, dari awal ampe sekarang dan harus lengkap” Jawab Gabriel.
Ify mengangguk pasrah dan mulai menceritakan kejadian yang dialaminya dengan Rio. Dan Gabriel sebagai pendengar yang baik memutuskan membiarkan Ify tetap cerita tanpa diputus oleh pertanyaan-pertanyaan yang sudah bergumul di kepalanya.
“............. dan pertemuan terakhir ya kemarin sore. Dan..........”
“Elo gak baik-baik saja. Karena gak pulang kerumah semalem” Samber Gabriel tidak tahan dengan isi kepalanya.
“Kurang lebih kayak gitulah” Jawab Ify sekenanya. Mendadak bathinnya perih mengingat pertemuan terakhir dengan Rio kemarin.
“Bukan kurang lebih tapi...........”
“Iya emang bener gue gak baik-baik aja” Sahut Ify menyelesaikan ucapan Gabriel.
Gabriel nyengir.
“So? Udah tau kan. By the way gue ngantuk. Loe keluar gih” Usir Ify sebenarnya hanya agar Gabriel tidak tahu jika saat ini dirinya kembali sedih.
“Dan biarin loe mewek-mewek disini sendirian? Gue udah kenal elo lagi. Udah kalo mau nangis ya nangis aja. Depan saudara sendiri juga” Dengus Gabriel.
“Apaan sih” Rengut Ify “Yaudah mau apa lagi?”
“Selesaikan diskusi ini!” Jawab Gabriel mantap.
“Selesaikan tuh masalah bukan diskusi” Argumen Ify.
“Masalah itu selesai pake dua cara, loe yang nyelesaian atau masalah waktu. Dan kasus ini gue rasa Cuma masalah waktu” Balas Gabriel.
Ify memilih diam daripada membalas kata-kata Gabriel lagi.
“Dengar cerita loe gue malah jadi semakin heran. Kenapa tadi Rio gak ngelakuin apapun waktu kejadian dikantin tadi?” Pikir Gabriel.
Ify melirik Gabriel. Dirinya memang sengaja tidak menceritakan bagian Rio yang ingin merubah dirinya menjadi seperti dulu kepada Gabriel.
“Bahkan dia bisa aja menghajar gue kalo dia mau saat tadi” Ucap Gabriel lagi.
Kembali, Ify hanya mendengar ucapan Gabriel.
“Dan kalo emang dia lagi melakukan aksi diam. Kenapa dia harus maju disaat gue menghadap Shilla? Kecuali kalo ternyata dia emang udah..............”
“Berpindah hati? Bagus deh. Gue jadi gak ngerasa bersalah” Dengus Ify tanpa bisa menyembunyikan nada kesal.
Gabriel langsung terbahak. “Bercanda Fy, bercandaaa......”
“Beneran juga gak papa kok Yel. Emang itu kan tujuan gue diawal” Lanjut Ify, namun kali ini dengan suara yang begitu lirih.
“Yahhh... Jangan gitu dong Fy.” Gabriel memindahkan dirinya jadi disisi Ify lalu merangkul gadis itu dan menyenderkan ke bahunya.
“Gue gak papa kok. Mungkin sedikit belum terbiasa aja.” Ucap Ify tersendat.
Gabriel mendesah pelan “Bagaimanapun keadaannya Rio tetap cowok Fy. Dia pengambil keputusan atas semuanya. Dan seandainya tetap mempertahankan elo itu memang haknya. Dan seharusnya kalo memang rasa cinta dia sangat besar ke elo dia harus mempertahankan itu tanpa peduli seberapa tinggi ego elo minta Rio ninggalin elo” Jelas Gabriel.
“Tapi Yel, disini dia pasti mengerti prioritas. Siapa yang harus diutamakan..........”
“Dan Rio nerima kemungkinan besar karena rasa kasihan dia sama Shilla?” Potong Gabriel.
Ify tidak bisa menjawab.
“Gak ada yang lebih buruk dari itu” Sambung Gabriel.
“Gak, loe salah. Ini baik. Shilla gak tau kan? Dan Rio itu selalu tulus, gak mungkin dia Cuma ngasihanin Shilla” Bela Ify.
“Ada alasan yang lebih baik Fy?” Tantang Gabriel sambil melepas rangkulannya.
“Kesehatan Shilla” Jawab Ify sambil bangun dan duduk seperti semula.
Gabriel tersenyum meremehkan. “Semua orang tau Fy keadaan Shilla. Semua orang tau gimana hubungan antara kita. Elo, Rio, Shilla dan yang lain. Dan seandainya loe gak pergunain Rio saat ini. Masih banyak orang diluar sana yang akan melakukan segala hal untuk mempercepat kesembuhan Shilla.”
Ify menatap Gabriel janggal. Yang ditatap hanya melempar pandangan kearah lain sambil mendengus pelan.
“Loe bisa bicara seperti itu, seakan loe yang akan mempertanggung jawabkan semua. Loe siap jadi orang pertama yang datang seandainya kita semua membutuhkan pertolongan........ Khususnya, Shilla” Ucap Ify.
Gantian Gabriel yang tidak menanggapi ucapan Ify. “Terlalu aneh Yel. Terpisah lama dari loe gak membuat gue lupa akan semua sifat dasar loe........”
“Apa kesimpulan dari seluruh hipotesa yang ada dikepala loe saat ini. To the point” Potong Gabriel. Pandangannya masih kearah lain.
Ify memiringkan kepalanya. “Loe suka Shilla?” tanya Ify hati hati.
Gabriel tidak menjawab.
“Yel?” Desak Ify.
Tanpa Gabriel menjawab Ify sudah langsung mendapat jawabannya begitu ekpresi Gabriel yang tiba-tiba mengeras.
BUGGGGHHH....
Boneka Stitch besar yang tadi dalam pelukan Ify sudah menghantam wajah Gabriel dengan mulusnya (?) *kasian .-.*
“BEGOOOOOOOOOO!!” Ucap Ify geregetan.
Gabriel mengernyit sambil mengusap mukanya yang agak memerah terkena hantaman boneka stitch Ify.
”Elo tuh yaaa” Ify tidak bisa menyembunyikan nada geregetan dari ucapannya.
“Loe kenapa? Sakit tau nih” Ringis Gabriel.
“Kenapa.. Kenapa..” Sewot Ify. “Kenapa loe gak bilang loe suka sama Shilla?”
“Emang loe nanya?” Tanya Gabriel balik dengan entengnya.
Ify manyun. “Oke pertanyaan diganti.” Dengus Ify. “So, ngapain loe tadi pake ngebelain gue ampe kayak nantang Shilla juga”
“Kan tadinya urusan gue sama Dea, eh tiba-tiba Shilla maju. Gue udah mau mundur, eh Rio maju. Gue rasa permainan bagus” Jelas Gabriel santai.
Mata Ify terbelalak maksimal.
“Lagian tadi loe beneran gak berkutik. Yah, rencana gue gak terganggu berarti. Lagian bales dendam dikit lah sama yang udah buat loe nangis semaleman” Jelas Gabriel lagi dengan meledek bagian akhirnya, membuatnya kembali terkena sasaran boneka stitch Ify.
“Gimana Shilla mau respect sama loe, kalo loe sendiri selalu deket gue? Dan bela gue sampe segitunya” Tanya Ify lirih.
“Gausah ngerasa bersalah gitu kali” Hibur Gabriel sambil mengacak puncak kepala Ify. “Loe sendiri kan yang mau Rio sama Shilla. Dan masalah gue deket sama loe dan selalu ngebela loe, memang tugas gue kan?” Jelas Gabriel menenangkan.
“Gue memang penentu jalan ceritanya Yel, Tentang gue, Rio, Shilla. Tapi bukan gue penentu endingnya. Shilla berhak memilih. Dan tugas loe memang menjaga gue, tapi gue udah ‘berdiri’ dari dulu sampai saat ini. Dan gue rasa, ini Cuma dimana gue sedang ‘berjalan’ dibawah. Loe berhak mengejar sesuatu yang mau loe raih, dan gue gamau sebagai penghalang.” Jelas Ify.
“Kenapa loe gak memberikan kesempatan yang sama untuk Rio seperti Shilla untuk memilih?” Tanya Gabriel.
Ify hanya terdiam.
“Gimana seandainya ternyata perasaan suka Shilla ke Rio gak lebih dari rasa kagum biasa?” Tanya Gabriel lagi.
Ify tersenyum tipis. Lalu menepuk pundak Gabriel. “Cuma loe! Loe yang bisa bantu Shilla mastiin perasaan itu. Perjuangin rasa loe saat ini sama dia. Seperti yang gue bilang. Gue memang pembentuk jalan cerita ini dari awal, gue pemeran utamanya, tapi bukan gue penentu endingnya...!”
***
“Hahhhhhhhh... Tuhkan seharusnya tadi gue berangkat naik taksi aja” Ucap Ify sambil melepaskan rasa kantuknya.
“Tiap hari naik taksi bakal pemborosan kali Fy” Komentar Sivia yang kali ini menoleh kebelakang. Dirinya duduk dikursi sebelah pengemudi. Alvin.
“Tapi kan gue gak mungkin nebeng loe berdua tiap pagi. Jadi nyamuk mulu” Keluh Ify.
“Kenapa loe gak cari supir aja sih? Lebih murah daripada taksi” Kali ini Alvin berkomentar. Alvin dan Sivia sudah mengetahui mengapa Ify lebih memilih berangkat sendiri dari semalam. Setelah Gabriel kembali kekamarnya, lantas Ify langsung menelepon Sivia untuk berangkat bersama besok paginya sekaligus menceritakan kejadian curhat dikamarnya tadi. Informasipun langsung diteruskan kepada Alvin hingga Alvin memutuskan membawa mobil pagi ini
“Ide bagus. Gue pertimbangkan” Jawab Ify.
“Lagipula kenapa dari dulu gapake supir sih?” Tanya Sivia.
“Yang butuh disupirin kan Cuma nyokap. Gue bisa, Deva bisa jadi ngapain harus ada sopir?” Tanya Ify balik.
“Tapi kalo keadaaanya begini kan..........”
“Makanya tadi gue bilang ide loe bagus Vin” Potong Ify santai.
“Terserah deh” Balas Alvin sambil merengganggkan tangannya karena sedang berhenti dilampu merah. Disaat itu juga kaca samping tempat Ify duduk diketuk. Ify menoleh lalu menurunkan kacanya. Ternyata anak kecil, seorang pengamen jalanan yang langsung saja menyenandungkan lagu dengan gitar usangnya.
Tak ada manusia yang terlahir sempurna...
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi...
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat...
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi...
Syukuri apa yang ada... Hidup adalah anugerah...
Tetap jalani hidup ini... Melakukan yang terbaik..
Tuhan pastikan menunjukkan...
Kebesaran dan KuasaNya...
Bagi hambaNya yang sabar...
Dan tak kenal putus asa...
Ify tersenyum puas mendengar suara pengamen jalanan tersebut. Meski agak cempreng tapi harmonisasinya menyanyi dipadukan dengan gitar usang yang disandangnya benar-benar memikat. Ify langsung merogoh sakunya. Diserahkan selembar uang duapuluh ribuan kepada pengamen jalanan tersebut yang langsung tidak putus mengucapkan terimakasih. Setelah membalasnya dengan senyuman Ify langsung kembali menutup pintu mobil Alvin, bertepatan dengan penggantian lampu hijau yang menyatakan mereka harus meninggalkan tempat ini.
“Gue yakin, anak itu lebih banyak melewati cobaan hidup lebih dari gue. Tapi semangat dia bener-bener membuat gue takjub. Apalagi waktu dia mengucapkan terimakasih” Ucap Ify tentang anak jalanan tadi.
“Masalah cobaan udah sesuai porsi masing-masing Fy. Anak jalanan tadi yang bertahan hidup dalam gelut susahnya ekonomi sama kayak loe yang bergelut dalam masalah loe sendiri. Dan kalian masih tetap bertahan sampai saat ini. Itulah alasan anak jalanan tadi begitupun juga dengan loe untuk gak pernah mengucap terimakasih sebagai bentuk rasa syukur” Jelas Alvin.
Ify mengangguk paham.
“Dan yang harus paling penting loe inget. Yang paling loe harus tau...” Ucap Sivia menekankan sambil mengetuk pelan kening Ify. “Loe gak sendiri. Dan loe punya kita” Ucap Sivia sambil tersenyum.
Ify nyengir. “Siap boss” ucapnya patuh sambil mengacungkan dua jempolnya.
“Ahh.. By the way gue jadi kangen sama anak rumah singgah” Ucap Ify lagi.
Sivia mendelik. “Kangen sama anak rumah singgahnya atau kangen sama yang ngenalin loe sama mereka?” Goda Sivia.
“Ya kangen sama anak-anaknya lah. Lagian Kak El kan lagi di Amerika, dan gue juga gak ada apa-apa kok sama dia” Rengut Ify.
“Bercanda Fy bercandaa..” Tukas Sivia.
“Gimana kalo kita kesana aja siang ini? Mumpung gak ada kegiatan macem-macem. Ajak yang lain sih kalo bisa. Lumayan memperbaiki hubungan kita yang renggang kemaren” Usul Alvin.
“Setuju/ Gak Setuju” Ify dan Sivia menyahut berbarengan.
“Gue duluan yang ngomong” Ucap Sivia cepat. “Gue gak setuju. Males banget bareng sama, siapatuh kumpulan rumpi mereka yang baru? The days... The days... The days after tomorrow yah?.....”
“Kiamat dong Vi” Sela Ify dan Alvin bersamaan sambil terkikik geli.
“The Days Ever Vi, kan waktu itu loe yang bilang” Jelas Ify sambil menahan geli.
“Yah pokoknya itu, and whateverlah. Pokoknya gue gak mau. Kecuali Bunda Romy ngijinin gue buat ngotorin kolam ikan belakang Rumah singgah buat nyeburin Dea dkk” Ucap Sivia berapi-api.
Meledaklah seketika tawa Alvin dan Ify bersamaam. Untungnya mereka sudah tiba ditempat parkir SMA Cagvairs sehingga Alvin benar-benar bebas tertawa tanpa harus memusingkan konsentrasi mengemudinya.
“Aduh Vi. Terserah kamu yah. Tapi yang jelas saat baju mereka basah kuyup nanti gak akan ada pangeran kayak kasus Ify kemarin yang minjemin kemejanya buat mereka” Ucap Alvin sambil mengatur tawanya yang benar-benar tak tertahan.
“Udah Vi dendamnya. Dendam jangan ditumpuk sama dendam lagi. Yaudah mereka ajak aja. Lagian mereka mana mau juga pergi ketempat yang gak ber AC dan gak berisi label tas dan pakaian terkenal? Jadi loe santai aja” Ucap Ify menenangkan setelah meredam tawanya.
“Terserah. Hayok turun” Ajak Sivia yang langsung diikuti Alvin dan Ify.
***
Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu...
Cukup indahkah dirimu untuk selalu kunantikan...
Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku...
Mampukah kita bertahan disaat kita jauh...
“Yah.. Dipandangin mulu kapan nyatunya? Kecuali loe magnet kutub utara dan Shilla magnet kutub selatan. Baru deh tarik-tarikan” Tegur Ify sambil mempersatukan tangannya.
Gabriel menoleh. “Bisa berhenti godain gue gak?”
“Sayangnya engga. Abis loe gak maju-maju” Ucap Ify santai.
Gabriel langsung menoyor Ify. Lalu kembali memandang kearah 7 orang gadis yang berkumpul dipinggiran koridor namun hanya salah satu fokusnya disana.
Seberapa hebat kau kubanggakan...
Cukup tangguhkan dirimu untuk slalu kuandalkan... Ohh
Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang... Ohh
Sanggupkah kau meyakinkan disaat aku bimbang...
“Gue udah bilang sama loe semalem. Raih apa yang loe mau. Gue memang pentuk alurnya tapi bukan penentu endingnya. Dan loe adalah salah satu penentu endingnya. Dan kalau gue boleh meminta. Buat ending yang loe harapkan itu terbaik untuk semua.” Jelas Ify.
Gabriel mengangguk paham. Lalu memandang kearah Shilla kembali.
“Tunggu apa?” Tegur Ify lagi. “Yakinkan diri loe untuk dia, dan dia untuk elo”
Gabriel mengangguk dan langsung berlari kearah Shilla. Saatnya dia mulai mengejar...
Oh sayangnya hanya kaulah yang pantas untuk kubanggakan...
Hanya kaulah yang sanggup untuk aku andalkan...
Diantara pedih aku selalu menantimu...
---
“Shilla” Sapa Gabriel yang sudah berada dekat kerumunan The Days Ever.
Serentak personil The Days Ever langsung berhenti berbicara dan langsung menoleh ke sumber suara dengan heran.
Gabriel memaksakan dirinya tersenyum kepada semua personil The Days Ever.
“Ada apa Yel?” Tanya Shilla langsung.
“Hemm...” Gabriel menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. “Nanti siang gue sama yang lain mau kerumah singgah. Loe mau ikut” Tanya Gabriel. “ya gak loe juga sih, temen-temn yang lain kalo mau ikut juga boleh” Lanjut Gabriel sambil mengedar pandangan ke personil The Days Ever seluruhnya. Hanya ini satu-satunya alasan mengajak ngobrol Shilla setelah apa yang dibicarakannya dengan Ify, Alvin dan Sivia dikelas tadi.
“Rumah singgah itu tempat apa Yel?” Tanya Zahra sambil memegang pundak Gabriel.
Gabriel menurunkan tangan Zahra pelan. “Mmm, rumah penampungan buat anak jalanan gitu” Jawab Gabriel.
“Hah? Gak salah Yel? Hmm, tempatnya ber AC gak?” Tanya Dea yang langsung membuat Gabriel menggeleng tak heran, mengingat tebakan jitu Ify.
“Ya, gak lah. Itukan tempat pelatihan sederhana” Jawab Gabriel.
“Di perumahan mana Yel daerahnya?” Sambung Zevana.
Gabriel mengangkat sebelah alisnya. “Ya, daerah pinggiran lah”
“Deket tempat hang out gak?” Tanya Angel yng benar-benar membuat Gabriel melotot. Tapi langsung terkekeh.
“Ya, nggaklah. Namanya juga dipinggiran. Rumah anak jalanan pula. Tapi anak jalanan juga yang berbakat kok” Jelas Gabriel. “Loe bertiga gimana?” Alih Gabriel pada Shilla, Agni dan Acha, karena sudah yakin 4 orang yang bertanya lebih dahulu tadi fix tidak mungkin ikut.
“Oke” Ucap Acha dan Agni berbarengan.
“Mumpung gak ada kegiatan” Ucap Agni.
“Bilang aja mau nostalgia tempat jadan ama Cakka” Ucap Acha sambil menyenggol lengan Agni.
“Apaan deh”
Gabriel hanya mengulum senyum melihat tingkah Acha dan Agni. “Loe sendiri gimana Shill?” Tanya Gabriel pada Shilla.
“Ehmm.. gimana ya...”
“Hari ini loe gak ada jadwal check up kan? Kan jadwal loe kemaren dan lusa” Ucap Gabriel.
“Engga sih. Ehh kok loe tau jadwal gue check up sih?” Tanya Shilla bingung, seingatnya hanya keluarganya yang tau. Rio saja yang biasanya mengantar hanya tau jadwalnya ketika diingatkan.
“Taudong, kan banyak kenalan dokter gue disana” Ucap Gabriel sambil tertawa renyah. “So? Mau ikut atau ngga?” Tanya Gabriel lagi.
“Iyadeh, daripada bosen dirumah” Jawab Shilla akhirnya.
“Oke, kalian gimana?” Tanya Gabriel pada Dea, Angel, Zahra dan Zevana.
“Mmm, gimana yaa.. kayaknya engga deh. Hari ini jadwal gue creambath soalnyaa” Jelas Dea.
“Bukan Dea doang, tapi kami juga” Sambung Zevana yang langsung diamini oleh Zahra dan Angel.
Gabriel mengangguk. “No prob. Kalian fix kan?” Tanya Gabriel yang diangguki Agni, Acha dan Shilla. “ajak gebetan dan pacar masing-masing ya” Ucap Gabriel santai lalu tersenyum khusus kepada Shilla.
Shilla yang disenyumi begitu hanya dapat membalas dengan senyum manisnya lagi, tanpa sadar ada getaran aneh dijantungnya kini.
“Oke ladies, gue pamit. See you guys” Pamit Gabriel yang langsung pergi dari kerumunan tersebut dengan langkah coolnya.
***
Seperti kesepakatan tadi pagi. Hari ini sepulang sekolah mereka (Ify, Gabriel, Sivia, Alvin, Shilla, Rio, Agni, Cakka, Acha dan Ozy) Pergi ke Rumah Singgah. Dan tepat seperti perkiraan Ify. Dea CS tidak mau diajak oleh mereka.
“Ahh... kapan yah terakhir kita ngumpul bareng gini?” Celetuk Cakka.
Mereka saling menoleh satu sama lain. Lalu menghela nafas pelan masing-masing.
“Yang penting sekarang kita kumpul. Ayo masuk panas nih. Nanti gue gak ganteng lagi deh” Ucap Ozy mencoba mencairkan suasana. Mereka langsung menurut mengikuti langkah Ozy yang sudah menarik Acha bersamanya lebih dahulu.
Sebenarnya satu sama lain sudah mengerti apa yang terjadi diantara mereka. Terlihat dari kecanggungan satu sama lain saat berkumpul diparkiran. Tapi dengan niat positif ingin memperbaiki hubungan satu sama lain yang telah mendingin membuat mereka setuju untuk pergi bersama hari ini.
Ternyata saat didalam mereka langsung disambut baik oleh Bunda Romy dan seluruh penghuni Rumah singgah. Satu persatu mereka saling bersalaman. Bahkan suasana canggung diantara mereka seperti mulai menghilang.
“Wah, seru nih tamunya banyak” Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu penghubung taman samping dan ruang tamu.
“Woy bro! Loe gak bilang udah balik” Ucap Cakka yang langsung menubruk tubuh sang pemilik suara tadi yang ternyata kakaknya. Elang.
“Rencananya besok gue baru mau kerumah. Mereka lebih seru dikangenin sih daripada loe” Ucap Elang melirik penghuni rumah singgah sambil merangkul Cakka.
Mata Elang menyipit melihat posisi duduk teman-teman adiknya. Agni sendiri setelah Cakka menghambur kedirinya. Ozy dan Acha. Pasangan yang menurutnya begitu cute itu. Alvin dan Sivia pasangan sweet yang pernah ditemuinya. Tapi dua pasangan terakhir. Rio – Shilla , Ify – Gabriel ? Gaksalah? Apa ketuker? Pikirnya. Elang menggedikan bahunya.
“Kak maen yuk” Celetuk salah satu anak Rumah Singgah membuyarkan keheningan yang tercipta.
“Oke, kita mulai darimana? Atau dipencar aja gimana?” Usul Cakka.
Teman-temannya mengangguk.
“Sorry, gue agak gak enak badan. Gue tunggu dimobil ya” Ucap Rio tiba-tiba sambil berdiri.
“Loe bisa istirahat dikamar gue Yo.” Tawar Elang.
Rio hanya menggeleng lalu mulai berjalan cuek meninggalkan tempat.
Yang lain hanya terdiam.
“Gimana kalo kita mulai mencar aja” Celetuk Ozy mencairkan suasana kembali. “Sebagian ikut Kak Ozy sama Kak Acha. Sebagian Kak Cakka sama Agni. Sebagian Kak Alvin dan Kak Via. Terus Sebagian Kak Shilla sama....” Ozy nampak berpikir.
“Sama gue Zy” Sahut Gabriel. Yang lain hanya terpana. Gabriel menoleh kearah Ify.
Ify nyengir. “Berarti gue sama elo kak” Ucap Ify sambil menunjuk Elang.
“Hhmm, okelah.” Jawab Elang.
“Ayo, siapa yang mau ikut Kakak?” Ucap Ify ceria membuat teman-temannya langsung lupa akan suasana sebenarnya.
Mendadak suasana panti riuh redah akibat anak-anak Rumah Singgah yang sibuk memilih pemimpin mereka dan mendiskusikan apa yang akan mereka mainkan.
***
Ozy & Acha
“Kak Ozy dan Kak Acha jadi guru kita aja. Bantu kita supaya makin lancar membaca dan menulis. Jadi sekarang kita main guru-guruan” Usul anak perempuan berpipi chubby. Anak-anak yang mengelilingi Ozy dan Acha memang rata-rata usia awal sekolah dasar. Sayang nasib tidak berpihak kepada mereka, sehingga mereka tidak mampu mengenyam pendidikan sebagaimana harusnya.
Ozy dan Acha hanya saling pandang dan kemudian mengangguk setuju.
“Berarti kita main sambil belajar ya?” Tanya Acha kepada seluruh anak rumah singgah yang berkumpul disekelilinginya.
Semua anak mengangguk mantap.
“Oke jadi sekarang kita mulai dari mana?” Tanya Ozy sedikit membungkuk mensejajarkan dirinya dengan anak perempuan tadi.
“Gimana kalo kita keruang belajar aja? Disana kan lengkap kebutuhan belakar kita” Usul anak berkuncir kuda, yang diamini seluruh anak lainnya.
“Oke, meluncurrrrrr” Ucap Ozy sambil mendorong pelan beberapa anak rumah singgah agar melangkah terlebih dahulu.
Cakka & Agni
“Kak Cakka jago basket kan? Ajarin kita dong kaa” Bujuk seorang anak laki-laki yang memakai kaus tanpa lengannya. Kebetulan karena memang mereka berkumpul dilapangan kecil belakang rumah singgah yang ada satu ring basket usang disalah satu tepinya.
“Jadi kalian mau belajar basket aja nih, gak main yang lain?” Tanya Agni memastikan.
Semua anak mengangguk. “Kakak bisa?” tanya anak lainnya.
Agni nampak berpikir.
“Ag, show it” Ucap Cakka sambil mempassing bola basket yang memang sudah dibawanya dari tadi.
Agni menangkapnya dengan baik. Lalu dengan sedikit dribble dan melakukan pivot secara singkat agni langsung menembakkan bola kearah ring usang ditepi lapangan dengan jarak tembak diluar garis three point. Membuat seluruh yang menyaksikannya dengan suka rela langsung bertepuk tangan.
“Kakak hebat” puji beberapa anak rumah singgah.
“Tunggu apalagi? Ayo kita mulai” Ajak Cakka sambil berlari kearah bola basket berguling tadi sementara anak lainnya mengambil posisi.
Alvin & Sivia
“Tadi siapa nih yang ngajak kita nyanyi-nyanyi aja? Maju kedepan dong nyanyi bareng kakak” Ajak Alvin sambil sesekali menyetem gitar yang dipegangnya.
Anak-anak tidak bergeming.
“Yah, kok pada gak mau maju sih?” Keluh Sivia.
“Kakak berdua lucu banget deh. Yang satu cantik yang satu ganteng, cocok banget makanya pacaran” Ucap salah satu dari mereka polos.
Pipi Sivia bersemu merah digoda seperti itu. “Husshh ahh ngomongnya pacar-pacaran. Masih kecil juga” Ucap Sivia.
Yang lain hanya nyengir ditegur Sivia.
“Kayak negur anak sendiri deh kamu” Bisik Alvin ditelinga Sivia yang membuat muka Sivia makin merah padam.
Sivia mendelik. “Jangan nyontohin yang gak bener deh” Jutek Sivia menyembunyikan kesaltingannya. “Udah yuk kita nyanyi aja. Mau nyanyi apa?” Tanya Sivia pada anak-anak dihadapannya.
“Laskar pelangi aja kak” Teriak anak yang duduk paling belakang.
“Oke” Alvin memulai intronya.
Mimpi adalah kunci... Untuk kita menakhlukan dunia...
Berlarilah sampai lelah... sampai engkau meraihnya...
Laskar pelangi... takkan terikat waktu...
Jangan berhenti.. Mewarnai... jutaan mimpi di bumi....
Menarilah dan terus tertawa... Walau dunia tak seindah surga...
Bersyukurlah pada yang kuasa... Cinta kita didunia... Selamanya...
Shilla & Gabriel.
“Yel” Shilla menghentikan langkah Gabriel dengan menahan lengannya.
Gabriel berhenti dan menoleh ke wajah Shilla yang wajahnya sudah dirundung kecemasan.
Gabriel menyatukan alisnya. “Loe kenapa?”
“Hmm... Engg” Shilla terlihat ragu dalam menyampaikan pendapatnya. Gabriel masih sabar menunggu.
“Sebenernya.. gue.. gue kurang terlalu suka anak kecil” Aku Shilla, langsung menunduk tidak enak.
Gabriel mengangkat sebelah alisnya. Tapi kemudian mengingat sesuatu. Lalu langsung mengubah tingkahnya. “Terus kenapa? Kan ada gue. Gue yang akan membuat loe suka sama mereka” Ucap Gabriel mengenggam tangan Shilla mulai menenangkan.
“Tapi...” Shilla masih terlihat ragu.
Gabriel sigap menahan kata-kata yang akan diluncurkan Shilla dengan menaruh telunjuknya pada bibir Shilla. Tanpa bisa ditahan. Pipi Shilla mulai terasa panas.
“Gak ada tapi. Loe pernah melewati fase dimana loe jadi anak kecil seperti mereka dan suatu saat loe akan jadi bagian terpenting dari mereka. Ibu dari anak-anak kecil yang loe lahirkan kelak.” Ucap Gabriel sambil memandang Shilla menikmati rona merah yang mulai bersemu di kedua pipi gadis itu.
Jantung Shilla benar-benar mulai bekerja diatas batas normal. Kegiatan yang tidak pernah dirasakan ketika berhadapan dengan siapapun. Darahnya juga mulai berdesir lebih cepat seperti berlomba untuk mencapai otaknya.
“Ayokk. Mereka udah nunggu” Ajakan Gabriel menyadarkan fantasi pribadi Shilla yang dari tadi hanya menunduk. Tak ada respon, membuat Gabriel mengeratkan genggamannya pada tangan Shilla lalu mulai menariknya. Kegiatan yang benar-benar membuat Shilla tersadar sepenuhnya dan hanya melepar senyum manis kearah Gabriel lalu kembali menunduk lagi.
Dari dalam mobil alphard. Seseorang memukul stir didepannya penuh dengan gumpalan emosi melihat pemandangan itu.......
Ify & Elang
“Wah, kayaknya yang ikut kita minatnya dikit banget ya kak” Ucap Ify ketika hanya 3 anak yang mengikuti bersama Elang.
“Yah mungkin mereka bosen kali. Kalo sama gue kan udah setiap hari. Dan kegiatannya pasti sama diruang musik juga.” Jelas Elang.
“Sayang banget padahal. Belajar alat musik kan seru” Ucap Ify.
“Inipun yang ikut kesini gue yakin karena mereka ingin memperdalam ilmu main piano mereka sama loe Fy.” Ucap Elang. “Ya gak?” Lanjutnya kepada 3 anak yang juga mengikuti mereka. Mereka mengangguk senang.
“Oke. Lets teach them Fy. Untuk saat ini gue nganggur. Hanya menemani loe saja” Ucap Elang sambil berpindah tempat membiarkan 3 anak itu lebih mendekat ketempat piano didekat Ify.. Tak lama Ify benar-benar sudah tenggelam akan keasyikannya mengajar 3 anak tadi. Kunci demi kunci serta berbagai tekhnik dalam menekan barisan tuts hitam putih hingga menghasilkan sebuah harmonisasi yang seimbang dan menenangkan.
Elang sendiri lebih berkonsentrasi untuk memandang Ify yang tengah asyik mengajar 3 anak rumah singgah dengan alat musik –yang-bisa-dibilang-kebanggaan-Ify-. Gadis itu masih tetap sama. Masih tetap menarik, masih tetap berbakat, masih tetap cantik –dan mungkin untuk bagian satu ini pasti bertambah- walau agak terlihat kurusan. Tapi yang terpenting gadis ini masih tetap memikat hatinya....
***
Rio masih asyik mencatat meski bel istirahat sudah berbunyi dari 5 menit yang lalu. Hingga sebuah getaran disaku celana sekolahnya membuatnya berhenti mencatat. Dibukanya lock yang mengunci seluruh akses fasilitas BB nya dengan password yang masih sama seperti dulu. Nama gadis pujaan sampai hari ini. IfyAlyssa.
‘BBM dari Agni?’ Ucap Rio dalam hatinya. Rio membuka BBM yang dikirimkan AgniTN yang ternyata sebuah voice note.
Rio merogoh saku kecil yang ada ditasnya untuk mengambil earphone agar dapat mendengarkan voice note secara lebih nyaman.
“Just For Rio – Ashilla”
Terdengar suara yang diiringi instrumen akustik yang mengiringinya.
Bergetar hati ini... Bila kuingat dirimu...
Mungkin saja diri ini... Tak terlihat olehmu...
Aku pahami itu...
Bagaimana caranya agar kamu bahwa...
Kau lebih dari indah... Didalam hati ini...
Lewat lagu ini... kuingin kamu mengerti...
Aku sayang kamu... Kuingin bersamamu...
Tidak ada sensasi lain selain rasa bersalah yang meggantungi Rio kini. Suara halus yang masuk kedalam pikirannya melalui dua telinganya saat ini justru menyadarkannya akan sesuatu. Tentang sesuatu yang sebenarnya dekat tapi terasa jauh, tentang sesuatu yang jauh namun terasa dekat.
Meski ku tak pernah tahu...
Kapan kau kan mengerti...
Kucoba tuk berharap...
Bagaimana caranya agar kamu bahwa...
Kau lebih dari indah... Didalam hati ini...
Lewat lagu ini... kuingin kamu mengerti...
Aku sayang kamu... Kuingin bersamamu...
Rio mencoba mengingat banyak hal yang telah dilalui dengan gadis yang suaranya kini memenuhi pendengarannya. Sikap perhatian Shilla yang justru dibalas dengan sikap cueknya, sikap ramah Shilla yang selalu dibalas dengan ketidak peduliannya.
Bukan. Bukan Rio tidak memahami atau tidak tahu apa yang tengah dirasakan gadis itu kepadanya. Kini pun dia tengah merasakan hal yang sama. Dan apa sekarang dia harus mulai belajar untuk merasakan hal yang sama pula sebaliknya pada gadis itu? Bukankah ada pepatah yang berbunyi “Jika kau merasakan suatu hal, bersamalah dengan dengan orang yang merasakan hal yang sama Agar kamu dapat saling mengerti dan melengkapinya”
***
Tahukah hatiku galau... Tak tahu harus melangkah...
Sejak pertama mata jatuh menatap...
Hatiku tak pernah dusta...
Rio menyesali ujung pelariannya kini kelapangan. Untuk 5 menit pertama sebelum saat ini sudah dirasakannya cukup tenang. Tapi tidak untuk sekarang, gadis pengendali hatinya datang. Belum lagi permintaan Cakka disebelahnya yang membuat gadis itu beranjak kearahnya.
---
Kedatangan Ify ke lapangan saat ini sebenarnya hanya untuk mengobati rasa rindunya karena sudah merasa lama tidak bermain, berlari dan mengatur bola dilapangan ini. Dimana dia bisa memamerkan freestyle dan mengejek kekalahan rival sejatinya. Rio. Ahh, nama itu lagi. Memang tak akan lepas, semua yang disekitarnya, yang disenanginya memang selalu berhubungan dengan laki-laki itu. Renungan Ify mendadak buyar begitu namanya dipanggil oleh seseorang. Cakka. Ify melihat isyarat tangan Cakka yang memanggilnya untuk menghampiri Cakka. Baru satu langkah ify mengangkat kakinya. Mendadak langkahnya terhenti, ada Rio juga disana.
‘Loe harus biasa aja Fy, atau loe dibilang menghindar. Ayo Ify bisa’ Ify mengangguk kecil untuk memotivasi dirinya sendiri. Lalu mulai melangkah kembali menghampiri Alvin.
Bila cintaku ini salah... Hatiku tetap untukmu...
Namun kenyataannya parah... Dirimu tak pernah untukku...
“Yah, gue pikir loe udah move on dari lapangan ini, ampe gak pernah keliatan” ledek Cakka sambil melempar bola kearah Ify. Ify memindah-mindahkan bola yang dipassing cakka kearahnya ketangannya satu sama lain.
Ify tersenyum kecut. Cakka memang hanya tahu, Ify mengundurkan diri dari klub basket karena sibuk. “Gaklah. Kata siapa” Tukas Ify sekenanya.
“Abis gue pikir loe udah move on gitu dengan kesibukan baru loe sebagai pembisnis keluarga. Lagipula lapangan jadi sepi gak ada suara cempreng loe” Ucap Cakka sambil tertawanya renyah.
Ify ikut tertawa. “Sial banget, lagian gak mungkin lah gue move on juga” Ucap Ify masih dengan bola basket ditangannya.
“Siapa tau” Cakka menggedikan bahunya.
“Never mind. Gak pernah dalam pikiran gue untuk move on atau segalanya tentang itu. Move on gak akan pernah menghapus kenangan yang udah ada. Dan setiap kenangan akan selalu ada, karena itu adalah jejak gue sampai hari ini” Ucap Ify dengan pandangan lurus.
Bersamaan dengan kata-kata Ify, dribble bola dari tangan Rio langsung lepas begitu saja. Serempak Ify dan Cakka melihat kearah Rio yang mendadak gugup dan langsung mengambil bola yang bergulir dengan cepat.
Menyadari suasana yang langsung canggung, cakka memutuskan untuk menyingkir. “Gue beli minum bentar ya” Ucap Cakka yang langsung ngacir tanpa persetujuan.
Dalam hati masing-masing Rio dan Ify benar-benar mengumpat atas kelakuan Cakka barusan. Yang menjebak mereka dalam situasi (yang-menurut-mereka) sulit.
Mencoba lupakan keinginan hati...
Namun tak ingin kuingin ku menyerah...
Tapi mengapa bila aku mendekat... rasanya semakin jauh...
Hati dan Logika Rio benar-benar berperang untuk saat ini. Semua memang harus diselesaikan, tapi apa yang harus diselesaikan lagi? Bukankah semuanya sudah selesai pada sore itu? Kesal tidak menemui titik temu Rio melemparkan bola ditangannya langsung menuju Ring secara asal..
BRUKKKK...
Tabrakan antara bola dan papan pantul yang lalu membuat bola bergulir masuk kedalam ring cukup menyentakkan Ify akan ketermenungannya. Ify dan Rio sama-sama melihat kearah ring kemudia mengikuti laju bola yang jatuh dan bergulir hingga berhenti tepatdi samping kaki Ify.
“Loe tau tadi barusan gue ngapain?” Tanya Rio dengan nada datar tanpa pandangan yang mengarah pada Ify.
Ify melihat kearah Rio. “Shooting” Jawabnya pendek.
“Tau artinya?” Tanya Rio lagi.
“Memasukkan bola kearah ring dalam jarak tembak ataupun diluarnya secara terarah untuk mendapatkan poin” Jelas Ify.
“Itu arti secara teori” Sahut Rio, yang kemudian tersenyum miring dan menghadapkan tubuhnya kearah Ify.
Ify mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. ‘ada maksud lain?’ pikirnya. “To the point” Ucap Ify tegas.
Rio menggedikkan bahunya. “Loe liat bola yang gue shoot tadi?” Nadanya santai tapi justru malah membuat Ify semakin waspada.
Ify hanya mengangguk.
“Kenapa tadi gue bisa masukkin bola itu kedalam ring? Padahal gue berdiri diluar garis three point bahkan diluar jarak tembak.” Tanya Rio.
“Feeling” Jawab Ify singkat, karena memang itu yang dirasakannya tiap ingin memasukkan bola ke dalam ring.
“Tepat!” Rio terdiam sejenak. “Gue mau melempar dan memasukkan bola karena gue yakin gue bisa. Karena gue tau itu akan masuk. Karena gue yakin gue akan meraih poin” Ucap Rio sambil memandang kearah ring, tapi kemudian pandangannya kembali mengarah pada Ify. “Sama kayak gue waktu menyatakan gue cinta sama loe, gue yakin loe yang gue mau, gue tau loe yang terbaik.” Rio kembali diam. “Dan yang paling penting, gue tau loe punya perasaan yang sama kayak gue.”
Ify hanya diam memandang Rio, tidak berusaha mengubah air mukanya.
Bila cintaku ini salah... Hatiku tetap untukmu...
Namun kenyataannya parah... Dirimu tak pernah untukku...
“Tapi akhirnya gue ngerti kenapa loe gabisa jadi milik gue.” Ucap Rio. “Bola yang gue lempar tadi aja gak terikat sama ring, bola tadi walaupun masuk dan meraih poin tetap saja lepas dan bergulir jatuh. Sama kayak hati gue dan loe.” Rio menjeda kalimatnya. “Walau kita yakin ngerasa hal sama ternyata emang harusnya saling ngelepas ya? Apalagi............”
Ify masih menunggu kelanjutan kalimat Rio. Tapi bukan melanjutkan kata-katanya Rio malah mundur bebarapa langkah dari hadapannya.
“Masih inget cara passing?” Tanya Rio setelah ‘memberikan jarak lebih’ diantara mereka.
Walau tidak mengerti sepenuhnya Ify tetap mengangguk.
“Do it” titah Rio.
Ify melakukan chess passing kearah Rio yang langsung diterima baik olehnya.
“Apalagi setelah loe melakukan ini” Ucap Rio setelah menerima bola.
Ify mengangkat alisnya tinggi-tinggi. ‘Apa maksudnya?’
Paham akan ekspresi Ify. Air muka Rio langsung mendadak berubah dingin. “Ngerti arti passing?”
“Mengoper bola ke orang lain” Jawab Ify. Namun detik kemudian Ify langsung membekap mulutnya.
“Dalam basket.” Sahut Rio. “Dalam kasus kita? Mengoper hati.” Ucap Rio dingin. “Bola dalam permainan basket adalah sesuatu yang disukai para pemainnya. Ketika loe melakukan passing itu artinya, memberikan sesuatu yang loe suka sebagai pemain basket kepada pemain lain.” Rio terdiam lagi sejenak. “Dan sepertinya loe menganggap gue kayak bola tadi. Bisa loe maenin dan loe oper kesiapapun kapan saja” Desis Rio tajam.
Mata Ify benar-benar memanas mendengar pernyataan Rio yang terakhir. ‘Bukan!! Bukan seperti kayak gitu’ hati Ify hanya mampu menjerit untuk saat ini.
“Terakhir” Ucap Rio lagi yang kemudian langsung melempar bola kearah ring lagi dan BRUKK.. Tubrukan bola dan papan pantul yang langsung menyentakkan Ify kembali.
“Gue pamit........................... dari hati loe” Ucap Rio yang kemudian langsung melangkah pergi.
Bila cintaku ini salah... Hatiku tetap untukmu...
Namun kenyataannya parah... Dirimu tak pernah untukku...
Cheers (;!!!
Trisil {}
That's All Cause Ify Part 36
Ruang OSIS
Rio tengah merapikan seluruh berkas-berkas pertanggung jawaban saat Pertandingan Basket minggu lalu. Dipelajarinya baik-baik untuk merapatkan pada dewan pembina bersamaan dengan acara malam ulang tahun Cagvairs yang masih belum tersusun laporannya. Namun kegiatannya terhenti begitu pintu Ruang Osis terketuk. Dan berselang beberapa detik kemudian seorang gadis yang beberapa hari ini fokus memenuhi pikiran utamanya masuk dengan segenggam berkas ditangannya.
Sama seperti Rio yang kini terpana memandangnya. Ify begitu sebaliknya. Tidak membayangkan ternyata Ruang Osis hanya ada Rio dan dirinya. Tadinya dia berpikir Ruang Osis akan kosong, apalagi disaat KBM sudah berakhir seperti ini, sehingga dia tidak perlu bertemu siapapun dan hanya menaruh laporan pertanggung jawaban acara malam ulang tahun Cagvairs kemarin malam.
“Ify”
“Mm, Iya. Gue mau ngasih LPJ kemarin” Ucap Ify sambil memaksakan senyumnya.
Rio langsung mengendalikan dirinya. “Mmm, Oh.. Oke. Mm, boleh gue liat?” Tanya Rio sambil mengulurkan tangannya.
Ify mengangguk dan menyerahkan LPJ yang telah disusunnya kepada Rio.
Suasana menghening, hanya suara kertas yang dibolak balik oleh tangan Rio yang sesekali memecah kesunyian. Ify yang tidak tahu harus berbuat apa hanya memainkan pajangan jam pasir yang ada diatas meja. Saat sedang membolak-balik pajangan tersebut, ada rasa nyeri datang disekitar daerah perut Ify sehingga pegangan pada pajangan itu mengendur dan...
PRANGG...
Rio langsung terlonjak dari kegiatannya, sedangkan Ify langsung mengendalikan rasa sakitnya dan mulai untuk sedikit menunduk membersihkan pajangan yang jatuh. Rio langsung berdiri untuk membantu Ify membersihkan serpihan pajangan yang pecah. Namun posisi Ify sendiri tidak begitu menguntungkan dengan bekas luka operasi dan posisinya membuat itu tertekan. Ify menyembunyikan wajahnya yang hampir menangis karena menahan saklit yang luar biasa dengan rambut panjangnya. Tetapi begitu hendak ingin bersama-sama bangun membuang bekas pajangan yang pecah, tak sengaja Rio melihat ekspresi Ify. Ify semakin menunduk dalam.
“Cuma pajangan kok Fy, gak papa kok” Ucap Rio lembut berusaha menghibur.
Ify bernafas lega begitu Rio menganggapnya berekpresi seperti sekarang karena kaget pajangan itu pecah bukan karena menahan rasa sakit. Ify berusaha tersenyum.
Menyadari itu bukan senyum Ify yang biasanya Rio kembali bertanya. “Atau loe kena kacanya ya?” Tanya Rio.
Ify menggeleng. “gue gak papa kok” Ucapnya langsung berdiri, namun karena rasa sakit yang harus ditahannya, membuatnya limbung sendiri.
Bersamaan Rio berdiri dan langsung menahan tubuh Ify. “loe beneran gapapa?” Tanya Rio sambil memperhatikan wajah Ify.
Ify yang jengah sendiri diperhatikan seperti itu langsung membetulkan posisinya. “Gue beneran gak papa kok” Ucap Ify sambil melepas cengkraman Rio pada bahunya.
Rio hanya mengangguk-angguk. Suasana kembali hening, masing-masing dari keduanya tidak tau harus berbuat apa. Hingga suara pintu kembali memecah keheningan.
Rio dan Ify kompak menjauh satu sama lain dan mencari kegiatan. Rio kembali dengan LPJ yang tadi diserahkan Ify, sedangkan Ify masih berdiri menentukan harus berbuat apa.
Tak lama tampak Pak Duta dan Pak Dave yang berangsur masuk. Ify sudah mengira-ngira apa yang akan dilakukan Pak Duta dan Pak Dave diruang Osis sekarang, jadi dia putuskan untuk meninggalkan Ruang Osis secepatnya.
“Yo, gue duluan ya. Nanti kalo ada kekurangan loe bisa konsul ke Via. Gue nyusun ini bareng Via kok dan dia udah gue terangin semuanya.” Pamit Ify langsung cepat-cepat keluar dan ketika melewati Pak Duta dan Pak Dave yang memandangnya aneh Ify hanya berusaha tersenyum dan bersikap sebiasa mungkin.
Baru saja Rio ingin bertanya kenapa harus ke Via sedangkan Sekertaris Utama adalah Ify. Segera diurungkannya begitu melihat langkah terburu-buru Ify dan Pak Duta dan Pak Dave yang sengaja menemuinya bersamaan juga sudah dihadapannya.
***
“IFY” Panggil sebuah suara yang membuatnya mengangkat wajah yang sedari tadi menunduk.
Ify mempercepat langkahnya. “Apa Vi?” Tanyanya begitu sampai didepan Sivia, orang yang memanggilnya.
“Gimana? Udah loe taro?” Tanya Sivia.
Ify mengangguk. “Udah diterima dan dipelajari Pak Ketosnya langsung malah iya”
“Rio ada di RO?” Sahut Alvin yang sudah ada diatas motornya.
Ify menggedikan bahunya pelan. “Tadi dia lagi mempelajari LPJ minggu lalu kayaknya” Sivia dan Alvin meng’o’kan mulutnya.
“Fy, loe gapapa?” Celetuk Gabriel yang ternyata sudah berada dalam jaguar hitam miliknya.
“Emang kenapa?” Tanya Ify balik.
“Muka loe lebih pucat dari tadi pagi” Ucap Sivia memberi jawaban.
“Emang muka gue dari tadi pagi pucat ya? Kayaknya salah pake bedak” Sahut Ify santai.
Kompak. Gabriel, Sivia dan Alvin melengos.
Ify nyengir. “Iya, gue ngaku deh. Tadi di RO sempet sakit sedikit.” Jelas Ify “Eh, tapi sumpah, Cuma nyeri sedikiiiiittt banget” Ucap Ify sambil memeragakan jarinya yang agak menekan kuku dan menyipitkan matanya.
“Percaya gak yaaa” Ledek Sivia masih sanksi.
Ify cemberut. “Iya-iya. Sakit. Nyeri, perih banget, tapi Cuma sebentar. Tuh gue jujur”
Sivia dan yang lain hanya tersenyum kecut.
“Udah gak pinter ngibul loe Fy” Cibir Alvin.
Ify semakin manyun.
“Udah ayo pulang. Gue cape ini” Ajak Gabriel dari dalam mobil.
Ify menurut. “Gue duluan ya” Pamit Ify pada Alvia.
“Yoi, Hati-hati loe” Ucap Alvin diangguki Sivia.
Gabriel hanya mengacungkan jempolnya dan langsung kembali menutup kaca mobil sebelum akhirnya berjalan meninggalkan pelataran parkir Cagvairs.
Sepeninggal Fyel
“Pulang Vi?” Tanya Alvin sambil memakai helm fullfacenya.
“Gak, nginep!” Sahut Sivia asal.
Alvin langsung kembali melepas helm full facenya. “Yakin?” Tanyanya skeptis sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sivia. “Kata Pak Karyo satpam kita tercinta, kalo malem disini suka adaa.......”
“Alvin ayo pulang !” Potong Sivia cepat-cepat sambil mencubit pinggang Alvin.
“Aww, sakit Vi” Ringis Alvin.
“Bodo. Udah ayo pulang” Ucap Sivia jutek.
“Nyeh, ngambek”
“Engga, udah ayo cepet pulang. Udah sore nih” Ucap Sivia berusaha menetralkan suaranya.
“Maaf deh, tadi aku tuh....”
“ALVIN!”
Alvin dan Sivia kompak menengok kearah sumber suara. Tampak Rio yang sedang berlari kearah mereka. Alvin dan Sivia saling berpandangan dan kembali kompak mengernyitkan dahi mereka.
“Ify mana?” Tanya Rio to the point begitu sampai didepan Alvia yang masih saja memandang dirinya aneh.
“Ify mana?” Rio mengulang pertanyaannya, kali ini dengan nada lebih tegas melihat respon orang dihadapannya.
“Ha? Tadi.. Tadi udah pulang Yo bareng Gabriel” Jawab Alvin masih setengah sadar.
“Damn!” Umpat Rio yang langsung berlari menuju cagivanya dan memasang kunci serta memakai helm full facenya dengan terburu-buru.
“Ada apa Yo? Loe mau kemana?” Begitu melihat Rio langsung menyalakan mesin cagivanya.
Rio tidak menjawab, hanya gas yang disetel full meredam suara disekelilingnya, sebelum melajukan motornya dalam kecepatan maksimal.
“Vi ayo naik. Pegangan. Ada yang gak beres” Perintah Alvin yang diikuti Sivia langsung tanpa protes. Sama seperti Rio, Alvin juga langsung menstarter motornya dan kemudian dilajukan dengan kecepatan maksimal.
***
Rio tidak berkonsentrasi seutuhnya juga pada jalanan begitu mengingat kejadian di ruang osis sepeninggal Ify setelah kedatangan Pak Dave dan Pak Duta.
FLASH BACK ON
“Selamat sore Pak? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Rio sopan begitu Pak Duta dan Pak Dave duduk.
“Kami datang kesini, hanya untuk membicarakan ini” Ucap Pak Dave sambil mengangsurkan sebuah amplop putih kehadapan Rio, diikuti Pak Duta yang melakukan hal yang sama.
Rio mengangkat sebelah alisnya. Bingung.
“Amplop dari tangan saya berisi pernyataan bahwa Alyssa Saufika mengundurkan diri dari kepengurusan OSIS tahun ini” Jelas Pak Duta.
Mata Rio terbelalak maksimal.
“Dan dari tangan saya, merupakan pernyataan pengunduran diri Alyssa Saufika dari Captain Varaway, Team Inti sampe anggota Ekstra Basket” Jelas Pak Dave.
“APA??!” Rio langsung membuka dengan terburu-buru dua amplop yang ada dihadapannya dan mencermatinya secara cepat. Benar, memang tulisan Ify yang tergores disana.
“Apa kamu bisa memberi penjelasan soal ini? Bukan mau bagaimana, tapi saya rasa ini terlalu mendadak. Apalagi kita baru saja menang pertandingan kemarin dan menyelenggarakan acara OSIS” Jelas Pak Dave.
Rio berpikir keras, namun tetap tidak memunculkan jawaban apapun dalam otak brilliannya. Rio menghela nafas berat. “Maaf Pak, saya rasa kita bisa membicarakan ini besok lagi, saya akan mencari tahu dulu. Maaf saya tinggal duluan” Pamit Rio cepat sambil menyalami punggung tangan Pak Dave dan Pak Duta lalu berlari meninggalkan Ruang Osis dengan langkah-langkah panjang. ‘Sekarang apa lagi Fy?’ Bathin Rio.
FLASH BACK OFF
Fokus Rio kembali begitu penglihatannya menangkap Jaguar Hitam milik Gabriel. Tanpa pikir panjang, ditambah lagi kecepatan cagivanya hingga sampai 2 meter didepan mobil Gabriel lalu diremnya kuat-kuat hingga decitan ban beradu aspal memekakan telinga begitu berhasil memblokir jalan.
***
Gabriel yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar langsung menginjak rem dadakan Jaguar hitam miliknya begitu titiba ketika sebuah cagiva yang sudah tidak asing lagi memblokir jalannya. Apalagi si pengendara cagiva telah membuka helm fullfacenya. Gabriel langsung turun diikuti bantingan pintu mobilnya dan menghampiri Rio yang sudah stay didepan cagivanya.
“Loe gila ya?! Kalo gue gak reflek bisa ketabrak loe!” Maki Gabriel.
“Itu urusan nomor sekian Yel, untuk sekarang gue lagi gak mau membuang waktu sama loe. Gue Cuma mau bicara sama Ify” Ucap Rio santai sambil menunjuk Ify yang ternyata ikut turun dari mobil.
“Gak bisa, Ify harus istirahat karena dari kemarin pas balik dari Spore dia belum istirahat sama sekali. Belum lagi semalem begadang buat laporan” Larang Gabriel.
“Sekali ini aja Fy. Untuk seterusnya gue janji gak akan ganggu loe lagi” Pinta Rio memelas tanpa mengindahkan laragan Gabriel.
Ify menatap Gabriel yang menunjukkan ekspresi protes keras. Lalu memandang Rio dengan wajah permohonan. Lalu mengangguk. “Loe pulang duluan Yel, nanti dari sini gue janji langsung pulang naik taksi” Ucap Ify pada Gabriel.
“Tapi Fy...”
“Loe cape kan? Gue juga. Dan jangan nambah kecapean kita sama perdebatan yang gak penting ini. Loe pulang sekarang dan gue nanti nyusul” Bujuk Ify sambil mendorong Gabriel kembali kedalam mobilnya. Akhirnya Gabriel menurut. Rio menghela nafas lega dan langsung meminggirkan cagivanya memberikan akses jalan bagi Gabriel.
Sepeninggal Gabriel.
Berhubung tempat mereka berhenti tepat berada di hutan kota yang cukup sepi. Cukup mendukung agar mereka dapat berbicara tanpa harus terganggu hingar bingar keramaian.
“To the point Yo, gue janji sama Gabriel untuk pulang gak terlalu larut” Ucap Ify membuka percakapan setelah merasa siap dengan perkiraan yang akan dibicarakan Rio.
“Gue yakin loe tau apa yang mau gue bicarain, gue gak akan memaksa loe macem-macem. Gue Cuma mau loe menjelaskan secara suka rela.” Ucap Rio tegas.
“Apa yang harus dijelasin? Gue akan jelasin sepuas yang loe maksud hari ini” Tantang Ify. Yah. Memang harus hari ini, dia tidak akan menunda waktu lagi. Dia akan menjelaskan keseluruhannya.
Rio menghela nafas, menenangkan segala emosinya. “Pertama, apa maksud soal pengunduran diri loe dari seluruh kegiatan sekolah yang loe ikuti?”
Ify memandang Rio tajam sama seperti Rio memandang dirinya. Sudah diduga, pertanyaan inilah sebagai pembuka. “Gue harus bantu nyokap diperusahaan beliau, dan gue harus menghapus semua kegiatan yang menyita waktu” Jelas Ify, meski harus berbohong, tapi dia berharap Rio mau menerima keputusannya.
“Loe sadar? Semua yang loe hapus adalah kesukaan loe. Basket, organisasi...”
“Dan itu menyita waktu” Potong Ify cepat. “Lagipula minat gue gak Cuma itu kok. Ada beberapa kegiatan yang suka gue lakuin diwaktu senggang. Fotografi dan Musik” Jelas Ify.
“Itu hobby Gabriel” Lirih Rio yang memang mengetahui Gabriel adalah pengganti Alvin sebagai ketua Ekstra Fotografi karena Alvin menjabat ketua Ekstra Futsal.
Ify menghela nafas. “Bukan Cuma hobby Gabriel. Tapi hobby gue berdua sama dia dari semenjak kami masih kecil” Jelas Ify.
Rio memandang Ify tanpa ekspresi.
“Gua rasa Cuma itu pertanyaan loe” Ucap Ify berusaha menghindari tatapan Rio.
Rio reflek menggeleng cepat. Namun diwaktu yang sama Rio mendadak langsung bingung sendiri dengan apa yang berikutnya akan ditanyakannya.
Ify masih menunggu pertanyaan Rio berikutnya.
Rio menghela nafas berat, lalu menatap tajam dan dalam mata Ify yang ada dihadapannya. “Jelasin.. Jelasin tentang semua perasaan loe ke gue dengan jujur. Dan kenapa. Kenapa loe membuat hubungan kita kayak gini” Lirih Rio pelan, namun bagai sengatan listrik penyampaiannya pada kerja otak Ify. Dan seperti terhipnotis sendiri Ify langsung menunduk dalam. Logikanya mendadak berhenti bekerja.
“Ada 3 hal yang harus loe tau Yo” Bisik Ify lirih, bahkan ucapannya agak tertahan dengan tangis dipangkal tenggorokan. Namun dengan jarak yang begitu dekat. Rio masih dapat mendengar dengan jelas.
“Bilang semuanya Fy, gue siap denger walau itu nantinya akan nyakitin” Bisik Rio tak kalah lirih.
Aku sadar kalau kini..
Kita sudah semakin menjauh..
Sempat aku berpikir ini..
Kau yang menginginkannya..
Lepas dari pelukku..
Ify mengangkat wajahnya. Mencoba untuk menarik nafas dan kembali menghembuskannya untuk melepas sesak.
Oh.. Kini aku sadari..
Ini salahku.. Tak ingin kuterlambat dan sesali..
“Pertama. Untuk semua tentang kita. Semua perasaan gue, semua kata-kata yang pernah gue ucapin sama elo, tentang kita. Itu semua benar adanya. Semua itu tulus dari hati gue, gue gak mau membohongi elo atau perasaan gue sendiri. Kita punya perasaan yang sama, Gue akui loe lah yang pertama buat gue merasakan sesuatu hal yang berharga diluar family gue.” Ify mengusap pipi Rio lembut. “Untuk kesekian kalinya gue bilang... Mario... I love you” Ucap Ify lirih diakhir kalimat.
Rio memandang Ify teduh, merasa lega karena memang seharusnya di tak boleh ragu akan perasaan gadis ini terhadapnya. Namun disisi lain, ada rasa berontak tidak ingin mendengarkan pernyataan selanjutnya.
“Kedua, gak ada orang lain dalam perasaan ini. Tapi dalam suatu hal pasti akan ada bagian tambahan yang akan bercampur menjadi satu” Ucap Ify.
“Gue gak ngerti” Ucap Rio.
“Bagian tambahan yang gue maksud, pasti akan ada tokoh lain dalam cerita ini” Jelas Ify.
“Gabriel?” Tanya Rio hati-hati.
Ify menggeleng. “Kita udah berulang kali membahas ini. Dan jawaban gue tetap sama. Jangan sangkut pautin dia lagi” Pinta Ify.
“Terus? Siapa tokoh yang loe maksud? Apa yang akan loe mau dari gue?” Tanya Rio.
Ify memandang kearah lain, lalu berjalan agak menjauhi Rio. Namun begitu kurang lebih tiga langkah, Ify kembali berbalik, namun masih tetap ditempatnya. Pandangan Rio masih belum lepas dari Ify.
“Gue punya sahabat. Dia kehilangan beberapa bagian dihidupnya. Keluarga dan salah satu organ tubuhnya, meski sudah digantikan oleh orang lain” Cerita Ify.
Rio mulai paham dengan siapa yang diceritakan Ify, tetapi masih belum mengerti sepenuhnya apa yang akan maksud sebenarnya.
“Sama seperti gue. Dia butuh suatu bagian yang menyempurnakan. Tapi diluar dugaan, ternyata bagian yang dia maksud sama kayak bagian yang gue maksudkan sebagai ‘bagian yang menyempurnakan’” Suara Ify hampir menghilang oleh tangis yang sudah ditahannya dari tadi.
Mata Rio terbelalak maksimal setelah mendengar kata-kata Ify barusan. Lalu langsung menghampiri Ify cepat dan mencengkram bahu gadis itu yang telah dihadapkan kepadanya. Tapi sayang, Ify tetap menunduk.
“Jadi selama ini... Shilla suka sama gue Fy?” Tanya Rio to the point.
Melihat wajah Ify yang terus menunduk. Rio mengangkat wajah tersebut untuk menatap dirinya. “Jawab gue. Shilla beneran suka sama gue?” Tanya Rio lagi dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya.
Ify memejamkan matanya berusaha menunda air yang sudah menggenang dipelupuk matanya. Lalu mengangguk pelan. Rio melepas cengkramannya pada bahu Ify. Sedangkan Ify mulai kembali mengatur nafasnya agar tidak menjadi isak.
“Yang terakhir...”
“Loe nyerah?” Potong Rio kepada pernyataan Ify yang ketiga. “Loe nyerah dan gamau pertahanin gue? Cinta elo ke gue?”
“Jangan bodoh! Gue mana bisa bertahan sendiri” Ucap Ify yang akhirnya menangis.
Sebenarnya Rio tidak tega gadis dihadapannya yang dari tadi dia tau berusaha kuat kini mulai melemah. Ingin rasanya direngkuhnya gadis itu. Tapi saat ini egonya malah ingin berkuasa.
“Loe gak sendiri. Ada gue” Lirih Rio yang tidak bisa berbuat apapun ketika Ify mundur selangkah ketika Rio berniat mendekatinya.
Ify menggeleng lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk menekan tangis. Rio membiarkannya sampai gadis itu agak tenang.
Langit sore yang agak mendung, justru makin menambah sendunya suasana diantara dua insan tersebut. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya Ify mengatur nafasnya agar lebih tenang. Dan Rio masih setia menanti kata-kata penjelasan dari mulut Ify.
“Shilla sahabat gue Yo. Tapi loe yang berhasil membuat dia senang dan bersemangat. Dukungan dan perhatian loe kedia beneran membuat dia semangat Yo. Loe liat saat ada loe? Fisiknya selalu dalam keadaan stabil. Sedangkan saat loe bersama gue fisik dia menjadi sebaliknya. Selalu dititik bawah.” Ucap Ify dengan pandangan menerawang.
Rio tidak berkomentar, biarlah penjelasan itu tuntas agar dia tahu apa saja yang harus dijelaskannya.
“Apa kata orang lain seandainya loe bersanding sama pembunuh sahabat kayak gue? Apalagi gue itu sama aja ngebunuh dia secara perlahan.” Lirih Ify.
Rio memandang Ify sayu. “Loe bukan Ify yang gue kenal.....”
“Ify yang loe kenal gimana Yo? Ify yang loe kenal punya titik bawah Yo. Seperti apa yang ada dihadapan loe saat ini” Potong Ify.
“Kenapa loe gak ngasih gue pilihan?” Tanya Rio pelan.
“Karena emang gak ada dua pilihan. Hanya satu. Satu nama... Ashilla..” Ucap Ify.
“Loe juga pilihan” Bantah Rio.
Ify menggeleng. “Buat apa loe memilih hal yang gak mungkin bisa dijalani? Gue dan Shilla bukan barang yang bisa loe pilih Yo...”
“Kalo gitu gue juga bukan barang yang seenaknya bisa loe atur Fy. Gue punya hati ! Hati gue gak bisa dipindahkan atau diatur seperti apa kemauan loe. Gue punya hak untuk memilih!” Bentak Rio.
Ify agak mengkeret mendengar bentakan Rio. Hatinya justru membenarkan setiap ucapan Rio.
Maafkan lah bila kuselalu..
Membuatmu marah dan benci padaku..
Kulakukan itu semua..
Hanya untuk buatmu bahagia..
“Maaf” Ucap Rio menyesal begitu melihat reaksi Ify. Rio berjalan lebih mendekat kearah Ify. Ify tidak lagi menghindarinya seperti tadi.
“Seperti kata elo Fy” Ucap Rio melembut. “Semua orang dihidup kita selalu punya bagian masing-masing. Shilla, Shilla menempati bagian teman, sahabat yang merupakan bagian dari hidup. Sedangkan elo? Elo menempati semua bagian itu Fy. Elo pelengkap disemua bagian yang ada dihidup gue. Elo bisa jadi sahabat gue, rival gue sampai teman dari hati gue. Elo gak ada sama aja membuat setiap bagian dalam hidup gue berlubang tanpa ada yang bisa untuk menutupnya” Rio mengucapkannya dengan segenap hatinya.
Ify benar-benar menangis mendengar kata-kata Rio. ‘Gak bisa. Gak bisa begini terus’ Bathin Ify. Ify mulai mengendalikan dirinya dan langsung menghapus air matanya dengan cepat.
“Gue gak mau menyakiti loe lebih jauh. Gak mau membuat loe khawatir dengan keadaan gue dalam situasi apapun. Ini semua udah berakhir Yo. Shilla yang terbaik buat elo. Dia tulus sama elo. Siapa yang membantu loe ngerjain tugas kelompok saat Cakka mangkir? Shilla!. Siapa yang rela nemenin loe ngobrol dipinggir lapangan, sementara gue dan yang lain asyik ditengah lapangan? Shilla!. Siapa yang membawakan minuman saat elo capek latihan basket terus-terusan? Shilla!. Siapa yang...........”
“CUKUP FY! CUKUP” Bentak Rio tanpa bisa menahan dirinya lagi memotong segala ucapan Ify.
Ify langsung terdiam.
Mungkin ku Cuma tak bisa pahami..
Bagaimana cara tunjukkan maksudku..
Aku.. Cuma ingin jadi.. Terbaik untukmu..
Rio menghela nafasnya berat. “Siapa yang membuat gue gak anti social lagi? Ify!. Siapa yang membuat Alvin sahabat gue lebih terbuka lagi? Ify!. Siapa yang menyelamatkan nilai gue dari dulu dalam pelajaran biologi? Ify!. Siapa yang mau capek-capek nemenin gue buat ngurus anak kecil dengan penyakit jantungnya? Ify! Siapa yang membuat adek gue Ray lebih mau jadi dirinya sendiri? Ify! Siapa cewek pertanma yang ngerebut hati nyokap gue? Ify! Siapa yang..........”
“STOP YO. UDAH CUKUP” Jerit Ify sambil menutup kedua telinganya. Jerit yang bercampur tangis. Ify kembali mundur beberapa langkah menjauhi Rio.
Rio masih tidak mau kalah dengan tetap mendekati Ify. “Rio kayak gimana Fy? Rio kayak gimana yang membuat Ify tetap disamping Rio? Rio kayak gimana yang membuat Ify bertahan dengan sikapnya? Rio kayak gimana? Apa gue harus jadi ‘Rio’ yang dulu? Rio yang selalu dikejar-kejar Ify Cuma buat diajak ngobrol gak penting? Gue akan jadi kayak gitu, asal loe tetap disamping gue. Tetap bertahan memperjuangkan gue” Ucap Rio sambil pergi meninggalkan Ify yang masih terisak sendirian.
***
“Dia lagi tidur sekarang Vin. Seenggaknya sekarang dia lebih baik dari pas pertama ketemu tadi sore sama kita” Jelas Sivia via telepon genggamnya bersama Alvin sambil sesekali melirik Ify yang sudah beristirahat ditempat tidurnya. “Gimana tadi kamu sama Rio?” Tanya Sivia lagi.
“Agak sedikit bonyok sih hehe. Tapi berhubung aku sempet bales, jadi kita bonyok barengan deh” Ucap Alvin sambil terkekeh.
“HAH? Kamu berdua ngapain? Kan aku bilang jangan macem-macem” Sivia mulai mengomel bercampur rasa khawatirnya.
“Santai dong Sivia.. Cuma sedikit kok. Itu masih jauh lebih mending dibanding kita sama-sama mati karena kecelakaan akibat kebut-kebutan tadi” Ucap Alvin santai.
“ALVIN!” Bentak Sivia jutek.
“Iya.. Iya, maaf sayang. Abis kamu khawatir banget sih. Cuma luka kecil kok.” Ucap Alvin menenangkan.
“Bukan soal luka kecil Vin. Kamu ngerti dong keadaannya sekarang gimana? Aku udah cemas setengah mati sama Ify yang ada disamping aku sekarang dalam keadaan begini, kamu juga bikin aku cemas lagi dengan berantem sama Rio. Gimana ceritanya sampai kamu bisa berantem sama Rio?” Ucap Sivia panjang lebar.
Sementara diseberang sana. Alvin tersanjung dengan ucapan Sivia.
“Iya.. Iya. Aku minta maaf okey. Oke aku cerita. Tapi kamu jangan marah atau ngambek ya?” Tanya Alvin.
“Tergantung ceritanya” Sahut Sivia males-malesan.
“Vi..”
“Iya, cepetan ceritaa” Janji Sivia.
“Sip. Jadi tadi.......”
FLASH BACK ON
Sepeninggal Rio. Alvin dan Sivia yang sedari tadi memang sengaja membuntuti Rio dan bersembunyi dibalik pohon hingga sempat menyaksikan setengah kejadian yang lumayan menyesakkan dada tersebut langsung menghampiri Ify yang masih terisak sendirian. Sivia langsung berlari lebih dahulu menuju Ify dan memeluk sahabatnya tersebut.
“Udah Fy, nanti Rio juga ngerti kok. Udah ya jangan nangis” Hibur Sivia menenangkan Ify.
“Sakit Vi...” Lirih Ify
“Loe istirahat dirumah gue ya. Loe bisa cerita seandainya loe udah tenang, kapanpun loe mau” Bujuk Sivia. Ify hanya mengangguk dan mulai berdiri atas bantuan Sivia.
“Kalian pulang naik taksi aja ya. Gue ada urusan yang harus gue selesaikan sama dia. Kalian hati-hati” Ucap Alvin cepat-cepat.
“Kamu juga. Dan jangan macem-macem” Pesan Sivia.
Alvin hanya mengacungkan jempolnya sambil berlari kearah motornya untuk mengejar Rio.
***
Alvin benar-benar mengendarai motornya seperti di arena balapan. Tidak peduli pada pengguna lalu lintas lain yang kemungkinan siap menerjang dirinya. Tapi usahanya tersebut tidak sia-sia begitu melihat Rio sudah tertangkap dipenglihatannya sambil membawa cagiva putih miliknya dengan kecepatan yang sama. Alvin langsung menambahkan kecepatan motornya dan berusaha mendahului Rio dan memblokir jalan sahabatnya itu. Berhasil!
Begitu sudah sekitar 5 meter didepan motor Rio, Alvin langsung memberhentikan motornya ditengah-tengah dengan posisi menghalau jalan. Untunglah Rio memasuki daerah yang cukup sepi sehingga tidak ada aksi protes dari pengguna jalan lain karena perbuatannya.
Rio yang melihat Alvin mengerem mendadak langsung menekan remnya kuat-kuat agar tidak sampai menabrak motor sekaligus penggunanya tersebut.
Tidak dapat dielakkan. Suara decitan ban motor beradu dengan aspal benar-benar memecah keheningan tempat tersebut. Tepat sekitar 10 cm jarak motor Rio dan Alvin. Motor Rio benar-benar berhenti. Rio langsung cepat-cepat menstandarkan motornya dan menghampiri Alvin penuh emosi.
“Heh! Loe mau mati Vin? Gila loe ya!” Bentak Rio sambil mencengkram kerah kemeja Alvin.
Alvin langsung mendorong Rio kasar. “Loe pikir loe juga gak mau mati apa ngendarai motor dengan kecepatan segitu”
“Loe juga bego ngebahayain diri loe begitu!” Balas Rio mendorong kasar Alvin.
Berhubung mulai tersulut juga, Alvin langsung memukul pelipis Rio. Rio terjatuh, dan Alvin langsung kembali membuat Rio berdiri dengan cengkraman dikerah baju Rio. “Sahabat macam apa gue kalo ngebiarin loe mati sendirian?” Bentak Alvin.
Gantian Rio mendorong kasar Alvin dan memukul pelipisnya. “Jangan Bego! Ngapain gue kalo mau mati bawa-bawa elo”
Alvin kembali memukul Rio. “Bisa gak loe lampiasin dengan cara lain? Mati gak membuat masalah loe selesai!”
Rio kembali membalas Alvin sampai Alvin benar-benar tersungkur. “Loe gak ngerasain apa yang gue alami sekarang Vin. Tau apa loe?”
Dengan sisa tenaganya Alvin langsung mendorong Rio kasar hingga kembali terjatuh. “Selalu itu yang loe ucapin ketika loe ada masalah. Gue emang gak ngalamin, tapi gue ngerasain Yo. Tau apa gue? Gue sahabat loe. Gue kenal loe. Loe yang selalu berusaha ngertiin gue. Tapi kenapa gue gak pernah loe kasih kesempatan untuk mengerti loe? Gue sahabat loe kan? Gue sahabat Ify. Gue tau apa yang kalian rasain meski gue gak ngalamin. Tapi bukan gini cara loe buat lari” Bentak Alvin.
Rio terdiam. Mencoba mencerna seluruh perkataan Alvin.
“5 Tahun loe mengenal Ify. Seharusnya loe mengerti karakter dia. Dan gak seharusnya loe begini” Ucap Alvin lirih.
Rio memandang Alvin. “Pada kenyataannya, gue emang gak pernah tau apa yang selama ini dia pikirin. Waktu memang lama Vin. Dia emang selalu deket gue Vin. Tapi sayang dia gak pernah tergapai. 5 Tahun ini memang gak membuat gue mengenal dia sepenuhnya” Ucap Rio sambil mengusap kasar hasil “karya” Alvin pada ujung bibirnya. Lalu bangkit dan berjalan agak tertatih menuju cagivanya untuk kembali berpacu meninggalkan Alvin yang menatapnya penuh permohonan maaf. Maaf karena tidak memberi tahu segalanya.
FLASH BACK OFF
“Gitu Vi.. Eh aku pukul-pukulannya gak beneran kok” Ucap Alvin langsung segera mengklarifikasi.
“Tetap aja bikin bonyok. Awas ya, kalo besok ketemu disekolah gak ganteng. Kita putus” Cibir Sivia.
“Yah.. Yah.. Vi. Dalam keadaan gimana pun tetap aja aku ganteng Vi. Malah makin macho karena ada bekas luka nya” Ucap Alvin.
“Iya, mantan copet” Cibir Sivia.
“Kok mantan copet sih?” Protes Alvin.
“Kan copet banyak bekas luka tuh gara-gara doyan berantem” Jelas Sivia.
“Idihhh.. Mana ada copet ganteng kayak aku. Tapi iyasih. Aku emang copet” Ucap Alvin.
“Hah?” Sivia cengo.
“Pencopet hatimu sayanggg” Gombal Alvin.
Walau kini Sivia tidak dihadapannya sekarang. Alvin yakin jika pipi chubby gadisnya itu pasti sudah memerah.
“Apaan sih. Jayusss” Gerutu Sivia.
“Jayus jayus kalo muka kamu merah awas lho” Ucap Alvin.
“Awas kenapa?” Tanya Sivia
“Aku cium” Jawab Alvin
“Berani?” Tantang Sivia
“Kenapa gak?” Ucap Alvin santai.
“Ehh aku bercandaaa..” Ucap Sivia gelagapan
Alvin terkekeh.
“Yaudah, udah malem. Kamu istirahat ya. Next to youu tomorrow. Have a nice dream my dear” Ucap Alvin.
“You too” Jawab Sivia sambil mengakhiri ambungan teleponnya.
***
Cafetaria SMA Cagvairs.
“HAVE A TIME BREAKFASTTTTT” Ucap Deva semangat sampai beberapa penghuni cafetaria melihat kearahnya. Deva nyengir.
“Norak loe jenglot, kayak baru ketemu aja” Ucap Ray sambil menoyor Deva.
“Heh pion catur diem loe. Gak gue bayarin loe ya” Ancam Deva.
“Dasar kutuuuu... Loe gak bayar. Gue , Elo , UNFOL (?)” Ucap Ray.
“Unfol balik lah susah amat” Sahut Deva cuek sambil memakan mie ayamnya.
“Rayyy, jangan bertingkah deh. Elo yang bayar ya makanan kita-kita” Ucap Obiet sambil menikmati baksonya.
“Kok gueeee?” Sahut Ray histeris.
“LEBAYYY” Sahut Deva, Obiet dan Lintar bersamaan.
“Gara-gara elo kan ntar Deva ngambek. Nggak nraktir dah” Sahut Lintar. “Kalo Deva gak bayar, berarti loe harus rela berkorban cuci mangkok buat bayar makanan kita-kita” Lanjutnya.
“Idiiihhh. Dev, loe gak ngambek kan?” Tanya Ray.
“Hmmm” Sahut Deva malas-malasan.
“Devv” Rengek Ray.
“Hmmm”
“PING (?)” Ucap Ray sambil menjawil pinggang Deva.
“Apadeh loee” Sahut Deva masih cuek.
“Devaaaa” Panggil Ray sambil mencolek pinggang Deva.
“Apaan sih RAY ??!!” Jawab Deva dengan partikel mie ayam agak muncrat kesana-kemari.
“JOROKKKK!!” Ucap Ray, Lintar dan Obiet bersamaan.
“Lagian gue diajak ngobrol” Ucap Deva lengkap dengan muncratnya (?)
“Gue Cuma manggil..” Protes Ray.
“Kan gue lagi makan” Balas Deva sambil meneguk minumannya.
“Ehh.. Eh.. Loe pada ribut sendiri deh. Itu kenapa jadi dua kubu gitu sih?” Tanya Lintar sambil menunjuk kearah kakak-kakak mereka.
Dimeja yang dekat dengan pintu cafetaria ada Rio, Cakka, Ozy, Dea, Zevana, Angel, Zahra, Acha, Agni dan Shilla yang baru saja masuk sekolah. Sedangkan dimeja lain yang agak kepinggir tanpak Alvin, Gabriel, Sivia dan Ify.
“Kak Ify lagi sakit Dev? Tanya Obiet, begitu melihat wajah Ify agak pucat.
“Gatau, semalem dia nginep dirumah Kak Via. Tadi pagi aja gue jadi harus bareng sama Keke Kedondong gara-gara nganterin baju kak Ify. Dan Keke harus berangkat pagi karena piket tapi gak ada barengannya” Jelas Deva.
“Ohh” biet hanya meng’o’kan mulutnya.
“Tapi seneng kan Dev” Ledek Ray.
“Apaan sih loe. Biasa aja kali” Ucap Deva cuek.
“Itu kenapa muka Kak Rio sama Kak Alvin pada bonyok deh berdua” Tanya Lintar yang lebih mengarah pada Ray.
“Kalo kak Rio katanya jatuh dari motor. Tapi gue gak yakin. Kalo kak Alvin gue kurang tau” Jawab Ray.
Yang lain hanya meng ‘o’ kan jawaban Ray.
“TEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTTTTTT” (?) Bel tanda selesainya waktu istirahat berbunyi.
“Cabut guys!” Koor Deva diikuti yang lain.
Saat menuju pintu keluar ternyata ada insiden yang membuat mereka harus berhenti dahulu.
***
“TEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTTTTTT” (?) Bel tanda selesainya waktu istirahat berbunyi.
“Kekelas yuk!” Koor Alvin diikuti yang lain.
Namun karena suasana cafetaria pada jam istirahat pertama begitu padat sehingga mau tidak mau pun agak berdesakan saa keluar pintu cafetaria. Disaat itulah, Ify agak terdorong sehingga juice alpukat yang tadi ditangannya terlepas hingga tumpah mengenai orang lain. Begitu mengetahui siapa yang terkena tumpahan juice tadi. Ify tercengang. Cafetaria yang tadinya ramai justru menghening begitu adanya kejadian ini.
“Aduhh, sorry banget Shill. Sweater loe jadi kotor gini. Maaf gue gak sengaja” Ucap Ify panik sambil berusaha membersihkan sweater Shilla dengans sapu tangan miliknya.
“Udah Fy, gapapa kok. Cuma kena sweater ini” Ucap Shilla. “Sini biar gue bersihin sendiri” Ucap Shilla sambil mengambil sapu tangan Ify.
“Aduhh, gue beneran minta maaf. Tadi gue kedorong dan juice itu.........”
“Alah, mau bilang sengaja aja kok repot ngarang cerita Fy?” Sindir Angel.
Mata Ify terbelalak maksimal.
“Heh, nenek lampir. Ikut-ikut aja loe. Ify tuh beneran gak sengaja” Sahut Sivia.
“Maling ngaku mah penjara penuh neng” Lanjut Zahra.
“Loe lagi. Shilla aja fine. Kenape loe yang repot sih?” Balas Sivia gak mau kalah.
“Udah Vi udah” Ucap Ify menenangkan.
Sedangkan Gabriel dan Alvin masih memilih stay melihat keadaan.
“Loe bilang aja Fy? Iri kan liat Rio sama Shilla? Dari tadi kan loe selalu ngeliat kearah kita?” Ucap Zevana.
Ify melotot mendengar ucapan Zevana. Mau tidak mau langsung menatap Shilla dan Rio yang kini juga tengah menatap dirinya. “Gue? Iri? Untuk apa?” Ucap Ify tidak terima.
“Ya siapa tau aja loe ngarepin Rio dan ada niat jelek. Karena Rio deketnya sama Shilla.” Sahut Dea.
“Yang ada niat jelek itu Ify apa elo De?” Sindir Sivia.
Dea memandang tajam kearah Sivia.
“Udah deh, gak usah diperpanjang. Kalian itu jadi tontonan” Seru Obiet dari belakang. “Nih, kak. Loe bisa pake sweater gue dulu” Ucap Obiet sambil mengangsurkan sweaternya kearah Shilla.
“Gak usah Biet, gue juga tadi emang mau lepas kok” Ucap Shilla sambil melepas sweaternya lalu kembali menyeruput minumannya. Tiba-tiba Dea mengambil minuman Shilla lalu berniat menyiramkannya ke baju seragam Sivia, tapi sayangnya Ify langsung mengambil posisi tepat disamping Sivia langsung pindah kedepan Sivia sehingga seluruh minuman yang disiramkan Dea malah mengenai bajunya.
Suasana langsung menghening.
Sivia yang tadi mau langsung memaki-maki Dea, gerakannya langsung tertahan begitu Gabriel tiba-tiba maju kedepan dengan wajah tanpa ekspresinya dan memandang tajam kearah Dea. Dea lumayan takut dipandangi Gabriel seperti itu. Shilla yang mengerti keadaan langsung pindah kedepan Dea. “Maafin Dea Yel.. dia....” Ucapan penyesalan Shilla langsung terhenti begitu sosok tinggi Rio berdiri didepannya menghadap Gabriel seakan menantang.
Ada rasa sesak di hati Ify begitu melihat sikap Rio yang seakan melindungi Shilla atau lebih tepatnya Dea. Ify memilih membuang pandangannya.
Rio menatap Gabriel tajam. Begitupun sebaliknya. Tiba-tiba Gabriel melempar senyum meremehkan kearah Rio. Rio yang tidak mengerti arti dari senyum Gabriel hanya tetap stay cool ditempatnya. Perlahan Gabriel mencopot kancing kemejanya satu persatu, hingga tersisa satu kancing lagi, Gabriel lebih memilih menariknya sambil melepas kemeja SMA Cagvairs hingga membuat kancing malang itu justru tergantung tidak utuh. Gabriel tidak menyesali kebiasaannya memakai kaos hitam sebagai rangkap seragamnya, terutama sangat mendukung disaat seperti ini.
Rio terbelalak dengan apa yang dilakukan Gabriel. Belum lagi setelah itu Gabriel langsung berbalik kearah Ify dan memasangkan kemejanya menutupi bekas siraman minuman Shilla dibajunya.
“Loe bisa pake itu buat nutupin baju kotor loe sampai koperasi nanti. Kita ketemu disana ya” Ucap Gabriel lembut sambil menepuk puncak kepala Ify. Ifye menunduk lalu mengangguk kecil.
“Vi, tolong anter ya” Pinta Gabriel pada Sivia yang masih terpana juga atas perbuatan Gabriel.
“Hah? Iya.. Ayo Fy” Ucap Sivia menurut dengan setengah tersadar lalu menuntun Ify melewati kerumunan untuk pergi ke koperasi.
Setelah kepergian dua cewek itu mendadak suasana kantin langsung riuh setelah tersadar atas keterpanaan mereka.
“Astagaaa, itu so sweet sumpahh!!”
“Itu anak baru.. Pesonanya kayaknya melebih Rio dehh”
“Seandainya gue ceweknya.. kyaaa”
Gabriel hanya tersenyum miring mendengar pujian-pujian untuknya. Lalu kembali menatap Rio yang ternyata sudah mengendalikan dirinya. Dan balik memandangnya datar. Rio membuang muka. Lalu memutuskan pergi dari cafetaria secepatnya.
Sepeninggal Rio
“Ke koperasi Yel. Loe juga butuh baju baru” Ajak Alvin.
“Yoi” Patuh Gabriel sambil mengikuti Alvin yang berjalan duluan dan melewati kerumunan yang tadinya memenuhi pintu hingga membentuk jalan sendiri.
***
“DAMN!!” Amuk Rio sambil meninju tembok ruang musik. Ya, satu-satunya ruangan yang sudah pasti kosong karena hanya akan digunakan saat tertentu saja.
Mata Rio memandang Grand piano putih yang memang sengaja ditempatkan ditengah ruangan sebagai point of room. Alat musik yang justru mengingatkannya pada gadis itu.
“Apalagi Fy kali ini? Apa gue harus mempertahankan elo dulu sebelum elo mau mempertahankan gue?” Gumam Rio.
Rio menyeret langkahnya menuju grand piano putih lalu duduk didepannya dan mulai menekan tuts tuts yang diharapkan mewakili perasaannya kali ini.
Tak kusesali cintaku untukmu..
Meskipun dirimu tak nyata untukku..
Sejak pertama.. kau mengisi hari-hariku..
Aku tlah meragu.. Mengapa harus dirimu..
Aku takkan bertahan..
Bila tak teryakinkan..
Sesungguhnya cintaku..
Memang hanya untukmu..
Sungguh ku tak menahan..
Bila jalan suratan..
Menuliskan dirimu..
Memang bukan untukku.. selamanya..
Kadang aku lelah.. menantimu..
Pastikan cinta untukku..
Aku takkan bertahan..
Bila tak teryakinkan..
Sesungguhnya cintaku..
Memang hanya untukmu..
Sungguh ku tak menahan..
Bila jalan suratan..
Menuliskan dirimu..
Memang bukan untukku.. selamanya..
“Elo.. Gue.. Shilla.. Gabriel.. Gue harus apa Fy?”
***
Cheers (;!!!
Trisil {}
That's All Cause Ify Part 35b
PRITTTTTT...... Peluit tanda berakhirnya pertandingan basket putra yang juga menutup pertandingan hari ini memenuhi Lapangan indoor. Sorakan gembira dari para pendukung Cagvairs langsung menyusul begitu peluit panjang telah selesai dibunyikan. Permainan yang meningkat dalam babak kedua membuat team Varaway Cagvairs jauh lebih unggul dari OverCross. 67-44. Dan kemenangan dipihak Cagvairs. Begitupun dengan Team Varaway Putri. Meski dengan perbedaan score yang teramat tipis dengan OverCross yaitu 56-54.
“Menang Broo” Seru Cakka sambil merangkul Rio dan Alvin bersamaan lalu saling bertukar tos dengan Gabriel, Obiet dan Ozy serta Debo yang tidak bermain dalam babak kedua. Team Varaway Putri tidak kalah antusiasnya dengan Varaway Putra. Dan Team Cheers dari SMA Cagvairspun semakin bersemangat dalam memandu sorak-sorai.
“GO... GO.. VARAWAY... GO !! GO.. GO.. CAGVAIRS.. GO...”
“Agniiiiiiii, congratss” Ucap Acha sambil memeluk Agni.
“Thanks Cha.” Ucap Agni semangat.
“Yang lain juga ya” Lanjut Acha sambil melihat kepemain lain Varaway Putri.
Yang lain hanya mengangguk dan tersenyum antusias.
“Calon MVP loe bro” Ucap Alvin sambil mendorong bahu Rio pelan.
Rio terkekeh. “Amin” lalu mengedarkan pandangannya kesekeliling. Membuat Alvin mengikutinya.
“Kayaknya mereka masih di RuKes” Jelas Alvin seperti menebak pikiran Rio.
Rio mengulum senyum. “Tuh mereka” Rio menunjuk kearah pintu masuk, tampak Ify yang berjalan dengan bantuan Sivia yang memapahnya.
“Samperin” Koor Alvin sambil berlari lebih dulu. Yang langsung diikuti Rio.
Begitu melihat kedatangan Alvin dan Rio. Sivia memilih untuk berhenti memapah Ify.
“Gantian Vi” Tawar Rio sambil berdiri di sisi kiri Ify.
Sivia tersenyum maklum dan mulai melepas rangkulannya pada Ify.
“Gue kesana duluan ya Yo, Fy” Pamit Alvin begitu tangan Sivia sudah ada digenggamannya. Rio dan Ify mengangguk setuju.
Sepeninggal Alvia, Rio menghadapkan Ify padanya. “Nangis lagi ya?” Tanya Rio sambil mengusap pipi Ify.
Ify tersenyum kecut.
“Hobi banget sih akhir-akhir ini loe nangis?” Ucap Rio sambil mencubit hidung Ify.
Ify memukul lengan Rio pelan. “Loe pikir gak sakit apa dikompres air hangat tadi?” Gerutu Ify.
Rio terkekeh. “Cuma karena itu doang?” Tanyanya skeptis.
Ify mendelik. “Emang maunya karena apa lagi?” Tanya Ify balik.
“Gue maunya elo gak nangis lagi” Ucap Rio serius.
Ify melengos. ‘Gak mungkin’ Bathinnya.
“Pake ngelamun, oh ya, gue udah menang ini. Dan gue kasih kemenangan ini untuk elo. So, bisa kasih jawaban atas pertanyaan gue tadi?” Tanya Rio.
“Ini BB loe” Ucap Ify tanpa mempedulikan pertanyaan Rio.
“Oke, tolong jangan ngalihin lagi, siapa gue buat elo?” Tanya Rio lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
Ify menatap Rio dalam. Lalu menghembuskan nafasnya pelan. “Elo bagian dari hidup gue” Jawab Ify singkat.
Rio mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi karena tidak puas dengan jawaban Ify. “Cuma bagian? Itu artinya gue sama seperti orang-orang yang ada dihidup loe?” Tanya Rio.
Ify mengangguk.
“Gue bukan apa-apa dihidup loe? Dan mungkin saat bagian gue hilang, hidup loe masih akan berjalan dengan bagian pengganti lainnya?” Tanya Rio memastikan.
Ify terkekeh. “Sok tau” Cibirnya.
“Oh ya?” Tanya Rio skeptis. “ Gue memang bagian dari hidup loe kan? Gue gak memiliki tempat istimewa dalam hidup loe”
“Semua orang yang gue kenal, mempunyai space masing-masing” Tanggap Ify.
“Except me” Sahut Rio.
Ify tersenyum kecil. “Sok tau ! Berasa ngerti seluruh diri gue aja”
Rio menggedikkan bahunya.
“Loe itu bagian dari hidup gue, bagian dari pemilik tempat di hati gue, bagian dari segala sesuatu yang ada dihidup gue. Dan loe tau? Loe emang gak gue katakan sebagai sesuatu yang istimewa tetapi buat gue, elo lah bagian yang menyempurnakan. Tanpa elo, mungkin masih ada bagian lainnya, tapi untuk bagian yang membuat sempurna takkan mudah terganti dengan bagian lain” Jelas Ify jujur.
Rio speechless.
“Ada yang kurang dalam penjelasan gue?” Tanya Ify.
Rio tersadar dan hanya menggaruk-garuk tengkuknya. “Terus kenapa kemarin elo tiba-tiba mutusin gue, elo...”
“RIO IFY, Kita cabut ke rumah sakit sekarang. Shilla kritis sekarang. Gue rasa operasinya akan dipercepat” Ucap Agni memotong ucapan Rio.
“APA?” Ify shock.
“Cuma perkiraan gue Fy” Sahut Agni menenangkan
“Oke kita kesana sekarang” Komando Rio sambil membantu Ify berjalan kearah parkiran.
***
Rumah Sakit
Rio dkk berjalan dengan tergesa kearah ruangan tempat Shilla mulai diopname. Namun tetap saja masih agak lambat karena menyesuaikan kecepatan Ify berjalan yang dibantu dengan Rio.
“Adaa yang liat kak Iyel?” Tanya Deva tiba-tiba sambil bolak-balik menyusur kerumunan Rio dkk.
“Dia kan emang suka ngilang, lagian tadi dia jalan duluan kan?” Tanya Rio memastikan.
“IFY!” Panggil suara dengan nada tenang berwibawa menghentikan langkah Rio dkk dan menoleh kesumber suara.
“Dokter Tian” Ucap Ify senang. Begitu mengetahui siapa yang memanggilnya yaitu Dokter Tian, lengkap dengan Gabriel, kakaknya disamping dokter Tian sambil memegangi kursi roda.
Dokter Tian berjalan menghampiri Ify. “Akhirnya kamu jadi pasien saya” Ledek Dokter Tian.
Ify melengos.
“Baik, sepertinya harus ada yang direparasi dari nona independent ini. Ify dan Deva tinggal, sementara yang lain bisa langsung menemui Shilla yang sudah agak pulih” Ucap Dokter Tian.
Dengan berat hati, dan juga separuh tidak rela karena harus melihat cara Gabriel memperhatikan Ify membuat Rio memilih meninggalkan tempat setelah membantu Ify duduk dikursi Roda.
***
Dokter Tian tengah serius memeriksa cedera pada tulang kering dan pergelangan kaki Ify.
“Kenapa bisa begini sih Fy?” Ucapnya khawatir.
“Orang lagi main malah kesengkat, yaudah” Jawab Ify sekenanya.
“Untuik pergelangan sih kayaknya sudah jauh lebih baik daripada pertama kali kamu cedera. Tapi tulang kering kamu ini. Mungkin efek tegang dan dibawa jalan cepat tadi” Komentar Dokter Tian.
“Tuhkann. Elo sih kak Gengsi. Tadi kan sama kak Rio mau digendong, eh elo nekat jalan. Akhirnya tuh” Cerocos Deva.
“Anak kecil gak usah komentar ya” Ancam Ify.
“Biasa Dev, Gengsinya gede. Ga inget apa dilapangan udah padah gigit sendal karena Rio ngegendong cewek buat ke RuKes” Lanjut Gabriel iseng.
“Terus aja teruss” Rengut Ify.
“Dan tadi tuh, katanya ada yang hampir nangis gara-gara pergelangan kakinya diurut” Lanjut Deva.
“Heh? Tau dari mana loe?”
“Tadi Ray, nanya-nanya. Eh Kak Rio cerita” Ucap Deva santai.
“Pupbayyy rese!!” Gerutu Ify.
“Sudah-sudah. Besok pagi selesainya ini kalo kalian debat terus.” Ucap Dokter Tian sambil terkekeh. “Masih aja kayak dulu”
“Untuk kaki kamu nanti biar saya rujuk ke bagian tulang Fy, disini saya mau membicarakan kalian tentang ginjal yang akan didonorkan.” Ucap Dokter Evan yang dari tadi serius menekuni berkas-berkas Ify.
Terdengar pintu diketuk dari luar. “Silahkan” Ucap Dokter Evan singkat.
Masuklah Alvin, Sivia, Obiet dan Ray. “Apa gue ketinggalan info? Susah banget pergi tanpa pertanyaan macem-macem” Keluh Alvin.
“Belum juga ada pembicaraan, udah sana duduk manis” Ucap Gabriel. “Lanjut Dok”
Alvin dkk menurut.
Dokter Evan melanjutkan pembicaraan. “Dalam transpaltasi ginjal ini, sudah pasti baik untuk penerima dan efeknya untuk pendonor kadang biasa saja. Akan tetapi setelah melihat gaya hidup mu, saya pesimis Fy” Jelas Dokter Evan.
“Maksudnya?” Tanya Ify.
“Segala junkfood dan caffein yang sering kamu konsumsi setiap hari. Itu memperlambat keefektifan kerja ginjal kamu” Jelas Dokter Evan lagi.
“Soal itu masih bisa diperbaiki kan Dok? Saat saya masih memiliki ginjal utuh mungkin saya bisa seenaknya. Tapi ketika hanya tinggal satu saya rasa, saya sanggup memperbaiki segala pola makan maupun gaya hidup agar ginjal baik-baik saja untuk kedepannya” Ucap Ify mantap.
“Saya tidak tahu bagaimana pengaruh junk food terhadap organ pencernaan kamu saat ini. Ini yang membuat saya ragu untuk tetap menjalankan operasi ini” Ucap Dokter Evan.
“Jangka panjang setahu saya Dok, dan berarti masih ada kesempatan memperbaiki dalam usia saya saat ini. Dokter jangan ragu atau pesimis. Saya serahkan semua pada kalian. Justru keoptimisan kalian salah satu dukungan dan doa bagi saya. Tetap jalankan operasi ini sebagaimana mestinya dan saya berjanji akan tetap baik-baik saja untuk kedepannya” Ucap Ify tegas tanpa keraguan sedikitpun.
“Tapi Fy...”
Ify mengedarkan pandangannya kepada teman-teman dan kakak adiknya. Justru tatapan protes lah yang sebagian mendominasi mereka.
“Kalo emang gak bisa, gak perlu dipaksa kak. Gue akan usaha cari yang lain lagi” Ujar Obiet.
Ify menggeleng. “Kalo yang didepan mata udah ada, kenapa harus cari yang gak ada?”
“Fy, tapi ini kan....” Kali ini Sivia yang berbicara, tetapi kalimatnya justru menggantung.
“Gue banyak hutang penjelasan sama elo Vi, gak mungkin gue nanti kenapa-napa. Ntar loe nagihnya susah dong?” Potong Ify dengan nada bercanda.
“Fy, jangan bercanda. Gue bener-bener gak bisa buat...”
“Ngijinin gue ngejalanin transpaltasi ini?” Tanya Ify memotong ucapan Gabriel. “Gue duah tanda tangan seluruh perjanjiannya. Ify mengedarkan pandangan pada orang-orang disekelilingnya.
“Gue akan baik-baik saja. Vi..” Tatapan Ify fokus ke Sivia. “Gue masih banyak hutang penjelasan sama elo. Dan elo Vin.. “ Tatapan Ify pindah ke Alvin. “Bisa tanya ke Rio, tapi tolong ngertiin posisi gue. Dan elo Biet...” Tatapan Ify pindah ke Obiet dan Ray “Gue masih mau nyari arti semua yang disekeliling gue bareng elo. Dan elo Ray, gue masih ada kewajiban buat jadi kakak elo kan? Seperti permintaan elo waktu itu?” Tatapan Ify berakhir pada Deva dan Gabriel. “Loe Dev, kita masih punya hutang berantem untuk ngelanjutin yang dilapangan tadim dan terakhir elo Kak Gabriel, gue masih mau cari tau, siapa yang diantara kita adalah anak pertama sebenarnya” Ucap Ify terkekeh. “Gue masih banyak hutang waktu untuk kalian semua. Jadi tolong ijinin gue, dan gue akan baik-baik saja dan melunasi hutang gue kekalian”
Semua bungkam. Hingga akhirnya telepon diruangan Dokter Evan memecah keheningan. Mimik wajah Dokter Evan yang mendadak serius bercampur tegang, membuat semua yang ada diruangan menahan nafas.
Telepon ditutup dengan helaan nafas berat dari Dokter Evan. “Ify. Alyssa Saufika Umari. Sudah Siap?” Tanya Dokter Evan.
Tanpa banyak bicara dan hilangnya berbagai tatapan protes. Dengan tenang. Ify mengangguk kecil.
***
Operasi transpaltasi ginjal yang sudah berlangsung hampir 5 jam benar-benar membuat orang yang menunggu diluar tidak bisa berbuat apapun. Ketidakpastian selama hampir 5 jam membuat yang menunggu benar-benar tidak berhenti untuk memanjatkan doa.
“Ify kemana Yel? Udah selesai pemeriksaan tulangnya” tanya Agni tiba-tiba.
Gabriel menoleh kearah Alvin dan Sivia yang hanya memancarkan tatapan ‘jawab-semampu-loe-deh’
“Tadi nyokapnya telepon. Dia Flight ke Spore tadi begitu selesai pemeriksaan. Nyokapnya sakit” Jawab Gabriel sekenanya.
“Hah? Kok dia gak pamit dulu?” Sahut Acha.
“Mungkin buru-buru” Kali ini Ray ikut-ikutan menjawab.
Melihat adiknya juga sepertinya mengetahui kepergian Ify, Rio langsung mengikuti perbincangan. “Dan elo biarin dia sendiri? Dengan keadaan kaki yang begitu?”
Gabriel melirik Rio, kurang berkenan dengan nada yang diucapkan. Tapi menyadari bukan situasi yang tepat. Apalagi dia yakin jika dialah yang paling ketar-ketir saat ini selain mama Shilla. “Tadi dijemput sopir. Dia ke Spore bareng supirnya mungkin.” Jelas Gabriel acuh.
“Tapi loe tau kan kondisinya gimana?” Ucap Rio dengan nada tinggi karena kekhawatirannya.
“Sahabatan hampir 5 tahun gak membuat loe ngerti ya tentang pribadinya” Sindir Gabriel santai.
Rio mengepal tangannya keras. Tapi Alvin yang menyadarinya langsung pindah kesebelah Rio.
“Padahal disini sahabatnya sakit ya. Main tinggal aja” Ucap Dea.
“Kalo kak Ify itu sejenis amoeba. Pasti dia udah membelah diri. Biar dia ada dimanapun disaat orang butuh dia” Sahut Obiet.
“Tapi seharusnya dia bisa kondisikan” Angel ikut-ikutan.
“Angel sayang, kayaknya loe harus lebih banyak belajar tentang prioritas ya!” Ucap Sivia jutek.
“Waw, susah ya ngomong sama sahabatnya orang perfeksionis. Serba tahuu” Ledek Zevana.
“Sayangnya sahabat gue emang seorang perfeksionis. Bukan Cuma seorang ambisius kayak kalian-kalian ini” Ucap Sivia yang mulai emosi.
“Sivia cukup ya. Jangan ngerendahin mereka juga. Loe gak kenal mereka” Ucap Agni memotong ucapan Sivia.
“Dan loe pikir loe kenal jauh sama mereka?” Tanya Sivia balik sambil melirik sinis Dea dkk.
“Loe kok jadi nyolot gini sih Vi” Sahut Acha.
“Gue gak akan kayak gini kalo gak ada yang mulai. Ada asap pasti ada api. Seharusnya loe bisa nilai mana yang baik dan buruk dengan otak pinter loe itu Cha” Sindir Sivia.
“Vi.. udah Vi..” Ganti Alvin menenangkan Sivia. “Mereka gak tau apa yang sebenarnya” Bisik Alvin ditelinga Sivia hingga memang hanya Sivia yang benar-benar mendengarnya. Mau tidak mau Sivia menuruti kata Alvin dan mulai duduk kembali dengan emosi yang masih tak karuan.
***
Sementara didalam ruang operasi. Dokter Nanda yang dibantu Dokter Evan fokus menangani Shilla untuk pelepasan dan pemasangan organ. Sedangkan Dokter Tian dibantu dengan Dokter Rini fokus menangani pelepasan dan pemindahan organ ginjal Ify.
Dokter Tian menghampiri Dokter Evan yang tengah menekuni pekerjaannya. ‘Bagaimana?’ Tanya Dokter Tian dengan bahasa isyaratnya.
Dokter Tian mengacungkan jempolnya pertanda operasi berjalan ‘lancar’ lalu bertanya balik kepada Dokter Tian. Dokter Tian hanya menggeleng dan memberi isyarat kurang yakin lalu kembali menekuni pekerjaannya.
Hampir satu jam berlalu setelah Shilla keluar duluan dari ruang operasi untuk dipindahkan ke Ruang opname. Namun Ify belum juga pulih dari kesadaran bius nya. Sementara yang menunggu terbagi dalam dua kubu. Gabriel, Deva serta Alvia tetap stay menunggu Ify dengan alasan pergi makan agar tidak menimbulkan kecurigaan.
“Bagaimana keadaan Ify dok?” Tanya Gabriel begitu diizinkan Dokter Tian memasuki ruangan operasi.
“Saya tidak bisa memperkirakan. Biusnya tadi hampir habis, dan dia sempat terjadi pendarahan sebentar dikarenakan darah yang tadinya beku tiba-tiba menyembur dikarena efek bius habis diluar perkiraan. Untuk berjaga-jaga. Segera cari pendonor Golongan darah A untuk penambahan darah. Karena stok dirumah sakit ini mulai menipis. Saya takut Ify benar-benar drop dan kantong darah yang tersedia tidak mencukupi.” Jelas Dokter Tian.
Gabriel dan Yang lain hanya menelan ludah begitu mendengar penjelasan Dokter Tian.
“Satu orang yang bisa nolong Ify sekarang” Ucap Alvin.
“Siapa?” Tanya gabriel.
“Rio. Golongan darah dia sama Ify sama” Jawab Alvin.
“Cowok yang sering sama Ify ya akhir-akhir ini?” Tanya Dokter Tian.
Alvin mengangguk. “Juga cowok yang masuk daftar hitam Ify untuk tau tentang ini”
Dokter Tian mengangguk berat. “Baiklah, kalian atur cerita lagi, bagaimana dia mau mendonor darah. Saya akan atur strategi agar kantong darah itu dapat kita salurkan ke Ify tanpa ada teman kalian yang tahu. Mengerti?” Tanya Dokter Tian.
Gabriel dkk mengangguk.
“Kembali keruangan kalian. Deva tunggu sini sama perawat untuk mengawas Ify. Saya tunggu diruang dokter” Ucap Dokter Tian.
Yang lain hanya mengangguk dan langsung menjalankan titah sesuai apa yang diperintahkan.
***
“Bagaimana keadaan anak yang kecelakaan tadi Dok?” Tanya Rio ketika darahnya sedang diambil. Rupanya Gabriel dkk menceritakan tentang seorang anak kecil yang kecelakaan lalu lintas dan kehilangan banyak darah.
“Tidak begitu baik. Dia kritis karena terjadi pendarahan” Akting Dokter Tian meneruskan akting gabriel dkk.
“Padahal Dokter tadi baru menangani teman saya Shilla, dan kini langsung menangani pasien lain lagi. Tidak lelah dok?” Tanya Rio.
“Pekerjaan saya merupakan panggilan hati, dan saya harus proffesional dalam menjalannkannya. Ngomong-ngomong, kamu perhatian sekali dengan teman kamu Shilla dan sangat dekat dengan Ify ya?” Ucap Dokter Tian.
Rio terkekeh. “Soal Shilla, saya murni benar-benar karena teman sekelas. Untuk Ify lain lagi. Dia sudah berhasil menempati tempat dihati dan hidup saya ditempat yang tidak akan pernah tergeser maupun terganti dengan nama lain” Ucap Rio mantap.
Dokter Tian memastikan kesungguhan ucapan Rio. “Kalau begitu, dalam keadaan apapun. Perjuangkan itu semua, jangan berhenti apalagi berputus asa dan menyerah”
“Maksud dokter?” Tanya Rio yang kurang mengerti.
“Kamu akan tau, ketika semua mulai berjalan. Ingat pesan saya. Saya titip Ify sama kamu” Ucap Dokter Tian sambil membereskan segala peralatan yang berhubungan dengan alat donor darah.
***
Rio berjalan agak lemas untuk menuju ruangan Shilla. Tapi begitu merasa tidak kuat lagi menyangga tubuhnya. Rio memutuskan untuk duduk dahulu ditempat duduk ruang tunggu yang ternyata depan pintu ruang operasi tempat Shilla tadi. Rio memandang daun pintu itu dengan tatapan aneh, ada gejolak aneh yang kini berkumpul dalam dadanya untuk segera menyentuh daun pintu tersebut dan melihat apa yang ada didalamnya. Perlahan Rio berusaha bangkit dan menyentuh daun pintu tersebut dan mendorongnya...
“RIO!” Panggil seseorang yang membuat Rio mengurungkan niatnya dan menoleh kesumber suara.
“Alvin” Ucap Rio begitu mengetahui siapa yang memanggilnya.
“Tadi gue ke ruangan dokter Tian, ternyata loe udah gak ada disana. Kita ke Kantin yuk buat isi tenaga loe” Ajak Alvin.
“Loe kan tadi udah makan?” Tanya Rio.
“Cuma nemenin Via, tadi gue gak begitu laper” Jelas Alvin.
“Ok” Ucap Rio setuju.
***
Waktu berjalan begitu cepat setelah berakhirnya pertandingan basket dan para pengurus OSIS SMA Cagvairs sudah harus kembali disibukkan dengan berbagai macam yang harus dipersiapkan untuk anniversary SMA Cagvairs. Untungnya dalam acara ini, anak kelas XII masih mau dilibatkan untuk membantu. Hingga masih terbantu meskipun Ify –yang menyusun acara dalam proposal- tidak ada ditempat.
Sama seperti waktu yang lewat, begitu pula hari yang dilewati oleh Rio terasa lebih berat dari sebelumnya. Perginya Ify tanpa ada kabar dan kontak apapun serta permintaan Mama Shilla tempo hari yang minta Rio datang selalu kerumah sakit untuk menjenguk Shilla dan memenuhi segala permintaan manjanya. Yang pasti dengan alasan tidak tega tidak ditolak Rio.
Namun untuk saat ini diusahakannya untuk berkonsentrasi dan fokus pada acara Anniv SMA Cagvairs tanpa ingin diganggu pikiran lainnya. Membuat Rio lebih sering bekerja dalam diam. Dan teman dekatnya yang sudah mengerti karakter Rio hanya bisa mengikuti sahabat mereka tanpa ingin mengganggu privacy lebih jauh.
***
Malam Anniversary SMA Cagvairs yang dinanti-nanti dalam tema promnight akhirnya tiba. Berbagai macam kegiatan seni ditampilkan untuk meramaikan suasana. Sementara Rio yang menjabat sebagai ketua hanya duduk manis sambil memperhatikan jalannya Acara. Kemeja hitam yang dilipat sampai siku. Skinny jeans putih ditambah sepatu kets watna senada dan dasi agak silver juga rambut spike yang selalu eksis membuatnya terlihat simple namun begitu elegant. Tak pernah berhenti untuk melirik kearah pintu gerbang, berharap ada sosok Ify yang masuk disana. Namun pikirannya membuatnya menyerah begitu menyadari sepertinya Ify tidak datang untuk malam ini.
Baru saja Rio ingin beranjak dari tempatnya berdiri kini langsung mengurungkan niatnya begitu melihat Jaguar milik Gabriel mulai memasuki pelataran parkir. Begitu keluar sosok Gabriel dan langsung berjalan memutari bagian depan mobil dan membuka pintu disamping kemudi, Rio langsung menajamkan penglihatannya.
Dress simple selutut berwarna hitam dengan ikat pinggang hiasan besar berwarna putih ditambah dengan heels putih dan tatanan rambut simple namun elegant yaitu dikesampingkan dan diberi hiasan rambut berwarna putih.
IFY. Alyssa Saufika Umari.
Rio menghela nafas berat begitu melihat Ify mulai memasuki arena acara mengikuti Gabriel didepannya yang memakai jass hitam simple yang dilipat sampai siku dengan kemeja putih didalamnya disambung dengan skinny jeans hitam dan ketsnya yang berwarna senada.
‘Cocok’ Bathin Rio.
“Baiklah, karena sudah banyak yang berkumpul dalam malam perayaan Anniversary SMA Cagvairs, kita akan memulai performance dari perwakilan Ekskul Basket yang diketuai Mario Stevano dan Alyssa Saufika”
Kontan lampu padam, dan hanya lighting yang menyinari antara Rio dan Ify. Ify yang baru datang hanya bisa terpana dan belum sadar sepenuhnya.
“Rio dan Ify segera diminta kesediaannya sekarang diatas panggung” Ulang MC lagi.
Rio menepuk jidatnya. ‘Mati gue lupa kalo gue disuruh Pak Duta duet sama Ify. Lagu apa aja gak pernah latihan’ Pikirnya.
Tidak jauh berbeda dengan Ify. ‘Well, Rio pernah ngomong. Tapi gue belum sempet latihan. Lagunya apa aja gak tau’ Bathin Ify. ‘Lagian...” Ify mengedarkan pandangannya kesekeliling, terutama sekeliling Rio. Siapa tahu menemukan sosok Shilla disana.
“Rio Ify, ayo silahkan” Ulang sang MC.
Akhirnya terjadilah aksi dorong paksa antara sekeliling Rio dan ify hingga mereka berdua naik keatas panggung
“Kita aja belum tau pak, mau nyanyi lagu apa” Ucap Rio jujur ketika sampai dihadapan Pak Oni yang mengiringi.
Pak Oni memperhatikan Rio dan Ify satu persatu. Pakaian yang matching satu sama lain, membuatnya ragu, apa benar dua siswa ini tidak ada latihan? “Lagu ada cinta aja yang gampang, ayo mulai. Kalian kelamaan tadi” Ucap pak Oni.
Baru saja Ify mau memprotes, sayangnya keburu tidak digubris. Dengan mulainya intro dari Pak Oni & Friends.
Tapi sampai Intro diulang dua kali Ify juga belum memulai bait pertama. Karena dia tau persis lirik itu, dan tidak ingin menangis sekarang. Dan Pak Oni agaknya memaklumi hingga untuk ketiga kalinya intro diulang, Rio mulai mencolek Ify untuk segera memulainya. Ify hanya menunduk tanpa berani menatap Rio.
Ify : Ucapkanlah kasih.. Satu kata yang kunantikan..
Sebabku tak mampu.. Membaca matamu.. Mendengar bisikmu..
Nyanyikanlah kasih.. Senandung kata hatimu..
Sebabku tak sanggup mengartikan getar ini..
Sebabku meragu pada dirimu..
Mengapa berat ungkapkan cinta.. Padahal ia ada..
Dalam rinai hujan..
Dalam terang bulang..
Juga dalam sedu sedan..
Mengapa berat mengaku cinta.. Padahal ia terasa
Dalam Rindu dendam.. hening malam..
Cinta.. Terasa ada..
Rio mengangkat dagu Ify agar melihatnya, membuat teriakan dan suit-suitan yang hadir malam ini makin panas.
Rio : Nyanyikanlah kasih.. Senandung kata hatimu..
Sebabku tak sanggup mengartikan getar ini..
Sebabku meragu pada dirimu..
Mengapa berat ungkapkan cinta.. Padahal ia ada..
Dalam rinai hujan..
Dalam terang bulang..
Juga dalam sedu seda..
Mengapa berat mengaku cinta.. Padahal ia terasa
Dalam Rindu dendam.. hening malam..
Cinta.. Terasa ada..
Rio dan Ify justru malah saling bertatapan satu sama lain
Rio : Mengapa berat ungkapkan cinta.. Padahal ia ada.. (Ify : uuh... uh...uhh... uh...)
Dalam rinai hujan..
Dalam terang bulang..
Juga dalam sedu sedan..
RiFy : Mengapa sulit..
Ify: Mengaku cinta (Rio : Cinta..) Padahal ia terasa.. (Rio: terasa)
Dalam Rindu dendam.. hening malam..
RiFy : Cinta.. Terasa ada..
Gemuruh tepuk tangan yang hadir dalam acara Anniversary SMA Cagvairs mengakhiri duet pembuka pada malam ini. Begitu turun panggung, Rio dan Ify langsung berpisah jalan. Rio memilih tetap sendiri seperti tadi, sedangkan Ify berjalan kearah Gabriel yang sedang bercengkrama dengan Alvin dan Sivia.
“Keren Fy, ampe merinding gue dengernya” Tanggap Sivia bagitu Ify didepannya.
“Loe muji atau melecehkan nih? Emang suara gue evil banget yah, sampai elo merinding?” Tanya Ify polos.
“Bukan Fy.. Suara loe badai parahh.. Apalagi tadi chemistry loe berdua sama Rio nyatu bangettt” Komentar Sivia heboh.
Ify hanya tersenyum mendengar komentar Sivia.
Sementara dari tempatnya Rio mengawasi gerak-gerik Ify yang terus disamping Gabriel. Semuanya tampak terlihat normal. Walau Ify agak terlihat pucat malam ini, namun dianggap Rio jika Ify kecapaian dengan perjalanannya dari Singapore.
Berbagai penampilan memenuhi panggung dari waktu ke waktu, hingga hampir dipenghujung acara. Ternyata Ketua OSIS SMA Cagvairs didaulat nyanyi. Rio dengan tenangnya kembali keatas panggung. Tatapannya sudah tertumpu disatu titik dari awal sebelum Rio naik panggung. Namun disamarkannya, hanya objek dari tatapan itulah yang merasakannya.
Tak seharusnya kau berpaling dariku..
Disaat kuharus, jauh dari dirimu..
Rio memejamkan matanya mengingat pemintaan Mama Shilla, namun bayangan tersebut langsung berganti dengan kata-kata Ify tentang siapa dirinya bagi gadis itu.
Karena aku.. Masih mencintaimu..
Dan yakin dirimu.. Hanyalah untukku..
Apa yang kurasakan.. tak seperti kenyataan..
Berbagi cinta selain dirimu..
Mungkinkan kembali.. Segala rasa yang telah hilang..
Walau hati kecilmu.. Masih mencintaiku..
Tak ingin ku bertahan.. Meski kadang mendendam..
Akan kah bahagia.. Bila cinta tak ada..
Untuk dirimu lagi...
‘Rasa ini gak pernah hilang Fy, Tapi malam ini, loe buat gue kembali ragu’
Cheers (;!!!
Trisil {}
Langganan:
Postingan (Atom)