Gomenasai Anime Smiley trisillumination: [SHORT STORY] DIBALIK KISAH *FANFICTION OF RIFY MANIACS*

Sabtu, 05 April 2014

[SHORT STORY] DIBALIK KISAH *FANFICTION OF RIFY MANIACS*

---
Jika hidup..
Masih dapat dijalani secara pasti..
Kuyakin disitulah kau berpegang padanya..
---

Mentari dari ufuk timur dengan rona merahnya sepertinya masih belum mau berhenti menyinari sang bumi. Pesona gradasi warna langit menjelang pagi dan rona kemerahan yang ditimbulkannya seperti memberikan semangat tersendiri untuk menjalanlankan hidup ini. Seperti pagi yang biasanya disaat aku kembali terbangun disetiap paginya untuk bersiap menghadapi tantangan hari ini dan berikutnya serta menutup kisah tantangan dihari sebelumnya.

“Dek, sarapan dulu sebelum berangkat..” Pesan Ayahku yang selalu kudengar setiap paginya.

“Nanti aja Yah disekolah, adek buru-buru, Maaf Yah” Jawaban yang selalu aku berikan ketika Ayah menyuruhku sarapan. Ayah hanya menggelengkan kepala yang kusambut dengan menyambar tas dan punggung tangannya untuk kucium.

“Aku berangkat. Assalamualaikkum” Pamitku dari depan rumah.

Yah, tidak perlu repot membawa kendaraan untuk sampai disekolahku yang hanya berjarak 50 m dari rumah. Tak perlu juga berhias sebuah mobil mewah untuk sebuah sekolahku yang cukup sederhana namun menyimpan keluarbiasaan dalam prestasinya. SMK Fairilies Jakarta.
Aku adalah seorang murid SMK. Bukan SMA dikebanyakkan cerita indah lainnya. Bukan seorang murid yang turun dari sebuah Livina berhiaskan rambut keriting gantung sebagai mahkota. Aku adalah aku. Seorang gadis biasa yang hidup dikalangan sederhana. Dan berusaha menjadi biasa sebagaimana mestinya. Aku seorang anak ketiga dari 3 bersaudara ups! Ralat ketiga dari 4 saudara. Mengapa bisa?

---
Hidup memang sebuah cerita...
Cerita yang bisa kutentukan alurnya...
Namun bukan Akhirnya...
---

5 Tahun setelah kepergian ibuku dikarenakan kanker, ayahku memilih mengakhiri masa dudanya dengan menikah dengan wanita lain yang sudah memilik 2 orang anak laki-laki. Tentunya ini semua atas persetujuanku dan kakakku. Lalu bukankah dua orang itu merupakan saudara tiri? Bagaimana aku bisa menjadi 4 bersaudara?

4 tahun setelah pernikahan dengan istri keduanya. Ayah membuatku  memperoleh seorang adik perempuan. Yang mana kelahirannya membuat posisiku sebagai anak perempuan satu-satunya tergeser secara terhormat. Belum lagi karena ibu tiriku memperoleh anak perempuan pertamanya (adikku), tekanan dari pihak keluarga ibu yang tidak suka denganku dan ayah semakin bertambah karena kepergian dari dunia mbah tiriku yang menerima kami.
Oke, kisahku dalam keluarga memang begitu sadis, seperti cerita sinetron. Tapi ini bukanlah sinetron yang masih bisa dibuat happy end. Bahkan aku tak tahu kapan ini semua berakhir. Aku memang meiliki 2 kakak kandung. Tapi kakak pertamaku lebih memikirkan dirinya sendiri ketimbang aku dan ayah. Sedangkan kakakku yang kedua sudah menghadap kepada Yang Maha Kuasa karena penyakit paru-parunya.

Yah mungkin hanya itu sebagian kisah dari latar belakang keluargaku mengapa aku tumbuh menjadi gadis yang mungkin bisa dibilang independent. Ingin berdiri sendiri diatas usahaku. Tidak ingin merepotkan orang lain walau itu hanya sebatas meminjam pulpen. Aku terus berusaha meyakinkan diriku aku TEGAR dan KUAT!!

---
Bukan untuk terlihat hebatlah tujuanku...
Hanya ingin memperlihatkan..
Akulah aku...
Seorang yang berusaha tegar dan kuat...
---

Disekolah, aku hanya dikenal sebagai sosok yang ceria dan gemar bercanda dan ehmm, bukan bermaksud sombong. Aku juga dikenal sebagai murid berprestasi. Siapa sih yang tidak mengenal aku, seorang ALYSSA SAUFIKA yang kerap disapa IFY. Seorang Juara pertama LKS (Lomba Keterampilan Siswa) kompetensi Akuntansi dan menjabat sebagai ketua Jurusan disemester keduanya disekolah itu. Aku bukanlah seorang anggota Osis yang gemar pamer jabatan tapi tidak mampu mengubah keadaan sekolahku yang terkesan kaku. Aku adalah seorang siswa biasa yang selalu menampakkan wajah cuekku tanpa memikirkan beban tentang keluargaku sendiri. Bahkan demi tidak inginnya melihat orang lain repot karenaku, saat SMP aku rela belajar Beladiri Karate untuk melindungi diriku sendiri.

Disaat remaja seusiaku menikmati indahnya masa remaja mereka tanpa beban seperti yang ada dipundakku. Sibuk dengan segala dandanan dan kebiasaan bersolek ria dikelas, maklum siswi SMK. Bahkan saat aku piketpun sampah terbanyak adalah rambut-rambut rontok dari sisiran ‘halus’ mereka sepanjang hari. Dan disaat mereka bermanja-manja dipeluk seorang kekasih mereka atau bahkan penyakit labil yang sering menimpa remaja seusia kamu yaitu galau karena cinta. Akupun masih tetap cuek, tidak begitu peduli maupun tertarik untuk ikut-ikutan mereka.

Hey ! jangan mendugaku tidak normal dahulu ! Aku tetap gadis normal dibalik sikap cuekku. Bahkan jika ingin bermain masalah hati. Aku teramat pandai menyimpan dan menata semua sendiri. Tidak butuh seorang sahabat untuk diajak bertangis-tangis ria saat aku berduka. Cukup aku, dan hatiku yang mengetahuinya. Baiklah, akan kuceritakan kisahcintaku. Kisah yang mungkin kalian pikir setelah membacanya adalah sebuah kasus Cinta Monyet. Tapi kalian salah ! Entah ada alasan apa, aku memilih tetap mempertahankannya.

Kisah berawal ketika kelas 5 SD. Ketika aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda mungkin disalah satu bagian dalam diriku. Hati. Mampu membuat tersenyum geli ketika mengingat tentangnya, mampu membuat terbang tingii mengenang senyumnya. Wajahnya, senyumnya, tutur katanya, sifat coolnya, benar-benar terpatri secara detail didalam hati ini. Terlalu berlebihan mungkin untuk seorang anak disekolah dasar. Tapi itulah cinta. Takkan pernah mengenal usia, jika sang amore telah mengembangkan sayapnya untuk membidik panah cinta.

Hingga semua berakhir, berakhir tanpa ucapan cukup sampai disini, berakhir tanpa adanya kata-kata putus diantara kedua pihak. Aku dan dirinya. Memilih berkomitmen menjalankan hidup masing-masing, berkonsentrasi pada space pribadi. Komitmen yang entah saat ini masih diingatnya atau tidak. Komitmen yang mampu membuatku terbang dan terjatuh disaat bersamaan. Komitmen yang menyimpan sejuta asa dan kekosongan dan Komitmen mampu mengisi kekosongan hati.

---
Ketika semua berjalan...
Seperti yang tidak kuharapkan...
Aku memilih...
Setiaa...
---

Sekolah Menengah Pertama, dimana sang dewi amore semakin gencar membidikkan panah-panah cinta. Disinilah aku kembali bertemu dengannya. Tapi aku merasa perubahannya. Perubahannya terhadapku. Sikapnya dulu yang bersahabat, kini bak ditelan bumi. Selidik kuketahui. Dirinya kini resmi menjalin hubungan yang dikenal dengan berpacaran dengan teman sekelasku Ashilla Zahrantiara. Shilla panggilannya, gadis manis bertubuh ideal bak model yang bisa disebut kelas perfecto untuk para kaum adam. Dibandingkan aku? Tidak! Aku adalah aku, dan Shilla adalah Shilla tak akan pernah ada persamaan. Karena kami berbeda ! Dan aku istimewa, karena bisa mengistimewakan diriku.

---
Senyummu hilang...
Namun kau tetap bertahan...
Menambah keyakinanku...
Untuk bertahan terhadapmu...
---

Kisahnya terus berjalan dengan temanku Ashilla. Namun hubungan memang selalu dibumbui dengan asam garam yang juga disebar para amore selain panah cinta. Kadang hubunganmu merenggang, kadang pamer kemesraan. Dan semua bertahan hingga habisnya masa-masa putih birumu. Dan berakhir pula hubunganmu dengan Shilla dengan terlontarnya kata PUTUS dari mulutmu.
---
Percayalah...
Saat terlepasnya sebuah panah dalam hatimu...
Sesungguhnya sudah tercipta ribuan panah...
Yang siap berubah menjadi kunci hatimu...
---

Kita berpisah. Saat putih abu-abu menyambut kita. Kau dengan SMA Rofvera mu dan aku dengan SMK Fairilies ku. Aku mengingatnya, mengingat dengan jelas komitmen itu, yang entah tanpa sadar membuatku mati rasa dan masih bisa menerimamu.

###

---
Cinta adalah keindahan...
Tapi tak semua keindahan...
Memiliki arti cinta...
---

Aku berani bertaruh atas nyawaku, akulah lelaki terbodoh yang pernah menyianyiakan cinta dihatiku sendiri. Aku hanya mampu melihat keindahan semu yang tidak kudapat dari dirinya. Tapi dengan dirinya juga membuatku sadar, dirinyalah cintaku, yang memiliki keindahan dari ketidaksempurnaannya. Yang memiliki keluarbiasaan dibalik kesederhanaannya.

---
Ketulusan adalah...
Saat kau mengabdi pada satu hati...
Dan setia pada satu nama...
---

Itulah yang kudapat darinya untukku. Disaat ada orang lain yang menawarkan cinta untuknya, dia menolak. Bukannya aku terlalu percaya diri. Dirinya pasti mengingatnya, mengingat semua komitmenku padanya. Tapi apa yang kuperbuat? Dengan bodoh aku memusuhinya demi ambisiku agar dapat berjalan sempurna. Aku memilih seorang wanita yang salah. Aku pikir semua wanita memang butuh limpahan cinta dan curahan kasih sayang dan perhatian yang luarbiasa. Namun aku salah, mengartikannya. Memberikan perhatian yang luarbiasa membuatnya bergantung. Limpahan cinta dan curahan kasih sayang berlebihan membuat mereka manja. Inilah yang tidak kutemukan dari dirinya. Dari diri seorang Alyssa Saufika. Wanita yang luarbiasa dimata dan hatiku. Bukan hanya dimata yang hanya keindahan semu sementara. Aku mengetahui tentang dirinya karena dirinyalah sahabatku sebelum menjadi pemegang kunci hatiku.

---
Banyak cara yang ditunjukkan untuk mencinta...
Terkadang cara tersebut sukar dimengerti...
Seperti caramu...
Dan inilah caraku...
---

Pemikiran bodoh saat aku menuduhmu tidak lagi peduli padaku karena senyummu selalu menyambutku saat aku berangkulan dengan gadis lain. Dan Tindakkan terbodohku saat itu adalah memusuhimu! Tapi dengan manisnya kau tetap tersenyum dan beramah-tamah dengan gadisku saat itu. Perlu kau tahu sekarang, tindakanmu saat itu berhasil menambah tabungan rasa bersalahku sampai saat ini.

Kini, aku hanya dapat memandangmu dari balik gerbang hijau Fairilies. Memandangmu saat kau pulang sekolah sambil tertawa ceria bersama teman baikmu. Memandangmu dibalik trush hitam milikku. Memastikan dirimu baik-baik saja hingga kedalam rumahmu. Ya, mungkin inilah caraku, cara seorang Mario Stevano menjaga Alyssa Saufika.

###

Tri Susilowati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar