BAKEKOKKKKK!!!! (???)
Nih hadiah dari saya buat ulang tahun RFM ke 3! #LOV3thRFM
Mantep bener yah kalian ampe 3 tahun… trisil gaknyangkaa :”)
Yap setelah pengaretannya selama satu hari, dan ketidaktahanan saya
dari didemo tiap detik. Akhirnya saya putusin ngebrojolin taci hari ini
(?)
Okedehh yaa, enjoy mentemennkuuh :3
Maapin makin jelek dan typo bertebaran. Melafyuhhhh
***
Rio hanya mampu duduk tertunduk sambil menunggu Ify yang tengah
ditangani para dokter. Silih berganti wanita berbalut seragam putih yang
biasa dipanggil suster tersebut tampak bolak-balik keluar masuk ruang
Unit Gawat Darurat dengan berbagai peralatan sambil menampakkan wajah
tak ingin diganggu.
Rio sendiri juga tidak berniat mengeluarkan suara untuk sekadar
bertanya bagaimana keadaan dalam UGD. Semua pikirannya entah sudah
melayang kemana karena bercampur aduk menjadi satu. Rasa cemas dan
bersalah yang paling mendominan mengisi kepalanya saat ini. Memikirkan
hal itu ditambah membayangkan wajah gadis tadi sebelum matanya terpejam
rapat benar-benar membuat dadanya sesak.
FLASHBACK ON
Rio sibuk menelepon ambulance, rasa khawatir menghilangkan seluruh
kendali dirinya. Hingga justru bukan permintaan justru racauan yang
keluar dari mulutnya. Dirasakan ada genggaman lemah ditangannya yang
bebas tidak memegang handphone. Rio menatap pemilik tangan tersebut yang
justru tersenyum begitu tenang. Seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti
gadis itu tidak mengalami suatu apapun. Seperti....... seperti tidak ada
luka yang tengah memenuhi tubuh gadis itu.
Rio langsung merasa sulit bernafas begitu menyadarinya. Bagaimana
bisa gadis ini masih bisa tersenyum kepadanya disaat tersulit seperti
ini? Rio bersumpah dalam hatinya. Jika ada sesuatu yang terjadi pada
gadis ini. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Yang terjadi berikutnya adalah. Entah kekuatan dari mana, Rio
langsung menjadi agak tenang melihat senyum dan tatapan teduh gadis itu.
Hingga Rio langsung menarik nafas panjang mengisi paru-parunya. Dan
perlahan dia mulai kembali berbicara dengan orang diujung telepon untuk
segera mengirimkan pertolongan untuk gadis yang ada dipeluknya sekarang.
Rio menutup telepon genggamnya dan kembali memasukkannya disaku
celana. Lalu perhatiannya kembali terfokus pada gadis yang menggenggam
tangannya –sepertinya- dengan sisa kekuatan gadis itu. Rio harus membuat
gadis itu tetap bangun dan berusaha bernafas walau susah payah agar
tetap menjaga kestabilan gadis itu. Rio memandang Ify dengan jarak
pandang hanya berkisar kurang lebih 20 cm. Sudah berapa lama ia tidak
memandang gadis ini dengan jarak pandang yang begitu dekat? Berapa lama
waktu yang telah mereka habiskan dengan tidak menggenggam tangan satu
dengan yang lainnya. Berapa lama rindu yang mereka tanam dalam hati satu
sama lain untuk tidak lagi dekat seperti ini?
Ify hanya memandang wajah Rio dalam diam. Seperti memuaskan egonya
untuk memandang laki-laki itu dalam jarak dekat. Atau mungkin
menghabiskan kesempatan kecil ini untuk melepaskan semua rasanya yang
sudah ditahan selama ini? Ify tersenyum kecil mengingat seluruh
kebodohannya selama ini. Dan kebodohan yang tidak akan mungkin bisa
ditebusnya adalah melepas Rio. Namun dibalik semua itu Ify tidak pernah
menyesali apa yang sudah terjadi. Keikhlasan atas apa yang sudah
diperbuatnya selama ini telah membuatnya tidak ingin lagi tertawa atas
kebodohannya. Ini titiknya. Ify lelah.
“Ada yang sakit?” Tanya Rio memecah keheningan diantara mereka sambil
menyingkap poni Ify yang menghalangi tatapan gadis itu padanya.
Ify sedikit meringis ketika tangan Rio berhenti didahinya. Tangan Rio
langsung berhenti mengusap dan memeriksa dahi Ify. Memang ada sedikit
memar disana. Entah karena terkena dasbor mobil atau kaca mobil
disampingnya tadi. Yang jelas efek benturan keras karena menabrak pohon
tadi. Kembali Rio merasa bersalah. Bagaimana bisa gadis ini terluka
begitu parah sementara dirinya baik-baik saja? Ingin rasanya saat ini
dia bertukar tempat dengan gadis ini. Biar semua sakit yang dirasakan
gadis ini biar saja dirasakannya.
“Jangan ngerasa bersalah” Ucap Ify memotong pikirannya Rio. “Kamu
pikir aku akan mau kalo kita bertukar tempat?” Lanjut Ify seperti
menebak isi kepala Rio.
Rio tidak menjawab. Hanya nampak sedikit berpikir.
“Hidup itu pilihan Fy. Dimana kita bisa memilih apa yang kita mau” Ucap Rio.
Ify menggeleng pelan. “Hidup itu fokus Yo. Fokus kepada orang
sekitar, membahagiakan mereka sejauh kita bisa. Menyelamatkan mereka
semampu kita dan membantu mereka sekuat kita” Ucap Ify.
“Hidup itu memilih agar kita bisa fokus Fy. Fokus pada pilihan kita.
Dimana kita memilih membahagiakan orang disekitar kita dan fokus untuk
tetap membahagiakan mereka sampai kapanpun. Begitupun dengan aku. Dengan
kamu. Aku bisa memilih jika aku mau menggantikan kamu saat ini. Aku...”
“Udah terlambat Yo. Aku yang udah kayak gini. Kita gak bisa memutar
waktu. Kalopun tadi harus kamu yang seperti aku saat ini. Aku akan
memilih untuk fokus menyelamatkan kamu lebih dulu.” Potong Ify.
“Untuk kita Fy........”
“Kamu dan aku” Potong Ify pelan tapi tegas.
“Kamu berkata kayak gitu seakan kamu dan aku gak akan pernah menjadi kita” Dengus Rio.
Ify tertawa pelan, kali ini dengan mata terpejam, seperti sedang
menahan sakit. Namun otot sekitar mulutnya yang melengkung keatas
membuatnya tetap terlihat baik-baik saja. “Nyatanya begitukan?” Ucap Ify
lirih. Sepertinya tawanya tadi telah menguras tenaganya.
Rio tidak mempedulikan pertanyaan kecil yang diajukan gadis ini
padanya. “Denger aku Fy, untuk kita bukan terlambat. Kamu yang tidak
membiarkan aku memilih. Kamu hanya membuat aku langsung fokus. Dan kamu
salah. Karena tidak memilih, aku jadi gabisa fokus sampai saat ini” Ucap
Rio.
Ify terdiam. Rio mengangkat wajah Ify agar menatap kearahnya lagi.
“Satu-satunya pilihan yang membuat aku fokus itu Cuma kamu Fy. Ify. Alyssa Saufika Umari” Ucap Rio pelan namun begitu tegas.
Ify tidak membalas ucapan Rio. Pikirannya sudah bercampur aduk
menjadi satu. Belum lagi rasa sakit disekujur tubuhnya tidak lagi
membuatnya konsentrasi terhadap pikirannya sendiri.
Rio membelai lembut pipi Ify. Mengeluarkan Ify dari keasyikannya pada pikirannya sendiri.
“Dari luar semua memang terganti. Dalam sini...........” Rio menunjuk dadanya. “Thats all everything about you”
Ify menggeleng pelan. “Gak ada yang terganti” lirihya. “Kalo kamu
melihatnya dengan mata hati” Lanjutnya lagi. “Aku pun sama. Gak ada
apapun yang terganti. Semuanya masih sama....... Tentang kamu” Ucap Ify
sambil menatap dalam.
Rio melepas tangan Ify yang sedari tadi digenggamnya. Lalu mendengus
pelan. Detik berikutnya pandangannya kembali beralih pada Ify yang masih
memandangnya dalam. “Masih berani kamu bicara begitu sementara kamu gak
pernah mengizinkan aku tetap disisi kamu?” Tanya Rio.
Ify menggeleng pelan. “Bukan mulut aku yang bicara sekarang, tapi hati aku” Jawabnya tenang.
Rio menggeleng tak percaya. “Gak cape kamu bilang sayang tapi akhirnya tetap ngelepas aku?” Tanya Rio lagi.
Ify kembali menggeleng. “Engga, selama aku masih sanggup untuk bicara dan kamu masih tetap mendengar” Jawabnya lagi.
Tak perlu menunggu lama lagi. Rio langsung menarik gadis itu dalam
pelukkannya. Dan berjanji pada hatinya tidak akan melepas gadis itu lagi
apapun yang akan terjadi nanti. Namun, baru selang beberapa detik Rio
kembali melonggarkan pelukkannya. Lalu menatap gadis itu tepat pada
manik matanya. “Bisa bunuh aku? Aku cape berkali-kali marah sama kamu
tapi tetap gak bisa membenci kamu” Ucapnya.
Ify hanya menanggapi dengan senyum lemah. Percakapan dengan Rio
benar-benar menguras habis tenaganya. Ify hanya mampu berkata pelan dan
begitu lemah. “Ternyata bukan kamu yang mati dalam pelukan aku. Tapi aku
yang mati dalam pelukan kamu” Ify mengingat sepenggal lagu lastchild
yang mereka nyanyikan tadi. Sebelum akhirnya matanya terpejam dengan
senyum yang begitu damai.
Kuakan tua dan mati dalam pelukmu...
Untukmu seluruh nafas ini...
FLASHBACK OFF
Rio langsung menegakkan diri begitu menyadari dadanya begitu terasa
sesak. Mengingat dengan begitu rinci percakapan terakhirnya dengan Ify
benar-benar seperti menyebabkan oksigen disekitarnya menipis.
Rio melirik Blackberry yang ada digenggamannya saat ini.
“Ashilla”
Nafas Rio kembali terkecat mengingat bagaimana nada yang diucapkan
gadis itu menyebut password BB nya saat ini. Lirih di kondisinya yang
begitu kritis. Namun masih tetap diiringi dengan senyum teduh yang
begitu tenang.
Rio menatap BB yang dimainkan dalam genggamannya saat ini. ‘Memang
harusnya tidak diganti, bahkan takkan pernah terganti’ Bathin Rio sambil
kembali mengotak atik BB nya dan mengubah setting pada lock telepon
genggam yang setia manjadi alat komunikasinya tersebut kembali ke awal.
“Dimana kakak gue sekarang?” Sebuah geratakan langsung membuyarkan
seluruh pikiran kalut Rio. Yang Rio rasakan adalah. Tubuh belakangnya
sudah menghantam dinding dengan kerah kemeja yang sudah bernoda darah
disana sini agak tertarik keatas dan terakhir ada bunyi kecil seperti
patahan yang sudah pasti berasal dari BB nya yang terlempar dari genggam
tangannya karena agresi seseorang barusan.
Namun untuk yang terakhir Rio tidak begitu ambil pusing. Kini seluruh
perhatiannya sudah mengarah pada orang yang menggertaknya barusan.
Deva.
Melihat tatapan Deva yang begitu berapi-api dan penuh kemarahan
padanya Rio hanya bisa menunduk diam. Kalaupun dia harus menerima segala
pukulan dari tangan adik gadis yang telah dicelakainya, Rio lebih
memilih hal itu daripada harus terbelenggu sesak karena rasa bersalah.
Apalagi jika sampai ada kenyataan terjadi sesuatu yang buruk pada gadis
itu. Dibunuhpun sepertinya Rio rela untuk menghilangkan rasa sesak atas
semuanya.
Melihat reaksi Rio yang hanya diam atas gertakkannya. Deva kembali
pada kekesalannya yang sudah memuncak. “Dimana kakak gue? Gimana keadaan
dia?” Tanya Deva lagi. Kali ini dengan nada tegas dan penekanan dengan
emosi yang sudah mendidih dikepalanya.
“Dev udah Dev. Ini rumah sakit. Ruang UGD pula. Mungkin Kak Ify lagi
ditangani didalem” Ucap Ray yang dibelakang Deva menenangkan sambil
berusaha melepas cengkraman Deva pada kemeja Rio.
Deva menepis tangan Ray. “Bukan kakak loe Ray yang didalem, tapi kakak gue. Loe gak tau perasaan gue gimana” Bentak Deva.
“Loe lupa kak Ify udah gue anggep sebagai kakak gue? Please, jangan buat keadaan semakin runyam” Jelas Ray sabar.
“Berisik loe” Kecam Deva pada Ray. Pandangan Deva kembali fokus ke
Rio. “Kalo loe kesel sama kak Iel karena kejadian beberapa hari lalu.
Bukan kayak gini caranya. Bukan kak Ify yang harus jadi korbannya!!”
Maki Deva.
Rio hanya memandang Deva lemah. Tenaganya sudah habis untuk membalas
kata-kata Deva karena beban pikirannya. “Loe tau?” Rio hanya mampu
meluncurkan kata-kata tersebut dari mulutnya.
“Semuanya. Gue tau karena gak sengaja ngeliat semuanya” Tegas Deva
sambil mendorong Rio kasar dengan melepas tangannya dikemeja Rio.
Dengan kondisi tubuh yang sudah tidak bekerjasama dengan otaknya. Rio
hanya pasrah begitu punggungnya kembali menghantam dinding rumah sakit.
“Rio!!” Sebuah suara barusan terpaksa membuat Rio kembali mengangkat
wajahnya. Ternyata Alvin dan Sivia yang tengah berlari dengan wajah
cemas kearahnya.
“Loe apain lagi sohib gue Yo?” Ternyata, meski nafas Sivia yang
panjang pendek, gadis itu masih punya tenaga untuk siap mengamuk pada
Rio.
“Yo loe gapapa?” Tanya Alvin yang hampir berbarengan dengan ucapan
sarkatis Sivia barusan. Tatapan Alvin susah menelusuri kemeja biru Rio
yang sudah penuh bercak gelap yang hampir mengering. Jeans skinny
putihnya jauh lebih parah lagi. Seperti tidak terlihat seperti celana
yang tadi telah menunjang penampilannya. Tapi Rio nampak tidak peduli.
Rasa cemas sudah membuatnya lupa akan semua termasuk keadaannya sendiri.
Rio yang menyadari tatapan Alvin begitu rinci melihatnya membuat Rio
menebak sendiri apa yang akan Alvin tanyakan selanjutnya. “Gak ada
setetes darahpun dari tubuh gue yang berbekas dicelana dan kemeja gue”
Ucapan Rio sukses membuat melongo orang disekitarnya.
“Itu.. itu semua darah Ify” Tanya Sivia terbata, shoocknya belum hilang, tapi dia harus memastikannya.
Rio mengangguk. Detik berikutnya Rio sudah kembali dalam cengkeraman
Deva. “Shit! Kakak gue kenapa sampai darahnya kayak gini?” Bentak Deva
lagi.
Alvin langsung buru-buru memisahkan antara Deva dan Rio dibantu oleh
Ray. Ray mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik Deva menjauh dari
Rio. Sementara Alvin membantu Rio berdiri dan mendudukannya di kursi
ruang tunggu lagi. Setelah itu, Alvin kembali menghampiri Deva dan Ray
yang duduk tidak jauh dari Rio.
“Gak ada waktu lagi Dev. Loe segera hubungi Dokter Tian dan Evan.
Mereka lebih mengerti keadaan Ify saat ini. Dan loe harus hubungi Tante
Linda dan jelaskan semuanya.” Ucap Alvin.
Deva tidak membantah. Ucapan Alvin benar. Urusan Rio biarlah jika
nanti semua sudah beres. Yang penting sekarang adalah nyawa kakaknya
lebih dahulu. Tanpa membutuhkan waktu lama lagi Deva dan Ray langsung
berjalan meninggalkan Ruang UGD dan masuk lift dekat Ruang Receiptionis
untuk ke ruang kerja dokter Tian.
Sementara Rio hanya memandangan percakapan Alvin dan Deva juga
mungkin Ray dalam diam. Hanya sedikit yang ditangkapnya dalam
pembicaraan tersebut. Dengan jarak diluar jangkauan pendengarannya. Juga
kondisi yang tidak membuatnya untuk mendengar lebih baik membuat Rio
tetap tidak mengerti apa-apa.
“Setelah ini apalagi Yo...” Suara pelan dan sedikit bergetar menyapa
telinga Rio. Ternyata dari Sivia yang ada dihadapannya. Rio sudah
pasrah. Dia benar-benar sudah tidak mempunyai tenaga lagi walaupun hanya
menghadapi Sivia. Bukan hanya, Sivia adalah teman terbaik Ify yang
masih ada tetap disamping gadis itu apapun keadaannya. Bahkan disaat
kubu mereka terpecahpun gadis itu tetap disamping Ify. Wajar jika saat
ini tatapan Sivia sudah bercampur antara ingin memukul bahkan sampai
membunuhnya.
“Belum cukup ya kemarin loe nyakitin hatinya? Sekarang loe masih nyakitin fisiknya. Loe punya hati gak sih?” Desis Sivia tajam.
Rio menunduk dalam, lalu melempar pandangannya kearah pintu ruang
unit gawat darurat. Sepertinya dia sudah menyakiti gadis dalam ruangan
tersebut itu lebih dari apa yang disadarinya.
“Kalo loe benci sama Ify gak gini caranya Yo” Bentak Sivia sambil
mengguncang tubuh Rio. Air mata yang ditahannya tadi sudah tumpah begitu
saja mengiringi seluruh emosinya.
Rio hanya diam. Begini lebih baik. Jika semua orang mengamuk padanya
itu bisa melepas semua penyesalan yang ditahannya saat ini Rio akan
membiarkannya.
“Udah ya Vi udahh” Suara lembut Alvin sekaligus melepas tangan Sivia
yang tadi mengguncang tubuh Rio terdengar dalam jarak dekat.
“Apa yang dia lakuin kemaren masih belum nyakitin Ify Vin? Apa belum cukup yang kemarin? Ify gak salah. Ify Cuma... Ify Cuma..”
“Ssstt” Alvin menghentikan racauan Sivia dengan menenangkan Sivia
dalam pelukannya. Alvin membelai dengan sayang rambut gadis itu untuk
membuatnya tenang sejenak. “Berhenti ya Vi. Ify Cuma butuh doa kamu
sekarang. Amarah kamu gak akan ngebantu dia saat ini” Bujuk Alvin.
Sivia hanya mengangguk tanpa suara dalam pelukan Alvin.
Setelah Sivia agak tenang Alvin membantunya untuk duduk tak jauh dari
Rio, dengan dirinya sendiri juga tetap disamping Sivia dan merangkul
gadis itu. Dan mereka bersama-sama menunggu apa yang sedang terjadi
dibalik pintu ruang unit gawat darurat tersebut.
***
Gabriel baru saja terbangun dari tidurnya. Tepatnya baru tersadar
dari pengaruh klorofoam yang tadi sempat menghentikan semua tindakan dan
kerja otaknya. Gabriel masih berusaha beradaptasi dengan cahaya yang
begitu remang dalam ruangan tempatnya tidur dan tengah menebak-nebak
kira-kira dimana ia saat ini.
Setelah benar-benar sadar, penglihatan Gabriel mulai terbiasa dengan
cahaya temaram yang ternyata berasal dari lampu tidur disamping kasur
yang tadi ditidurinya. Gabriel memandang sekelilingnya, begitu familier.
Ternyata dia berada dikamarnya sendiri. Kamar yang ada dirumah Papanya
yang dulu sempat ditinggalinya sebelum kabur kerumah Ify. Begitu
mengerti posisinya Gabriel langsung melangkah untuk menyalakan saklar
lampu dikamarnya agar cahayanya menjadi lebih terang.
Gabriel jatuh terduduk dipinggiran tempat tidurnya. Berusaha
mengingat apa yang telah terjadi padanya sebelum dia akhirnya tertidur
karena biusan. Bagaikan film yang berputar dipercepat semua ingatan
tentang apa yang sebelumnya terjadi sudah berputar dikepalanya.
Pembicaraannya dengan Rio saat menjemput Ify, Pembicaraannya dengan
Deva, kedatangan Papanya, Langkahnya yang diseret oleh ajudan Papanya
menuju Alphard yang akhirnya membawa Gabriel ke kamar ini, Kecelakaan
itu.... Ya!! Kecelakaan itu.
Bagai tersengat listrik Gabriel langsung bangun dari duduknya.
Gabriel mengacak rambutnya frustasi. Kecelakaan itu. Kecelakaan itu yang
kini langsung menjadi fokus pikiran Gabriel sepenuhnya. Kecelakaan yang
disebabkan oleh tingkahnya, kecelakaan yang mengorbankan...
mengorbankan.....
CKLEK
“Sudah bangun Tuan Muda?”
Suara pintu terbuka disusul sapaan yang dulu begitu familier
ditelinganya memutuskan seluruh bayangan Gabriel akan pikirannya.
Gabriel hanya menoleh tanpa memberikan jawaban apapun.
Mungkin mengerti akan sifat tuannya atau mungkin memang mengerti
keadaan Gabriel saat ini. Suara yang ternyata berasal dari pengurus
rumah tadi langsung mengalihkan pertanyaannya.
“Makan malam sudah siap” Lanjut pengurus rumah tersebut lebih ke pernyataan daripada melanjut pertanyaannya tadi.
Gabriel hanya tetap diam dan kembali berusaha memusatkan pikirannya
terhadap apa yang dipikirkannya tadi. Tapi inti dari semua itu, dia
harus pergi. Pergi dari rumah ini, secepat dia bisa.
Sadar jika tindakannya tidak akan direspon, pengurus rumah Gabriel langsung pamit sambil menutup pintu kamar Gabriel.
Setelah pintu ditutup Gabriel langsung merogoh sakunya, mencari alat
komunikasi yang setidaknya bisa membantunya keluar dari rumah ini. Namun
sia-sia ketika dia teringat ternyata BB miliknya justru dia taruh di
sofa tempatnya mengobrol dengan Deva sebelum akhirnya Gabriel dibawa
paksa kerumahnya.
“Shit” Umpat Gabriel. Lalu pandangannya jatuh kepada Mac miliknya
yang sudah ditinggal selama beberapa bulan. Tanpa pikir panjang Gabriel
langsung menghampiri tempat Mac nya berada lalu menyalakannya dan
menghubungkan dengan internet.
Namun begitu Internet sudah terhubung Gabriel langsung terpaku. Siapa
yang akan dihubunginya? Deva? Pasti dia sudah mendengar kabar
kecelakaan tersebut. Kalau tidak.. kalau tidak... Gabriel langsung
menggeleng keras. Berusaha menghindarkan bayangan buruk.
‘Deva pasti sibuk kalo saat ini dirumah sakit’ Batin Gabriel. Lalu
Gabriel mengalihkannya pada teman yang lain. Alvin, Sivia? Gabriel
kembali menggeleng. Mana mungkin merepotkan mereka lebih jauh. Tidak ada
jalan lain. Dia harus keluar dari rumah ini sendiri seperti waktu itu.
Gabriel akan meminta bantuan tukang kebunnya yang dulu pernah
membantunya dalam penitipan barang saat dia keluar dari rumah ini
bersamaan dengan Shilla yang masuk rumah sakit.
Ah, gadis itu ya. Ingin rasanya Gabriel menumpahkan seluruh kesalahan
pada gadis tersebut atas semua yang terjadi saat ini. Sayangnya justru
awalnya bukan karena gadis itu, melainkan karena dia sendiri. Seandainya
tidak ada sandiwara ini pasti semua akan tetap baik-baik saja. Walaupun
Gabriel tidak menjamin apa Ify akan tetap mempertahankan ginjalnya saat
itu. Paling tidak kecelakaan tadi sore karena dirinya tidak pernah
terjadi.
Gabriel kembali men-shut down Mac nya. Lalu kemudian berlari kearah
pintu ingin mencari jalan keluar lain. Namun tepat saat tangannya akan
menyentuh handle pintu kamar, disaat itu pula kamarnya sudah terbuka.
“Bermaksud kabur Yel?” Tanya suara berat namun sarat dengan ketenangan dari seseorang yang membuka pintu kamarnya.
Langkah Gabriel langsung terhenti. Sekuat tenaga Gabriel berusaha
untuk tidak menumpahkan kemarahannya sekarang. Mengetahui keadaan Ify
sudah jauh lebih penting dari segalanya.
“Aku mau pergi sebentar Pa. Aku sama sekali gak bermaksud kabur,
begitu urusanku selesai aku akan kembali kesini dan mengikuti kemauan
Papa.” Ucap Gabriel penuh penekanan disetiap perkataannya.
Tn. Damanik tersenyum pengertian namun detik berikutnya senyum yang
awalnya terlihat tulus berubah menjadi seringai sinis yang penuh
kebencian.
“Ada apa Yel? Bermaksud kembali kerumah itu? Atau menolong membawa
kerumah sakit anak dari wanita itu?” Tanya Tn. Damanik meremehkan.
Mendengar tidak adanya itikad baik dari Papanya begitu membahas
Bundanya, emosi yang baru saja ditahan langsung mencuat begitu saja.
“Maksud Papa apasih? Anak dari wanita mana? Itu Bunda Iel Pa. Deva
adik Iel, sama kayak Ify kembaran Iel. Aku coba untuk pergi atas izin
Papa secara baik-baik. Tapi apa tanggapan Papa? Sekarang juga biarkan
Iel pergi menyelesaikan semua dan Iel janji akan kembali kesini dan
mengikuti semua keinginan Papa” Tegas Gabriel.
“Bisa papa percaya omongan kamu?” tanya Tn. Damanik tenang.
“Tentu aja” sahut Gabriel cepat.
“Berapa kali kamu sudah melanggar omongan kamu sebelum ini?” Desis Tn. Damanik langsung.
“Pa, Iel udah gede, Iel tau apa yang Iel lakuin. Seharusnya Papa
sebagai orang tua lebih berpikir dan mengerti tentang apa yang udah Papa
lakukan.”
“Berani kamu Yel mendikte Papa macam itu?” Bentak Tn. Damanik.
“Iya aku berani!” Tantang Gabriel. “Aku ulang. Iel udah gede dan Iel tau apa yang Iel lakuin” Tegas Gabriel.
“Dan kamu merasa sudah lebih hebat dari Papa? Merasa tau segala hal lebih dari yang Papa tau?” Pojok Tn. Damanik.
“Mungkin Iel jauh dibawah Papa soal kehebatan terutama soal
kekuasaan” Sindir Gabriel. “Tapi setidaknya Iel yakin yang Iel lakukan
adalah benar” Ucap Gabriel tanpa ketakutan sedikitpun.
“Dan hanya berdasarkan keyakinan kamu itu kamu mau menginjak-injak Papa?” Masih Tn. Damanik dengan nada tingginya.
“Papa merasa diinjak-injak? Kalo iya, Iel ucapkan selamat karena pada
masa berjayanya Papa saat ini orang yang pertama kali menginjak-injak
Papa adalah anak Papa sendiri. Iel” Ucap Gabriel tanpa rasa gentar.
“Kamuu...”
“BERHENTIII!!”
Puncak kemarahan Tn. Damanik tertelan begitu saja saat ada suara yang
seakan mentitahnya untuk berhenti. Baik Tn. Damanik maupun Gabriel
sendiri sudah menoleh kearah sang pemilik suara.
“Cakka!!!” seru Gabriel tak percaya.
Orang yang dipanggil tadi mulai berjalan mendekati Gabriel, dan Gabriel sendiri masih setangah tak percaya memandang Cakka.
“Yel” tegur Cakka sambil menepuk pundak Gabriel lalu mengalihkan pandangannya pada sosok Tn. Damanik.
“Gue tadi bermaksud kerumah Ify untuk minjem buku musik untuk gitar
klasik yang dia punya, tapi gue malah liat loe ditarik paksa masuk mobil
jadi gue ngikutin loe sampai sini dan memaksa masuk”
Bukannya mendengarkan, mendadak bayangan Ify, Rio dan Mobil mereka
yang menhantam pohon melintas dikepala Gabriel bagai potongan film yang
berputar cepat, membuatnya sedikit terhuyung sambil memegangi
kepalanya.
Sadar dengan keolengan tubuh Gabriel, Cakka langsung merangkulnya
untuk menopang berat badan Gabriel. “ Yel, loe kenapa?” Tanya Cakka
panik.
“Ify Kka...... Ify..... Rio.... mereka........ Kka tolong...” ucap Gabriel terbata.
Cakka menjadi bingung sendiri karena tidak mengerti maksud Gabriel. “Me.. mereka kenapa Yel?” Tanya Cakka ikut panik sendiri.
Tn. Damanik yang mendengar nama putrinya disebut menjadi terdiam sendiri, menunggu apa yang sebenarnya terjadi.
“Mobil mereka nabrak pohon Kka. Mobil tadi.... tikungan....” Kata-kata Gabriel begitu berantakan sambil menggoncang bahu Cakka.
Cakka berusaha menenangkan dirinya sendiri, mencerna setiap kata yang meluncur dari mulut Gabriel dan mengartikannya sendiri.
Sementara Tn. Damanik langsung mematung ditempatnya, langsung mengerti semua penjelasan Gabriel yang berantakan.
***
Rio meminggirkan motor yang dikendarainya dekat tepi danau. Dengan
kesal dia menggebrak stang kawasaki ninja milik Ray yang dipinjamnya.
Apa yang dilakukannya saat ini? Kenapa dia harus terburu-buru hanya
karena pesan-pesan singkat yang masuk ke Handphone nya? Kenapa juga dia
harus menuntaskan egonya malam ini untuk menyelesaikan semuanya?
Sedangkan ada orang yang kini terbaring tidak berdaya karena
perbuatannya sendiri.
Dimana ketegasannya saat ini? Ketegasan sebagai pemimpin, bukan hanya
dikelas sebagai ketua kelas, tapi juga sebagai ketua OSIS disekolahnya.
Dimana ketegasan hati miliknya yang jelas-jelas ada dibawah kekuasaan
dirinya sendiri?
Tidak. Hatinya dibawah kekuasaan orang lain. Ify. Orang yang kini
terbaring karena perbuatannya sendiri yang memiliki kuasa dan kendali
atas hatinya kemarin sampai dengan sekarang. Atau mungkin, selamanya.
Lalu? Kenapa dia tidak menetap disana. Menunggui seseorang pemimpin hatinya sampai tersadar?
Rio menarik sebuah Blackberry dari saku celananya yang sudah berganti
jeans hitam yang dibawakan Ray untuknya. Setelah menginput password
baru –atau lama karena sebelumnya pernah tergantikan. Rio menghela nafas
berat, kembali menyesali segala tindakannya yang telah lalu.
Battery Blackberrynya sudah hampir low, tapi Rio sudah tidak begitu
ambil pusing. Digesernya trackpad tadi ke arah pesan masuk via BBM yang
mau tidak mau membuatnya bergerak dari tempat gadis yang begitu sangat
disayanginya.
Ashilla | Mr. R
Kamu kemana sih? Kenapa gak ada kabar :”(
Ashilla : sayang, gimana performnya tadi?
Ashilla : yo, lagi apa? Jangan lupa makan ya sayang :)
Ashilla : yo, kenapa gak di read sih :(((((
Ashilla : acara udah selesai belum? Kamu udh pulang blm?
Ashilla : sayanggggggg
Ashilla : Riooooooooo :( :( :(
Ashilla : reply sekali aja deh, biar aku bisa makan dan minum obat
Ashilla : Aku gk tenang banget ini huhu :(
Ashilla : kamu lg apa sih sama Ify? Lupa sama aku? :”(
Ashilla : angkat telefon aku yooo
Ashilla : aku tau yo ify sahabat kamu. Tp bisakan luangin waktu semenit aja buat read dan reply BBM aku sebagai PACAR kamu? :”)
Ashilla : yaudah kalo gak mau read atas reply gpp, aku gak usah makan
dan minum obat sekalian, percuma, gak ada yang peduli ini, bye!
Bunyi sms masuk mengarahkan jempolnya untuk mengarahkan kursornya ke inbox message. Terlihat pesan yang tadi sudah dibacanya.
From : Nyokap Shilla
Message : Yo, kamu dimana? Bisa kesini gak? Shilla beneran gak mau
makan dan minum obat. Tante cemas yo. Tante mohon, bantu tante lagi kali
ini..
Inilah pesan yang membuat Rio langsung memacu Kawasaki ninja milik
Ray sekaligus berharap benar-benar ada penyelesaian malam ini. Sudah
cukup, Rio tidak ingin menyakiti siapapun lagi.
Rio mengarahkan trackpadnya pada pesan yang baru masuk yang belum dibacanya tadi.
From : Alvin
Message : Yo lu dimana? Ify udah boleh dikunjungin. Tapi masih tetep di ICU.
Rio bermaksud menekan tombol reply, tapi peringatan battery low yang
dari tadi sudah berkali-kali muncul di screennya, sudah tidak memiliki
daya lagi untuk membiarkan alat komunikasi itu tetap hidup, dan layarpun
menjadi hitam.
“Damn it” umpatnya, langsung menjejalkan kembali blackberry miliknya ke saku jeansnya.
Tanpa berpikir lagi, Rio langsung memacu kawasaki ninja milik Ray menuju tempat yang kini ada dipikirannya.
***
Alvin dan Sivia memasuki ruang ICU setelah bergantian dengan Deva dan
Ray. Sudah ada Dokter Tian dan Dokter Evan yang menangani Ify dari awal
ketika masih di Gawat Darurat. Berbagai selang sudah menempel
disana-sini tubuh Ify. Dan beberapa kain putih dengan bercak merah agak
kecoklatan terlihat membebat kepalanya dan beberapa bagian lengannya.
Alvin hanya mampu menatap miris, sedangkan Sivia langsung menumpahkan
airmatanya kembali seakan mampu merasakan rasa sakit yang sedang
dirasakan sahabatnya.
“Gimana keadaannya sekarang Dok?” Tanya Alvin sambil memandang Dokter Tian dan Dokter Evan bergantian.
Sang Dokter hanya dapat saling pandang, dan menggedikkan kepalanya kearah pintu. Alvin mengerti.
“Vi, kamu jagain Ify disini ya. Jangan nangis, terus kasih Ify
kekuatan untuk bertahan. Cuma kamu sahabatnya dia yang dia punya disini”
Bisik Alvin sambil setengah memeluk Sivia. Sivia mengangguk kecil.
“Tolong ya sayang” Ucap Alvin sambil mengacak puncak kepala Sivia,
lalu melangkahkan kakiknya keluar mengikuti Dokter Tian dan Dokter Evan
yang sudah mendahuluinya.
Sepeninggal Alvin. Sivia kembali menatap Ify, matanya kembali
memanas. Sivia menggeleng kasar dan memejamkannya matanya kuat-kuat. Dia
harus kuat sekarang, sahabatnya membutuhkannya, tidak mungkin ia akan
menjadi sandaran kalo dia juga lemah. Sivia mengangguk memantapkan
hatinya.
“Ify....” Panggil Sivia pelan.
Tak ada reaksi apapun dari Ify. Mata Sivia sudah kembali memanas.
“Ify...” Panggil Sivia lagi sambil mengenggam tangan Ify yang masih belum ada reaksi.
Sivia menahan isaknya.
“Ify, bangun dong! Loe tidur mulu deh” Ucap Sivia dengan suara yang dibuat-buat merengut.
Tetap tidak ada reaksi dari Ify.
Anak sungai kecil sudah mengalir dipipi chubby Sivia.
“Ini Fy? Ini yang namanya sahabat? Bahkan loe sama sekali gak genggam
balik tangan gue sekedar menyalurkan rasa sakit yang loe rasa untuk gue
rasakan juga.” Ucap Sivia, sudah tidak peduli Ify mendengarnya atau
tidak.
“Kita sahabatkan? Nangis sama-sama. Seneng sama-sana. Dan Sakitpun juga sama-sama Fy” Ucap Sivia yang sudah mulai terisak.
Ify masih tetap bergeming.
Kau ada dikala kusuka, dikala ku duka..
Setiap tangisan dan juga tertawa..
Kau ada dikala kuperlu, setia menemaniku..
Pegang erat tanganku bila aku jatuh..
Sivia bersenandung pelan. “Loe gak mau nyanyi bareng gue Fy?” Tanya Sivia lirih, melihat sama sekali tak ada reaksi dari Ify.
Kaulah yang selalu, selalu menemaniku..
Mendengar kisah pahit manis hidupku..
Kaulah yang disitu setia menungguku..
Kaulah yang satu menjadi sahabatku..
Kutahu kukan selalu ada, ada dirimu..
Dan kuharap kau juga rasa begitu..
Kaulah yang selalu, selalu menemaniku..
Mendengar kisah pahit manis hidupku..
Kaulah yang disitu setia menungguku..
Kaulah yang satu menjadi sahabatku..
Sahabatku..
Sivia menenggelamkan wajahnya dikedua telapak tangannya, sudah tak
sanggup lagi menahan isak yang dari tadi dipendamnya. Tanpa menyadari
jika ada sungai kecil yang mengalir dipipi tirus itu.
***
“Rio!” Pekik Shilla begitu membuka pintu rumahnya.
Rio hanya bergeming menatap Shilla, bertekat menyelesaikan semuanya.
Sementara Obiet yang tengah menonton tv langsung melesat kedepan begitu mendengar pekikkan Shilla.
“Kak Rio! Loe gak papa? Gimana Kak Ify?” Tanya Obiet bertubi.
Perhatian Rio teralih sesaat, nama itu lagi, dadanya betul-betul
terasa nyeri saat mendengar nama itu. Bagaimana keadaan Ify? Saat ini
Rio pun tak tau.
“Rio” Panggil Shilla berusaha mengambil perhatian Rio lagi.
“Rio aku minta maaf, aku tadi betul-betul gak tau soal kecelakaan
yang nimpa kamu sama Ify. Aku.. Aku.. Kamu gak papa kan?” Tanya Shilla
cemas sambil meraba kedua lengan Rio.
“Kak Ify gimana kak?” Sambar Obiet, merasa keadaan Rio tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Rio sendiri masih bingung menjawabnya.
“Kak jawab dong, BBM gue gak dibales-bales lagi sama Deva ataupun Ray” Tanya Obiet tak sabar.
“Rio kamu gak papa kan?” Tanya Shilla lagi.
“Gue gak papa Shill” Jawab Rio singkat.
“Kak” Sahut Obiet.
“Gue juga gak tau Biet” Jawab Rio lirih.
Obiet membuang nafas kasar. Dan langsung berbalik masuk kedalam
rumahnya lalu dalam waktu singkat sudah kembali keluar dengan balutan
sweater hitamnya sambil mengenggam sebuah kunci lalu berjalan cepat
kearah ninja hitam miliknya.
“Mau kemana Biet?” Teriak Shilla.
“Emang harus ada pertanyaan disaat begini?” Balas Obiet sambil melenggang pergi.
Rio terpaku. Tanpa berpikir panjangpun Obiet bisa langsung bertindak secara cepat. Lalu kenapa reaksi tubuhnya berbeda?
“Masuk dulu Yo” Suara lembut Shilla memecahkan keheningan.
“Tapi gue mau langsung...”
“Percaya atau gak, keadaan kamu sekarang kacau banget Yo. Kamu harus
tenang dulu, setelah itu kita baru balik kerumah sakit sama-sama” Potong
Shilla sambil tersenyum manis dan mengusap punggung Rio.
Rio menurut. Apalagi memang yang harus dilakukannya saat ini?
Shilla membimbingnya masuk kedalam rumah. Dirinya sadar tidak ada
cara untuk menahan Rio. Namun tidak ada cara lain juga membuat dirinya
sendiri tidak sakit akibat kenyataan jika Rio masih lebih mementingkan
Ify. Sampai saat ini, semua yang dilakukannya tidak membuahkan hasil
apa-apa. Shilla mungkin bisa berstatus memiliki Rio, tapi kuasanya tidak
sampai kesana.
Setelah Rio duduk diatas sofa ruang tamunya. Shilla kembali beranjak untuk mengambilkan minum.
Rio menyenderkan tubuhnya pada sofa dan mengusap wajahnya kasar,
mulai memikirkan semuanya satu persatu dengan lebih detail. Tapi saat
ini kecerdasan yang biasanya dapat diandalkan tidak dapat menemukan
sesuatu selain kegelapan. Rio tidak mampu berpikir.
“Minum dulu Yo” Ucapan Shilla membuyarkan semua pikiran yang dari tadi menggelapkan otaknya. Rio menurut.
Shilla memperhatikan Rio yang sedang minum minuman yang disuguhkannya.
“Makasih” Ucap Rio sambil menoleh kearah Shilla, pikirannya sudah lebih rileks sekarang.
“My pleasure” Balas shilla sungguh-sungguh tak lupa dengan senyum manisnya.
Rio membungkam. Gadis dihadapannya ini benar-benar tulus untuknya, dan dia takkan membohonginya lebih jauh lagi.
“Kamu udah makan?” Tanya Rio.
Shilla tersenyum, “Udah, mama tadi marah banget, karena gak mau buat khawatir aku makan dan minum obat langsung”
“Maaf ya” Ucap Rio rendah sambil mengusap puncak kepala Shilla. Shilla mengangguk kecil, wajahnya sudah menghangat sekarang.
“Ify tadi kecelakaan, gara-gara aku” Jelas Rio, kali ini dia
memandang kedepan dengan tatapan menerawang seakan membayangkan
kilas-kilas kejadian yang dialaminya tadi. “Aku gak bisa begini terus
Shill, aku gak mau ada yang terluka lagi karena aku..” Makin lama suara
Rio semakin rendah.
Tidak! Shilla tidak ingin mendengar kelanjutannya. Paling tidak, dia belum siap mendengarnya untuk saat ini.
“Yo” Shilla memotong ucapan Rio yang menggantung.
Rio menoleh.
“BB kamu mati ya? Tadi terakhir aku hubungi no kamu gak aktif” Tanya Shilla mengalihkan pembicaraan secara mulus.
“Ada yang lebih penting dari itu yang aku mau omongin Shill” Sahut Rio.
“Memang ada yang lebih penting selain kamu tau kabar Ify sekarang?
Mungkin aja temen-temen kamu lagi nyoba hubungi kamu untuk ngasih tau
keadaan ify. Terus kalo BB kamu mati, kamu tau darimana nanti?” Lanjut
Shilla mash berusaha keluar dari topik yang hampir dibahas Rio.
Mendadak Rio teringat pesan Alvin yang tidak sempat dibalasnya tadi,
sehingga terpaksa membenarkan ucapan Shilla tadi dengan mengeluarkan BB
yang sudah tak berdaya dari saku jeansnya lalu menyerahkan ke Shilla.
Shilla menerima BB Rio ditangannya sambil tersenyum.
“Kamu cuci muka dulu gih biar seger, siapa tau pikiran kamu lebih jernih” Ucap Shilla sambil tersenyum.
Tanpa bicara, Rio menyetujui saran Shilla untuk mencuci muka, atau
lebih tepatnya menenangkan semua pikiran yang telah memenuhi kepalanya.
Setelah memasang daya pada BB Rio, mendadak Shilla terdiam. Kenyataan
ini sangat menohok perasaannya. Perasaan Rio begitu besar kepada Ify,
dan sepertinya mendengar kabar Ify sudah cukup penting baginya saat ini.
Namun disisi lain dia merasa lega, dapat mengulur sebuah pembicaraan
yang tidak harus dia dengar sampai waktu ia siap.
Sebuah lagu luar yang sudah begitu familier ditelinganya, membuyarkan
semua lamunan Shilla. Rupanya BB Rio sudah kembali menyala, meski harus
tetap dicharge unuk menambahkan dayanya sampai batas maksimal. Shilla
menoleh kearah sofa, Rio belum kembali dari toilet. Sementara jeritan
dari BB nya masih belum berhenti. Shilla melihat nama penelepon yang
masuk tepat saat BB Rio hidup kembali.
AlvinJo’s calling
Shilla memutuskan untuk mengangkatnya. Karena biar bagaimanapun dia
juga cemas dengan keadaan Ify yang hampir membuat Rio hancur begitu
saja.
“Halo Vin”
“Ha.....” terdengar pekik tertahan. Tak lama, panggilan berakhir.
Shilla terdiam, hanya memandangi BB Rio seakan itu adalah orang yang
tiba-tiba memutuskan panggilan. Walaupun hanya sebuah pekikan tertahan,
lebih tepatnya omongan yang terputus. Tapi shilla yakin itu bukan suara
Alvin, melainkan suara Sivia.
***
Keheningan yang begitu tajam memenuhi ruangan itu. Begitu tenang
seperti sewajarnya pada waktu sebelumnya. Perbedaan terletak pada
ketegangan yang begitu terasa ditengah-tengah ruangan. Hawa sejuk yang
dikeluarkan pendingin ruangan justru lebih menambah ketegangan menjadi
sebuah ketenangan yang tidak wajar. Sebuah dehaman dari salah satu yang
berkumpul diruangan itu memecahkan sunyi.
Semua pandangan otomatis terfokus kepada pemilik dehaman tersebut,
Dokter Tian. Sementara sang pemilik justru berusaha memandang
lurus-lurus kepada setiap lawan bicaranya, seolah-olah ada keganjilan
yang kasat mata jika luput dari penglihatannya. Aura ketegangan justru
semakin terasa.
“Ada apa dok? Jelaskan saja semuanya, jangan ada yang ditutupi.
Walaupun kemungkinan terburuk ada, kami akan coba terima.” Ucap Alvin
membuka pembicaraan.
Dokter Tian menghela nafas berat, namun tetap tidak mengurangi
kekakuan tubuhnya. “Bukan begitu Vin, pasti saya akan menjelaskan
semuanya. Siap tidak siap kalian harus mendengarnya.” Dokter Tian
berhenti sejenak. “Hanya saja, saya bingung memulai dari mana. Semuanya
berlalu cepat, kejadian ini bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun di
bayangan saya.” Dokter Tia kembali diam. “Gabriel mana Dev?” Tanya
Dokter Tian keluar dari topik utama.
Bahu Deva terlihat menurun dari sebelumnya. “Dibawa paksa Papanya” jawabnya kecut.
“Dibawa?” Alvin langsung menoleh. Karena dia memang belum mengetahui
kejadiannya. Kemunculan Deva tanpa Gabriel tadi dia pikir hanya sesaat
karena mungkin saja mereka tengah berbeda tenpat dan Gabriel akan
menyusul kesini setelahnya. Namun, sampai menit telah berganti jam,
sosok Gabriel tetap tak terlihat. Alvin bukan tidak menyadari keganjilan
ini. Namun tadi pikirannya lebih tersita pada Rio yang terlihat hancur
karena kejadian ini.
“Iya, diseret Papanya dari Rumah gue” Lanjut Deva.
“Papanya Gabriel sama kayak Papa kamu Dev” Sahut Dokter Tian.
“Bukan. Saya gak percaya punya Papa begitu.” Ucap Deva kecut.
“Almarhumah Bunda kamu dan kakak kamu yang terbaring disana berusaha
terus untuk meyakinkan kalo diantara kamu dan orang yang disebut Papanya
Gabriel itu ada pertalian hubungan ayah dan anak. Berusaha terus
meyakinkan kalo kamu adalah anak Bunda dari Papanya Gabriel, meyakinkan
kamu, bahwa Kamu adalah saudara sekandung dengan Ify dan Gabriel. Tapi
kamu sendiri yang justru menolak semua itu? Kamu berpikiran sebaliknya
sementara mereka terus mempertahankan kamu?” Perkataan Dokter Evan yang
penuh tekanan membuat Deva untuk mencerna semuanya.
“Back to the focus. Waktu kita Cuma sedikit.” Ucap Dokter Evan memecah keheningan.
“Apa maksud dokter ‘Cuma sedikit’” Sahut Alvin menyela percakapan.
“Kita akan bermain dengan waktu Vin. Tadi saya sudah merujuk semua
data Ify pada Rumah Sakit di singapore. Dan baru saja mereka memberi
kabar jika mereka sanggup menangani Ify dengan peralatan yang lebih
memungkinkan disana.” Ucap Dokter Evan sambil terfokus pada laptopnya.
“Mereka memberi kabar, jika jam 2 pagi malam ini, Ify harus sudah tiba
disana dan mereka akan langsung menanganinya.”
“MALAM INI?” Tanya Alvin, Deva dan Ray serentak.
Dokter Evan mengangguk. “Kita tidak mungkin tetap menahannya disini.
Semua obat dalam yang kami berikan mungkin menopang rasa sakitnya. Tapi
mungkin juga memperparah kondisinya.”
Semua terdiam.
“Keputusan saat ini semua ada dikamu Dev” Lanjut Dokter Tian.
“Disini, kamulah satu-satunya anggota keluarga Ify yang bisa memberikan
keputusan medis kepada kami semua. Tadi saya sudah menelepon Mama kamu,
dia setuju namun ingin semua kembali kepada kamu dan Gabriel. Sedangkan
kita semua tau, Gabriel tidak ada disini. Jadi, kamulah
satu-satu-satunya orang yang bisa memberikan kami semua keputusan.
Deva terdiam.
Jauh dari Ify dikondisi sulit yang Deva sendiri tidak yakin. Dia
tidak pernah sekalipun jauh dari Ify dalam kondisi yang begitu pelik.
Mereka tinggal serumah, dimana mereka juga selalu bersekolah disekolah
yang sama. Meskipun sering bertengkar karena hal sepele bukan berarti
Ify tidak menyayangi Deva dan sebaliknya. Jika salah satu dari mereka
pergi berwisata ketempat berbeda pun sudah pasti karena mereka sedang
mencari sebuah kesenangan dengan teman-teman mereka. Bukan dikarenakan
harus berjuang hidup untuk kesembuhan, seperti saat ini. Dan itu yang
membuat Deva tidak tenang dan tidak yakin dengan keputusannya sendiri.
“Kakak kamu begitu kuat Dev, bahkan dia masih bertahan sampai
sekarang di kondisi fisiknya yang seperti ini. Jiwanya yang penuh
semangat seakan tidak mau berhenti disini. “ Dokter Tian menambahkan.
“Kamu harus yakin jika dia bisa bertahan sampai nanti. Kamu harus yakin,
kamu salah satu dari orang yang membuatnya bertahan. Karena dengan
dirinya sendiri, kita tidak tahu sampai kapan Ify mampu bertahan. Karena
kalianlah, orang-orang yang dsekitar Ify yang membuat dia terus
berusaha bertahan.”
Salah. Dokter Tian salah besar. Justru karena Ify begitu berpengaruh
kepada kami semua, maka kami ada disini. Kami tidak tau jadinya sekarang
jika kedepan Ify tidak lagi bersama kami. That’s all because her.
That’s All Cause Ify. Kami tidak tau jika bagaimana jadinya jika hanya
tau kondisinya dari jauh bahkan tanpa kami bisa melihat wajah tenangnya
dan menggenggam tangan yang tidak bisa menggenggam balik tangan kami
lagi.
Begitulah kira-kira suara bathin 3 orang yang ada dihadapan Dokter
Tian dan Dokter Evan. Namun, menahannya tetap disini sama saja
memupuskan kondisi fisik yang tidak bisa diobati oleh semangatnya. Kami
tidak bisa begitu egois.
Suasana yang begitu hening menyentakkan Ray terlebih dahulu yang
langsung mengusap bahu Deva. Ray menganggukkan kepalanya pelan. Deva
memandang Ray ragu lalu mengalihkan pandangannya kepada Alvin yang sama
bereaksi seperti Ray.
Deva menunduk, menghela nafas berat untuk memantapkan hatinya.
“Lakukan” gumamnya kecil. “Lakukanlah yang terbaik, saya percaya pada
kalian” Jelas Deva sambil menatap Dokter Tian dan Dokter Evan lurus.
Kedua Dokter saling berpandangan. Lalu sama-sama menganggukkan kepala
pelan seakan dapat membaca pikiran satu sama lain. Selanjutnya Dokter
Evan langsung menyodorkan seberkas map yang harus ditandatangani Deva
untuk perjanjian tindakan medis. Dan Deva langsung menoreh tinta hitam
diatasnya. Setelah itu dikembalikan lagi kepada Dokter Evan.
“Kamu tenang saja Deva, saya berjanji akan melakukan yang terbaik.
Bahkan mempertaruhkan jabatan saya sebagai Dokter untuk ini. Saya juga
akan turun langsung dalam perawatan Ify selama di Singapore sebagai
referensi terbaik. Sedangkan Dokter Evan akan menggantikan saya disini
sekaligus membantu kalian memonitor kondisi Ify disana dengan bukti
medis yang jelas. Bantu kami semua dengan Doa kalian. Bantu Ify malam
ini dengan menyalurkan semangat kalian dan optimisme kehidupan yang
pasti sangat berpengaruh pada optimismenya sendiri” Ucap Dokter Tian
yang membuat ketiga orang didepannya mengangguk patuh.
***
Setelah keluar dari Ruangan Dokter Evan, Alvin langsung mengeluarkan
BB nya untuk menghubungi Rio. Rio harus tau ini sekarang. Rio harus ada
disini. Karena satu-satunya semangat yang paling dibutuhkan ify saat ini
pasti Rio. Alvin begitu percaya pada itu semua. Kekuatan Cinta.
Terdengar sederhana namun memiliki dampak yang luar biasa. Alvin
merasakannya. Merasakan pada almarhumah Ibunya, Omanya yang mengurusnya,
Olivia adik perempuannya dan juga Sivia kekasihnya.
Alvin begitu hancur ketika ibunya meninggalkannya pada usia dini.
Namun Omanya berusaha membangkitkan semangatnya. Ditambah Olivia yang
masih lebih kecil darinya saat itu jauh terlihat tegar untuk itu. Lalu
datang Sivia yang sifatnya justru bertolak belakang dengannya, namun
itulah yang mebuat Alvin nyaman sampai saat ini. Dan itu semua karena
sesuatu hal yang mungkin dianggap kuno oleh sebagian orang. Cinta.
Cinta? Ah, Alvin sedikit lupa dengan Papanya saat ini. Salah papanya
yang tidak menjaga cintanya untuk mamanya. Malah sibut merajut cinta
dengan wanita lain. Apa itu cinta? Entahlah, pikiran Alvin terlalu rumit
untuk berpikir saat ini. Alvin kembali menfokuskan dirinya untuk
kembali mencoba (ntah untuk yang keberapakali) menghubungi Rio. Namun
lagi-lagi hanya suara auto answer yang diterimanya.
Setelah hampir mendekati ruangan khusus untuk perawatan Ify, Alvin
dapat menangkap bayangan Sivia yang terduduk sambil menyembunyikan
wajahnya. Alvin langsung mempercepat langkahnya untuk menggapai Sivia.
“Kamu kenapa?” Tanya Alvin sambil langsung memeluk Sivia.
Sivia masih menangis dalam pelukkannya.
“Via” Suara alvin lebih melembut.
Sivia mengangkat wajahnya. “Ify bahkan gamau bangun untuk aku” ucapnya tersendat.
Alvin tersenyum miris. “Kamu gak boleh nyerah sayang, kamu harus
terus, supaya Ify mau bangun untuk kamu. Untuk kita semua. Kalo kamu
berhenti, gimana kalo semangat Ify didalam sana juga berhenti karena gak
ada yang menyemangatinya? Kamu sayang dia kan?” Alvin mencoba memberi
pengertian. Walaupun dalam hatinya sendirinya ragu. Apa harus Rio?
Bathinnya.
Sivia mengangguk, lalu melepaskan dirinya dari Alvin. Alvin tersenyum.
“Kamu kedalem aja ya, aku mau nyoba telepon Rio lagi. Handphonenya kayaknya gak aktif” Ucap Alvin.
“Gantian aja, tadi aku kan udah liat kondisi dia. Pasti kamu mau kan
liat kondisi Ify? Biar aku yang telepon Rio dan bilang ke dia” Pinta
Sivia.
“Tapi gapake marah-marah yah. Kasian sohibku tuh, kena semprot kamu mulu” Cibir Alvin.
Sivia tertawa. “Aku jamin, kalo aku punya sohib kayak dia bakal aku tendang sampe luar angkasa biar cepet peka”
“Bahaya ya urusan sama kamu” Cengir Alvin.
Sivia nyengiR sambil meraih BB dalam genggaman Alvin. “gabakal aku
semprot deh tuh anak. Tapi kalo keadaan urgent, aku gajanji.” Ucap Sivia
sambil menaikkan alisnya menggoda.
Alvin tersenyum sambil mengacak puncak kepala Sivia. “Aku kedalem ya”
Anggukan Sivia langsung membuat Alvin melangkahkan kakinya kedalam.
Sivial langsung men-dial nomor Rio yang memang sudah ada log
panggilan keluar. Sebuah Nada sambung menyapa indera pendengaran Sivia.
Sivia mengernyitkan dahinya, bukannya Alvin tadi bilang HP Rio
sepertinya gak aktif? Sedangkan nada sambung yang menggema di telinganya
sekarang menandakan jika nomor tersebut aktif dan bisa dihubungi,
(tentunya) jika sang pemilik mengangkat telepon.
Suara hening yang hanya sekejap menyadarkan Sivia jika telepon telah
disambungkan. Namun bukannya suara bariton (yang pastinya) pemilik
telepon genggam, Sivia justru mendengar suara sopran yang begitu
dikenalnya.
“Halo Vin” / “Ha..” Sivia langsung membungkam dan menekan tombol merah disebelah kanan untuk memutuskan sambungan.
Sivia meremas BB Alvin dalam genggamannya. Kekesalan, kesedihan sudah
bercampur dalam benaknya sekarang. Pikirannya sekarang meruntut
kejadian yang terjadi pada hari ini.
Tadi pagi Ify pergi bersama Rio untuk lomba yang mewakili sekolah
mereka, pulangnya mereka kecelakaan dikarenakan mobil Rio menabrak pohon
dan Ify terjepit disana. Rio tadi menunggui Ify sampai akhirnya
didamprat dirinya dan juga Deva. Lalu Rio pergi entah kemana. Alvin
mencoba menghubungi HP Rio namun ternyata tidak aktif dan ketika dirinya
mencoba menghubungi HP Rio yang ternyata sudah aktif lagi. Namun yang
mengangkat bukan lah Rio. Melainkan suara Shilla yang terdengar disana.
Kesimpulannya adalah, sekarang Rio sedang bersama Shilla. Disaat
sahabatnya Ify berjuang antara hidup dan mati karena kecelakaan bersama
Rio tadi dengan sebelah ginjal yang sudah diberikan kepada Shilla.
sekarang mereka berdua justru tidak ada disini dan malah ada ditempat
lain berdua.
Krakkk…
BB Alvin dalam genggaman Sivia akhirnya menjadi sasaran menghantam
dinding yang ada dihadapannya. “Sialan.. sialan.. sialan..” maki Sivia
utnuk mengungkap kemarahannya saat ini. Lalu kembali menyerah pada air
matanya yang bergulir begitu saja.
***
Alvin melangkahkan kakinya mendekati Ify. Sudah ada Deva dan Ray yang
masuk duluan. Tubuh Ify yang memang tergolong kecil semakin terlihat
rapuh dengan alat-alat medis yang dipasang ditubuhnya untuk menunjang
kehidupannya sekarang. Mata yang biasa memandang penuh semangat kini
justru terkatup dengan tenangnya. Tidak ada lagi seringai jahil yang
justru lebih sering terlihat dari pada senyum manisnya.
“Heh kebo! Bangun kek loe. Tidur tuh liat-liat tempat dikit kenapa?” Cerocos Deva sambil menghempaskan tangan Ify pelan.
“Mau-maunya loe tidur dirumah sakit sambil dililit kabel gini” Lanjutnya lagi.
“Sebagai adek lo yang begitu ganteng gini. Loe tuh keliatan cupu tau tidur dengan posisi gini” Mata Deva mulai memanas.
“Kebo behellll!! Sampe kapan coba gue harus terus bangunin elo?” Suara Deva menyerak.
Ray mengusap bahu Deva pelan. Alvin hanya bisa memandang semuanya.
Belum pernah dia menebak semua akan seperti ini. Bahkan tidak pernah ada
dalam bayangannya sendiri.
“Kak….Please bangun…. Apa loe gak ada niat sedikitpun untuk bangun
dan ngebales semua omongan gue?” Suara Deva makin melemah, wajahnya ia
telungkupkan pada tangan Ify.
Ray masih mengusap punggung Deva, berharap mampu memberi kekuatan.
Karena sekarang pun semua kata-katanya hanya mampu sampai dipangkal
tenggorokan. Dan ntah kenapa sekarang ia merasa posisinya serba salah.
Bagaimanapun Rio kakaknya, orang yang bertanggung jawab atas semua ini.
Tapi ia tidak bisa menyalahkan begitu saja. Dari awal Ify yang mau
semuanya tertutupi menjadi sebuah rahasia.
Sementara pikiran Alvin tidak jauh semrawut daripada dua orang
dihadapannya. Bagaimanapun ia Pernah merasakan menjadi seorang Rio
maupun Gabriel sekarang. Memikirkan 2 orang yang tidak ada ditempat saat
ini membuat pikirannya makin ruwet. Bagaimana jika nanti Ify sempat
sadar dan tidak ada kedua orang itu? Apa jawaban yang akan menjadi
alasan?
Dulu dia pernah bagaimana merasakan apa yang dirasakan Rio, sesuatu
yang tidak diketahui orang lain, bahkan Sivia sampai ini. Dia jatuh
cinta kepada gadis yang berbaring tenang dihadapannya kini. Alvin begitu
kagum sekaligus menyayanginya. Hingga adanya perasaan Rio yang
membungkam semuanya. Lalu kehadiran Sivia yang membawa kebahagiaan
tersendiri, membuat posisi Alvin menjadi sama seperti Gabriel, menjadi
kakak yang tetap bisa menyayangi dan kagum terhadap adiknya.
“Krakkk” Bunyi yang tidak begitu keras, namun tetap menyita perhatian
Alvin yang langsung membuyarkan semua pikirannya. Pandangan Alvin
langsung bertubrukkan dengan pandangan Ray sementara Deva yang masih
menelungkupkan wajahnya, tanda tidak begitu ambil peduli.
“Dari luar” bisik Ray sambil menggedikkan bahunya kearah pintu.
“Via” Alvin langsung melesat kearah pintu keluar.
***
Sesampainya diluar, Alvin langsung menemukan Via yang justru terduduk
dilantai sambil menelungkupkan wajahnya sambil meracau tak jelas dan
menghentakkan genggamannya kelantai yang dingin. Seperti berharap dapat
mengeluarkan semua emosinya disana.
Sementara tak jauh dari tempat Sivia terduduk, BB Alvin tergeletak
begitu sembarang dengan battery yang sudah mencuat dari tempatnya. Namun
Alvin tak begitu ambil peduli, Alvin langsung menggapai kedua tangan
Sivia untuk tidak lagi memukul lantai yang dingin namun begitu keras.
"Sialan.. sialan.. sialan..” Maki Sivia.
“Vi kamu kenapa?” Tanya Alvin sambil berusaha memeluk Sivia menenangkan Gadis itu.
Sivia memandang Alvin tajam. Menghempas kasar tangan Alvin yang menggenggam.
“Sivia..” bujuk Alvin lembut sambil berusaha membelai rambut Sivia. Namun Sivia langsung menghindar.
“Kamu kenapa?” Tanya Alvin bingung.
“Sohib yang loe bela-belain tuh beneran brengsek yah?” Jelas Sivia
sambil menunjuk Alvin. “Sahabat gue didalem berjuang mati-matian untuk
hidupnya sendiri loe pikir karna siapa?” Tekan Sivia.
Alvin mencoba tenang agar tidak terpancing emosi Sivia. Dan mencoba menebak semua yang terjadi.
“Kondisi dia kritis begitu bukan kemauan dia sendiri.” Ucap Sivia sambil menunjuk pintu dimana tempat Ify dirawat.
“Sohib loe yang bikin dia celaka, dan temen gue yang gak tau terima
kasih, dengan ginjalnya bikin memperparah keadaan. Dan mereka gak ada
disini satupun untuk sekedar tau kondisi dia…”
“Rio dimana Vi?” Potong Alvin begitu mulai menangkap sesuatu.
“Gue kurang yakin dimana, tapi dia lagi sama Shilla. Dan karena
Shilla gaboleh keluar malem kecuali sama d’V-Mile udah pasti sekarang
mereka dirumahnya.” Jelas Sivia tanpa mengurangi penekanan disetiap
katanya.
Mendadak rahang Alvin mengeras. Lalu menarik pergelangan tangan Sivia.”Kita kesana, sekar….”
Mendadak pintu Ruang inap Ify terbuka. “Kak Ify sadar kak” Suara Ray memutus ucapan Alvin.
Sivia menarik tangannya dari genggaman Alvin. “Mereka bisa nunggu,
tapi Ify ngga” Suara Sivia langsung diikuti gerakkannya masuk kedalam
ruangan.
***
Ify membuka matanya perlahan. Ruangan yang didominasi warna putih
langsung begitu mnyilaukan matanya. Indera pendengarannya bisa mendengar
jelas jika ada langkah terburu-buru mendekatinya.
“Fy..” Ntah suara siapa yang memanggilnya sekarang.
Ify mencoba menggerakan anggota tubuhnya. “nggghhh..” terdengar
ringisan kecil yang Ify tidak yakin dari mulutnya sendiri. Seluruh
anggota badannya terasa sakit.
“jangan banyak bergerak dulu Fy, kondisi kamu tidak memungkinkan
untuk melakukan aktifitas, meski itu hanya membalikkan tangan” Nasihat
dari suara yang dikenalnya sebagi Dokter Tian.
Lalu yang berikutnya Ify merasakan badannya dipaksa bergerak untuk pemeriksaan.
“Kondisinya saya rasa lumayan stabil untuk saat ini. Tapi kita tidak tahu akan bertahan sampai kapan” Jelas Dokter Evan.
“Kami tinggal dulu untuk persiapan nanti malam.” Ucap Dokter Tian sambil berjalan meninggalkan ruangan diikuti Dokter Evan.
Mata Ify mulai terbiasa untuk menerima cahaya dalam ruangan tersebut.
Dilihatnya satu persatu orang-orang disekelilingnya. Deva, Ray, Alvin,
Sivia.
Mata Ify kembali berpendar kesekelilingnya. Orang yang justru
diharapkannya ada disaat dia membuka mata malah tidak ada. Ify menelan
kekecewaannya dengan tersenyum tipis. Alvin dapat menangkap kekecewaan
tersebut.
“Rio gak ada Fy” Ucapnya pelan.
Ify tersenyum. “Gue nyari kak Gabriel kok” Sahut Ify mengalihkan
pembicaraan dengan mulus. Ify tahu, ucapan Alvin tidak sepenuhnya
berbohong. Tapi dia tak ingin mendengar kelanjutan kebohongan yang akan
diucapkan nanti.
“Kak Gabriel mana?” Tanya Ify lagi. Sekelilingnya terdiam tak ada yang menjawab.
Mendadak perasaan Ify dicekam rasa takut. “ngghh..” tubuhnya bereaksi diluar kendalinya. Rasa sakit menderanya.
“Kak Ify” / “Fy...” “Fy, loe kenapa?” Sahut-sahutan dari orang
disekelilingnya membuat Ify langsung mengendalikan rasa sakitnya. “Gue
gak papa” Jawab Ify sambil tersenyum kecil.
“Gue panggil Dokter Tian ya?” Tawar Alvin.
“Gak perlu Vin. Btw, Gabriel mana?” Tanya Ify ulang.
Semua kembali terdiam. Tidak tahu harus menjawab. Keheningan
menyelimuti mereka sekarang. Sementara Ify berusaha mati-matian untuk
mengendalikan perasaannya sekarang.
Disaat Deva ingin angkat bicara, mendadak ada yang membuka pintu.
“Gue disini Fy” Jawab Gabriel dengan nafas terengah.
***
Cakka memarkirkan cagiva merahnya dibelakang Alphard Hitam yang
menghalangi jalan masuk ke Rumah Ify. Niatnya ingin meminjam buku gitar
klasik yang dimiliki Ify untuk referensi bermusiknya. Namun ketika
sampai digerbang, Cakka mendengar keributan dai dalam rumah. Dengan
sikap penuh kewaspadaan Cakka langsung menyembunyikan dirinya. Namun
begitu mendengar seretan langkah keluar, Cakka langsung buru-buru kearah
cagivanya dan langsung menjalankan kearah samping, bertingkah seperti
orang lewat. Helm fullface menutupi wajahnya dengan sempurna tanpa
menimbulkan kecurigaan. Karenanya setelah berhasil memaksa orang yang
diseret tadi masuk Alphard tersebut. Badan mobil langsung meninggalkan
jalan.
“Gabriel” Gumamnya kecil begitu menangkap dari sudut matanya, orang
yang dipaksa masuk mobil. Cakka langsung menstarter cagivanya dan mulai
mengikuti mobil Alphard dalam jarak aman dan tidak menucurigakan.
Namun ditengah jalan mendadak jalannya mobil terlihat tidak
terkendali, jalannya mulai oleng kekiri bahkan kanan, jalanan lawan
arah. Cakka langsung mengerem cagivanya, karena jika terjadi sesuatu
yang berbahaya, dia pasti bisa langsung menjadi korban. Sebuah mobil
pick-up langsung menyalip dari sebelah kanannya. Cakka mempunyai firasat
tidak baik untuk ini. Tidak lama terdengar bunyi benturan yang cukup
keras.
BRAKKKK..
Cakka langsung melajukan cagivanya kembali kearah suara. Sebuah
jaguar hitam terlihat ringsek menabrak pohon dipinggir jalan. Mobil pick
up yang menyalipnya sudah pergi menjauh, bahkan menyalip Alphard hitam
yang membawa Gabriel. Mobil Alphard tersebut bahkan sudah kembali
berjalan tenang seperti tidak terjadi apapun. Kini Cakka berada didua
pilihan.Menyelamatkan korban yang baru saja kecelakaan atau tetap
mengikuti Gabriel. Namun begitu melihat pintu mobil Jaguar terbuka,
Cakka dapat melihat sang pengemudi terlihat baik-baik saja yang terlihat
langsung mengecek bagian kiri mobil. Cakka tidak terlalu memperhatikan
sang pengemudi dikarenakan pikirannya terpecah menjadi 2 bagian, blm
lagi Alphard hitam yang semakin jauh dari pandangan. Tanpa pikir panjang
lagi, Cakka langsung menstarter cagivanya kembali untuk mengejar
Alphard hitam yang membawa Gabriel.
***
Cakka memarkirkan cagivanya tidak jauh dari gerbang rumah yang
dimasuki Alphard hitam yang diikutinya sedari tadi, matanya memandang
penuh waspada sambil menunggu suasana lebih tenang. Cakka menajamkan
pendengarannya, tidak lag terdengar suara gaduh seprti dirumah Ify. Ada
kemungkinan Gabriel mulai pasrah atau mungkin juga mereka mebungkam
Gabriel dengan membiusnya, mengingat kejadian mobil yang tidak
terkendali dan hampir membahayakan nyawa mereka semua. Dan sudah
dipastikan itu ulah Gabriel.
Mengingat kemungkinan terkahir membuat Cakka langsung tidak tenang.
Apa sebenarnya niat kelompok tadi menculik Gabriel? Siapa mereka? Cakka
tidak begitu mengenal Gabriel dengan baik. Murid pindahan yang menjadi
teman dekatnya namun bisa dibilang lebih pendiam daripada Rio dan Alvin.
Apa motif sampai mereka harus menyeret Gabriel bahkan tidak
mempedulikan orang lain yang celaka karena mereka?
Perlahan Cakka berjalan kearah gerbang, mengendap dengan sikap penuh
siaga. Ternyata tidak ada penjaga dekat Gerbang. Mungkin mereka
menurunkan kewaspadaan di perumahan sepi ini karena kedatangan sang Tuan
Rumah.
Karena didepan pintu rumah masih terlihat ramai. Cakka memutuskan
menyembunyikan diri disemak-semak yang tumbuh rimbun dihalaman bergaya
mediterania ini.
‘Mereka gak mungkin penculik. Apalagi dengan rumah mewah kayak gini.
Rumah siapa ini? Siapa Gabriel sebenarnya?’ Bathin Cakka. Cakka kembali
merunduk begitu ada orang yang sepertinya satpam gerbang melewatinya.
Cakka melihat kearah pintu rumah yang sudah terlihat sepi.
‘Aman’ Bathinnya yang langsung berjalan dengan agak membungkuk untuk
mendekati pintu rumah. Cakka memutar handle pintu dan mencoba
mendorongnya. ‘Gotcha!’ tidak terkunci, Cakka langsung meningkatkan
kewaspadaannya. Benar saja, begitu pintu sudah terbuka, langsung ada 5
orang berbadan lebih besar darinya menghadang.
“Ada tikus kecil rupanya” Ucap seseorang yang paling besar diantara mereka.
Cakka langsung menegapkan badan. Mata yang biasa penuh dengan
seringai jahil berubah tajam dan berbahaya. Kewaspadaannya kini
benar-benar meningkat drastis. Ini saatnya membuktikan diri jika ia
pantas menyandang jabatan sebagai Ketua Klub Karate di SMA Cagvairs.
“Gue Cuma nyari temen gue” Ucapnya dengan suara rendah namun penuh penekanan.
“Tidak diajari cara etika bertamu yang baik rupanya” Ucap salah satu dari 5 orang dihadapannya.
“Iya, makanya saya langsung masuk” Sahut Cakka dengan nekat langsung
menerobos 5 orang dihadapannya. Namun langsung sigap dihadang salah
satunya. Tanpa pikir panjang Cakka langsung menghantamkan bogemnya
kearah muka orang tadi. Dua orang yang masih bebas langsung bersiap
memegangi Cakka, dengan sigap pula Cakka langsung menyikut rusuk
keduanya. Lalu dengan gerakan memutar Cakka langsung mengarahkan
tendangan kearah 2 yang tersisa tepat diulu hatinya. Dengan gerakan yang
simple namun tetap terkena bagian vital cukup melumpuhkan 5 orang
lawannya. Dengan gerakan cepat Cakka langsung berlari kearah tangga
menuju atas karena mendengar keributan disana.
***
Cakka melihat Gabriel tengah beradu argument dengan seorang pria yang
tidak dikenalnya. Sepertinya kehadirannya juga tidak disadari kedua
orang ini.
“Papa merasa diinjak-injak? Kalo iya, Iel ucapkan selamat karena pada
masa berjayanya Papa saat ini orang yang pertama kali menginjak-injak
Papa adalah anak Papa sendiri. Iel” Ucap Gabriel tanpa rasa gentar.
Cakka melihat Pria itu bersiap melayangkan tangannya kearah Gabriel.
“Kamuu...”
“BERHENTIII!!”
Puncak kemarahan Tn. Damanik tertelan begitu saja saat ada suara yang
seakan mentitahnya untuk berhenti. Baik Tn. Damanik maupun Gabriel
sendiri sudah menoleh kearah sang pemilik suara.
“Cakka!!!” seru Gabriel tak percaya.
Cakka mulai berjalan mendekati Gabriel, dan Gabriel sendiri masih setangah tak percaya memandang Cakka.
“Yel” tegur Cakka sambil menepuk pundak Gabriel lalu mengalihkan pandangannya pada sosok Tn. Damanik.
“Gue tadi bermaksud kerumah Ify untuk minjem buku musik untuk gitar
klasik yang dia punya, tapi gue malah liat loe ditarik paksa masuk mobil
jadi gue ngikutin loe sampai sini dan memaksa masuk”
“PENGAWAL!” Panggil Tn. Damanik marah.
“udah gue bikin tepar dibawah” Sahut Cakka santai.
Rahang Tn. Damanik mengeras, tidak percaya bahwa semua pengawal kepercayaannya tunduk pada bocah yang tidak dikenalnya.
Bukannya mendengarkan, mendadak bayangan Ify, Rio dan Mobil mereka
yang menhantam pohon melintas dikepala Gabriel bagai potongan film yang
berputar cepat, membuatnya sedikit terhuyung sambil memegangi
kepalanya.
Sadar dengan keolengan tubuh Gabriel, Cakka langsung merangkulnya
untuk menopang berat badan Gabriel. “ Yel, loe kenapa?” Tanya Cakka
panik.
“Ify Kka...... Ify..... Rio.... mereka........ Kka tolong...” ucap Gabriel terbata.
Cakka menjadi bingung sendiri karena tidak mengerti maksud Gabriel. “Me.. mereka kenapa Yel?” Tanya Cakka ikut panik sendiri.
Tn. Damanik yang mendengar nama putrinya disebut menjadi terdiam sendiri, menunggu apa yang sebenarnya terjadi.
“Mobil mereka nabrak pohon Kka. Mobil tadi.... tikungan....” Kata-kata Gabriel begitu berantakan sambil menggoncang bahu Cakka.
Cakka berusaha menenangkan dirinya sendiri, mencerna setiap kata yang meluncur dari mulut Gabriel dan mengartikannya sendiri.
Sementara Tn. Damanik langsung mematung ditempatnya, langsung mengerti semua penjelasan Gabriel yang berantakan.
“Jangan bilang jaguar yang nabrak pohon tadi adalah mobil Rio” Ucap Cakka setelah memahami semua.
“Iya, sama Ify” hanya itu yang dapat Gabriel ucapkan.
“APAA???” Cakka kaget, sambil berusaha mengingat badan mobil sebelah
kiri ringsek berat dikarenakan menabrak pohon. “Kalo Ify didalemnya, ada
kemungkinan… ada kemungkinan..” Cakka mendadak kehilangan kata-kata.
Semua bayangan buruk memenuhi benaknya.
“Kenapa Kka” desak Gabriel.
“Gue tadi liat pengemudinya turun yel, tapi gue gak ngeh itu Rio
karena banyak kepulan asap. Kalo Rio yang nyetir, otomatis Ify ada
dikursi penumpang samping kirinya. Dan tadi gue sempet liat kalo badan
mobil sebelah kiri depan ringsek berat. Berarti ify…” Tanpa Cakka harus
melanjutkan kata-katanya Gabriel langsung memahami akhirnya. Gabriel
jatuh terduduk tanpa sanggahan Cakka. ‘Ini semua ulahnya, ini semua
ulahnya! Seandainya ia tadi lebih tenang’ Sesal Gabriel.
Sementara Tn. Damanik tercenung ditempatnya sendiri. Namun gengsi
yang tinggi masih mengalahkan rasa khawatir terhadap nasib anak
perempuan satusatunya. Hingga dia tetap bergeming tanpa mengucapkan
sepatah kata pun.
“Yel..” Panggil Cakka sambil menepuk pundak Gabriel. “Jangan salahin diri loe” Hibur Cakka sambil meremas pundaknya.
Gabriel mengangkat pandangannya. “Kita kesana sekarang Kka, waktu kita sedikit.” Ucap Gabriel yang langsung berdiri.
“Seperti janji Iel tadi. Iel akan kembali pada papa saat semuanya
selesai” Ucap Gabriel dengan suara rendah dan langsung berlari menuruni
diikuti Cakka.
***
“Yel” Panggil Cakka.
“Yel”
Gabriel masih tidak ambil peduli, hanya ify yang ada dipikirannya sekarang.
“Yel” Cakka langsung menarik pundak Gabriel yang tengah berjalan dengan langkah tergesa didepannya.
Sekarang mereka tengah menyusuri koridor rumah sakit yang pasti menjadi tempat dimana Ify dirawat.
“Apaan si Kka” Tanya Gabriel berusaha sabar.
“Gue gak ngerti” Sahut cakka.
“Please jangan sekarang” Ucap Gabriel sambil melanjutkan langkahnya.
“Kenapa? Apa yang sebenernya terjadi?” Kejar Cakka.
“Kka!!” Ucap Gabriel tegas yang langsung memutar tubuhnya. “Gue
bilang nanti, dan gue gak akan melanggar itu. Sekarang adek gue lagi
sekarat karena gue, gak mungkin gue bisa cerita-cerita sama loe dengan
santai tanpa tau keadaannya” Bentak Gabriel.
Cakka terdiam. “Adek loe?” Hanya dua kata yang keluar dari mulutnya.
“Iya, adek kembar gue, yang tadi adalah bokap gue” Sahut Gabriel yang terus berjalan.
Kali ini cakka tidak bertanya lagi. Hanya mengikuti kemana Gabriel melangkah.
“Dokter Evan” Suara Gabriel memecah keheningan mereka. Seorang pria
berjas putih yang dikenal Cakka sebagai Dokter yang menangani operasi
Shilla terlihat kaget dengan kedatangan Gabriel.
“Gabriel? Kata Deva…”
“Ify dimana?” Ucapan Gabriel memutus omongan Dokter Evan.
“Kamar biasa, sepertinya dia mencari kamu juga” Jawab Dokter Evan
Gabriel mengangguk dan langsung berlari keruangan yang dimaksud
Dokter Evan. Ruangan khusus pada saat Ify dirawat setelah operasi
transpalasi ginjalnya. Ketika pintu ruangan sudah terbingkai matanya,
Gabriel langsung mempercepat langkah dan membuka pintu.
“Gue disini Fy” Ucap Gabriel dengan nafas terengah.
Semua yang ada didalam ruangan langsung menoleh kearah pintu.
“Iel” / “Kak Iel”
“Cakka??” Sahut Alvin begitu melihat sosok dibelakang Gabriel. Cakka mengangguk.
Gabriel langsung menggelengkan kepalanya cepat. Memberi isyarat agar
tidak membicarakan sesuatu yang tejadi padanya dihadapan Ify. Semua
membungkam. Gabriel menyeret langkahnya kearah Ify.
“Gimana keadaan loe?” Tanya Gabriel lembut sambil membelai rambut Ify.
Ify mengernyit sedikit, rasa nyeri menderanya, dan Gabriel menangkap. Ya Tuhan.. seberapa parah keadaan adiknya sekarang?
“Maaf” Ucap Gabriel menyesal.
“Bukan salah elo kok” Ucap Ify lemah, meski bingung dengan ucapan Gabriel.
“Salah gue Fy” Ucap Gabriel sambil menundukkan kepalanya.
“Kalo emang loe salah, gue minta jangan salahin diri loe sendiri untuk dapat maaf dari gue” Sahut Ify sambil tersenyum.
Gabriel memejamkan matanya, lalu menghembuskan nafas untuk melegakan paru-parunya dan mengangguk pelan.
“Malam ini Ify harus terbang ke Singapore untuk perawatan lebih lanjut. Loe dating disaat yang tepat Yel.” Jelas Alvin.
Gabriel menoleh kearah Alvin menuntut penjelasan lebih.
Alvin menggeleng lemah, tidak mampu menjelaskan apa yang tadi didengar dari mulut Dokter Tian dan Dokter Evan.
Ify menutup matanya melihat reaksi Alvin. Separah apa keadaannya?
Jika memang ini saat terakhir Ify hanya ingin bersama semuanya, tidak
disana yang hanya sendirian. Matanya terbuka, menatap satu persatu orang
yang terus didekatnya. Ingin berusaha menggapai meraka semua namun
keadaannya tidak memungkinkan. Secepat inikah?
***
TO BE CONTINUE ON PART 39 =))
Wahhaaahhaaahh *emaaptrisilkhilap.
Udah yaa utangnyaa :D
Teruntuk yang terkhusus Ibu Pelly , gue udah post TACI yee. Sooo??
Gue dapet Novel lu gratis yaa. Besok kuisnya gue tuangkan dalam bentuk
catatan aja ;;)
Nah buat RFM & ICL yang mau order kumpulan cerpen dari author RFM bisa order di @anascania & @MFabray_
Judul bukunya Listen to (My) Heart harganya sekitar Rp 70.000
Penulisnya adalah @anascania @niyaaarasyied @shasmawan @MFabray_ @emeurmp @nahrasyied @shiwi_NRG @Ieerrma_D @Shellysvtr_
Buat yang gak punya duit, bisa ikut kuisnya yang berhadiah buku
gratis. Cek Fav @anascania deh. Kuisnya gampang lho. Yuk diramaikann ;)
Sebelumnya, Happy #LOV3thRFM semuanyaaa. semoga wish wish kalian terkabul yaa ;)
Happy birthday juga buat pak @riostevadit . semoga cepet peka ya pak ~
Happy anniv buat twitter ibu @ifyalyssa juga, semoga makin rajin bales mention kita pada wkwkw
Balik ke topic ya, thanks yang udah setia sama cerbung ini. Mohon
kritik dan saran untuk kestabilan kelanjutan cerbung ini ;) ayo nih
mumpung saya lagi semangat nulis. :D.
Jangan lupa tinggalin jejak ya, jangan jadi pembaca gelap, maap gak ada system tag biar adil.
Sekali, thanks so much my readerrsss :* ({{{{{}}}}})
jangan lupa difollow yak blog ane nya :*
Much Love, @tri_susilowati
Lumos Maxima!! Happiness can be found even in the darkest of times, if one only remembers to turn on the illuminate - Albus Dumbledore, Trisil's student
Kamis, 24 Oktober 2013
That's All Cause Ify Part 38c & 38d
Light of
Fan Fiction Icil Story,
That's All Cause Ify
Light Source
Jakarta, Indonesia
Selasa, 25 Desember 2012
That's All Cause Ify Part 38b
***
Matahari sudah bergeser ke arah barat. Meskipun belum menyembunyikan cahayanya, namun cukup mengisyaratkan jika hari sudah mau berganti. Gemuruh bola yang dipantulkan sedari tadi memenuhi lapangan juga sudah berakhir. Para empu yang dari tadi memainkannya sudah sibuk untuk merenggangkan ototnya masing-masing.
Puncak kekesalan Sivia makin ke ubun-ubun. Menunggui Alvin yang kurang lebih bermain dalam waktu 60 menit nonstop sekaligus melihat kecentilan Zevana terhadap Alvin benar-benar membuatnya badmood setengah mati. Sebenarnya Sivia sudah sedari tadi ingin melangkahkan kakinya untuk pergi dari sini. Akan tetapi karena takut dikira menyerah dan kalah, walau kesal setengah mati. Mau tidak mau Sivia harus tetap mempertahankan gengsinya yang tinggi.
Pemandangan Zevana tengah mengusap keringat diwajah sekaligus memberikan air mineral kepada Alvin yang tidak digubris sama sekali oleh cowok itu kini tampil langsung dihadapan Sivia. Sivia menahan diri minimal untuk tidak melayangkan sendalnya kewajah gadis itu.
Tak lama setelah itu ternyata Alvin mulai bangkit dari istirahatnya tanpa meminum air yang tadi disodorkan oleh Zevana lalu berjalan kearah Sivia yang menyambutnya dengan muka jutek.
Alvin menggeleng heran. Semua gadis yang berhadapan dengannya pasti selalu takhluk dan menyambutnya dengan wajah ceria dan sesumringah mungkin. Hanya gadis ini yang berani memasang wajah jutek saat dihadapannya. Only and One...
“Vin. Kita pulang bareng kan?” Tanya Zevana yang langsung menggelayut manja di lengan Alvin.
Sivia sebisa mungkin untuk memasang wajah Hitler abad millenium melihat kelakuan Zevana. Sementara Alvin mati-matian menahan senyum melihat ekspresi Sivia.
“Sorry Ze, gue mau balikin anak orang dulu nih.” Tolak Alvin sambil berusaha melepas tangan Zevana dilengannya.
“Lah, gue kan juga anak orang Vin” Ucap Zevana manyun.
Sivia hampir menyemburkan tawanya begitu mendengar kata-kata Zevana barusan, namun segera ditahannya.
“Via kan gue culik dari rumahnya, loe bukan culikan dan bukan undangan gue juga Ze. Jadi gue gak harus nganter loe balik dong” Ucap Alvin.
“Aduhh tapi masih sakit nih Vin” Ucap Zevana sambil berekspresi menahan tangis sambil memegang kedua pipinya.
“Hehhh Hehh Hehh, yang gue gampar kemaren tuh pipi loe. Yang sakit juga pipi loe bukan kaki loe. So, loe masih bisa buat pulang sendiri tau” Kali ini Sivia berbicara.
“Tapi kan elo sehat wal afiat Vi” Balas Zevana.
“Oh, loe mau gue bikin sakit lagi? Kalo gitu ikhlas deh gue Alvin ngaterin loe balik” Gertak Sivia tidak mau kalah,
“Udah ya udah” Alvin berusaha menengahi. “Ze, elo pulang sendiri. Karena loe kesini juga atas kemauan sendiri. Sedangkan Via? Gue yang paksa dia kesini. So, dia tanggung jawab gue sampai dia balik lagi kekamarnya tempat gue jemput dia tadi” Tegas Alvin.
“Ayo Vi” Ajak Alvin sambil menarik tangan Sivia dalam genggamannya.
***
“Kok jadi bawa gue kesini sih?” Dumel Sivia sambil melihat sekelilingnya. Taman dekat Rumah Alvin.
Alvin mengacuhkannya. Sivia manyun habis-habisan karena diacuhkan dan memutuskan tidak lagi membuka mulut.
Beberapa menit hanya diisi dengan kesunyian.
“Vi” Panggil Alvin.
Sivia menutup telinga dengan kedua telapak tangannya berpura-pura untuk tidak mendengar.
Alvin menggeleng heran melihat tingkah Sivia. “Yaudah terserah kalo gamau denger, yang jelas aku gak bakal ngulang lagi untuk kedua kalinya” Ucap Alvin dengan nada datar namun penuh ketegasan.
Sivia menurunkan tangannya. “Lho kok jadi elo yang...........”
Alvin memotong cerocosan Sivia dengan menghapus jarak diantara mereka. Sivia langsung terdiam begitu terasa sapuan lembut pada bibirnya menenggelamkan seluruh perkataan yang sudah ada dipangkal tenggorokkannya.
Alvin kembali mengambil jarak sambil mengatur nafasnya yang masih tidak beraturan. Sedangkan Sivia sudah memandang kearah lain sambil pelan-pelan mengatur nafasnya dan pastinya menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
Setelah nafasnya kembali tenang. Alvin memutar bahu Sivia untuk mengarah kepadanya. Sivia masih menunduk karena malu. Perlahan Alvin mengangkat dagu Sivia dan menahannya dengan tangannya sendiri.
“Aku tau apa yang kamu mau bilang, aku bisa ngerasa apa yang kamu rasain, tanpa kamu bilang tanpa kamu ungkapkan......” Ucap Alvin. “Tapi maaf, gak selamanya aku bisa mengerti kamu dengan cara yang kamu mau.”
Sivia terdiam.
“Tapi aku sadar aku salah, aku udah berjanji untuk mencintai dan menyayangi kamu atas diri kamu. Seharusnya aku memakai cara yang lebih baik” Ucap Alvin lagi. “Kejadian tempo hari lalu, aku bukan mau ngebela Zevana atau teman-temannya. Tapi aku gak mau kamu, cewek yang aku sayangin malah bertindak seenaknya sendiri” lanjutnya.
“Maaf Vin, aku...........”
Alvin kembali menghentikan ucapan Sivia dengan menaruh telunjuknya di mulut gadis itu. “Ini kesempatan aku bicara, karena mungkin untuk selanjutnya mungkin kamu udah gak mau denger lagi” Kata Alvin. Sivia kembali terdiam
“Dan kalau itu membuat kamu krisis kepercayaan sama aku. Fine, aku terima. Kalo itu bisa membuat kamu lebih baik lagi....” Alvin mengangguk-anggukan kepalanya pelan. “Aku akan belajar nunggu kepercayaan kamu kembali, karna aku gak mungkin bisa ngelepas kamu” Lanjut Alvin.
Sivia hanya diam. Matanya sudah tidak lagi menatap Alvin.
Melihat reaksi Sivia, Alvin sudah menunduk pasrah. “Sekarang terserah kamu” Ucapnya lirih.
Sivia langsung mengangkat pandangannya begitu mendengar nada bicara Alvin.
“Gak seharusnya aku egois” Ucap Sivia pelan, namun langsung mengangkat pandangan Alvin untuk fokus ke Sivia kembali. “Aku.. Aku harusnya juga belajar mengerti cara kamu, karena aku juga sayang sama kamu.” Sivia menghela nafas. “Aku...” Sivia menggeleng pelan akan perkataannya sendiri. “Tolong jangan lepas aku......” Pinta Sivia sambil menatap dalam ke mata Alvin.
Alvin hanya terdiam mendengar perkataan Sivia. Masih tidak percaya, jika gadis ini masih memintanya untuk tetap ada disisinya. Detik berikutnya Alvin langsung merengkuh gadis itu dalam pelukannya dan mengcium puncak kepala Sivia dengan sayang serta berjanji dalam hatinya, jika ni terakhir dia mengecewakan gadis ini.
“Aku sayang kamu Vi...”
***
“Deva pulaaaanggg” Salam Deva begitu membuka pintu rumahnya dan langsung berjalan keruang keluarga.
Ternyata hanya ada Gabriel yang sedang asyik memetik senar gitarnya mengikuti alunan music dari dvd playernya.
“loe gak jemput kak Ify kak?” Tanya Deva sambil merebahkan tubuhnya disamping Gabriel lali melepas sepatunya.
“Dia gak mau” Jawab Gabriel cuek.
“Kok loe nurut sih kak? Terus dia pulang sama siapa? Aduh sumpah kalo tadi tugas prakarya gak deadline besok gue aja yang jemput” Cerocos Deva.
“Kemaren waktu gue jemput dia, ada Shilla juga disana. Dan Ify semalem nolak dijemput lagi kalo loe gak bisa” Jelas Gabriel.
“Terus dia pulang naik apa?” Tanya Deva.
“Paling naik taksi. Lagipula pertama kali latihan kan dia juga gak dijemput” Jawab Gabriel.
“Itu kan dia pulang bareng bu Ucie” Ucap Deva.
“Ya mungkin hari ini bareng lagi” Ucap Gabriel.
“Kok loe bisa percaya gitu aja sih Kak?” Tanya Deva sedikit kesal.
“Dengan kejadian kemarin-kemarin, gue yakin Ify bisa menilai sendiri dia harus gimana. So, kasih kepercayaan lebih gak ada salahnya Dev” Jelas Gabriel sabar.
“Tapi loe tau kan kak dia itu gimana........”
“Loe jauh lebih mengenal dia gimana Dev” Potong Gabriel.
Deva terdiam sejenak. “Gue.. Cuma khawatir”
Gabriel menaruh gitarnya di sisi sofa, lalu menyandarkan tubuhnya. “Entah kenapa gue jadi ngerasa tenang kalo nanti harus ninggalin Ify sama elo” Ucap Gabriel.
Deva langsung duduk tegak mendengar ucapan Gabriel. “Loe mau pergi?” Desisnya.
Gabriel memilih untuk mengabaikan pertanyaan Deva. “Jaga Ify sebaik-baiknya dengan kepercayaan penuh dari loe, gue percaya sama loe Dev” Pesan Gabriel sambil mengusap puncak kepala Deva, lalu bangkit dari sofanya lalu melangkah kekamar.
***
Ify sedang menunggu taksi untuk pulang kerumahnya. Dia sudah melarang Gabriel untuk menjemputnya disekolah, sedangkan Deva masih sibuk dengan tugas kelompoknya bersama Ray dan yang lain. Mau tidak mau Ify pulang sendiri menggunakan taksi karena tidak ingin kembali merepotkan Bu Ucie untuk mengantarnya pulang.
Ify melemparkan pandangan kearah jalannya yang cukup lengang. Hanya ada kendaraan pribadi yang melaju. Memang hari sudah menjelang sore, dan sekolahnya pun sudah bubar dari 3 jam lalu. Hari ini hari terakhirnya latihan vocal dan besok akan jadi hari H akan latihannya selama ini.
Ify mendadak terdiam begitu ada sebuah mobil yang berhenti dihadapannya. Ify begitu mengenali mobil itu. Bahkan beberapa kali pernah duduk didalamnya. Jaguar milik Rio.
Ify tidak bereaksi. Namun begitu ditunggunya beberapa menit Rio tidak juga memberikan reaksi sama sepertinya. Ify menggeser tubuhnya beberapa langkah kearah depan, agar pandangan dalam mencari taksi lebih leluasa. Tak lama, Rio memajukan mobilnya tepat didepan Ify. Kembali menghalangi pemandangan Ify kearah jalanan. Tidak menunggu lama seperti tadi, Ify kembali menggeser tubuhnya. Kali ini kebelakang hingga dia makin leluasa dalam mencari taksi. Tak lama juga, Rio kembali memundurkan mobilnya, kembali mensejajarkan dengan tempat Ify berdiri.
Ify memutar bola matanya kesal. ‘Maunya apasih?’ Bathinnya. Dengan terpaksa Ify lalu mengetuk kaca mobil Rio, membuat Rio menurunkan kaca mobil tersebut. Tanpa mengucapkan apa-apa, Rio hanya memandang lurus kedepan tanpa mempedulikan kaca mobil yang sudah terbuka sempurna.
“Bisa geser mobil loe gak Yo? Lebih kedepan atau kebelakang terserah. Tapi tolong jangan halangin pandangan gue” Ucap Ify.
Rio seperti tidak mendengar. Ify menghentakkan kakinya kesal kemudian melangkah kedepan agak menjauh dari mobil Rio.
Namun lagi-lagi, Rio memajukan dan kembali menghentikan mobilnya sejajar dengan tempat Ify berdiri. Masih dengan kaca mobil yang terbuka dan pandangan Rio lurus kedepan.
“Yo, gue tuh mau nyari taks......”
Klek.
Ucapan Ify langsung terhenti begitu ada suara kecil namun total mencuri seluruh perhatiannya. Kunci pintu otomatis milik Rio disamping kursi pengemudi tiba-tiba tertarik keatas.
Ify langsung terdiam begitu saja. Apa ini tandanya Rio mengajaknya untuk pulang bersama? Tidak! Tidak boleh. Bathin Ify bertengkar disetiap sisinya.
“Gue gak ikut!” tegas Ify sambil kembali berjalan menjauhi mobil Rio.
---
Sementara dalam mobilnya Rio menghela nafas berat. Apa yang sedang dilakukannya saat ini benar-benar diluar kendali dirinya. Kalau boleh memilih dengan logikanya, Rio ingin segera meninggalkan tempat ini. Namun kata hatinya, ia harus tetap ditempat dan menjaga gadis itu. Melihat ekspresi kesal gadis itu karenanya meski sedikit ditahan karena keadaan hubungan mereka saat ini.
“Gue gak ikut!” Tegas gadis itu sambil menjauhi mobil.
Rio mengatur persneling kembali mengikuti Ify. Lalu mensejajarkan kembali dengan tempat Ify berdiri. Namun ternyata gadis itu memilih bergeming. Tidak mempedulikannya!
Rio berusaha menunggu beberapa saat. Jendela mobil di samping kursi penumpang masih tetap terbuka. Walau pandangannya lurus kedepan. Namun ekor matanya terfokus pas digadis yang sengaja tidak melihat kearahnya. Beberapa menit kedepan Ify hanya mengedarkan pandangannya tidak berusaha beranjak lagi menjauhi mobil.
Rio kembali menghela nafas pelan. Ada yang dia lupakan dari tadi, gadis ini lebih keras kepala daripada yang dia tahu. Tak berpikir panjang lagi Rio membuka pintu mobil disampingnya, tak perlu waktu lama kini dia sudah berdiri disamping Ify.
Rio membukakan pintu mobil seakan mempersilahkan Ify masuk kedalamnya. Ify masih berpura-pura acuh. Rio kembali menghela nafas menahan sabar terhadap tingkah laku gadis didepannya sekarang.
“Gue anter loe pulang” Ucapnya dengan suara rendah.
Ify pura-pura tidak mendengar. Tidak bermaksud apa-apa sih. Hanya balas dendam karena tadi ucapannya juga diacuhkan oleh Rio.
“FY!” Kali ini dengan nada tegas yang memaksa Ify untuk menoleh kearah Rio.
“Gue kan udah bilang engga”Sahut Ify.
Ify kembali mengedarkan pandangannya. Kali ini tidak lagi mencari taksi, namun melihat keadaan sekeliling. Siapa tau ada paparazi dadakan yang akan membuatnya besok pagi muncul dimading dengan berita –IFY-PEREBUT-COWOK-ORANG-. Ify langsung bergidik begitu membayangkannya.
“Gak akan mungkin ada yang motret kita tiba-tiba dan nempel tuh foto besok di mading” Ucap Rio seperti membaca pikiran Ify.
Ify menoleh lalu menggedikan bahunya. “Who knows” tampak lebih rileks dari sebelumnya. “Dia aja sanggup kok ngikutin gue sama Kak El”
Rio mendengus, berusaha melupakan semuanya. “Loe besok seharian sama gue tanpa ada penolakkan. Gak ada apa niat baik sore ini buat pemanasan?” Tanya Rio mengalihkan pembicaraan.
“Pemanasan? Ngaco” Cibir Ify.
“Yah paling gak besok saat gue punya ‘kewajiban’ jemput loe atas mandat Bu Ucie gak mesti baku hantam dulu sama Gabriel” Ucap Rio.
“Kalo terpaksa gak usah, kita ketemu ditempat aja. Gue bisa minta Gabriel anter gue” Ketus Ify agak tersinggung dengan pernyataan ‘kewajiban’
“Bukaan, bukan gitu” Ganti Rio kelabakan dan berusaha mencari kata-kata yang lebih tepat.
“Gue Cuma hmm ngejalanin kepercayaan dari Bu Ucie tapi sebelumnya paling gak gue harus dapet kepercayaan dari Gabriel buat ngebawa loe pergi besok. Apalagi, apalagi... dengan makin protektifnya Gabriel dan Deva terus.........”
“Itu urusan gue” Potong Ify terhadap penjelasan Rio yang agak berbelit-belit, lagipula Ify tidak bisa membiarkan dirinya berlama-lama dengan Rio. “Loe bisa pulang dan biarin gue pulang naik taksi”
“Tapi Fy...”
“Loe kan yang mau loe pergi dari gue. Jadi udah stop. Biarin gue pulang sendiri. Soal besok biar jadi urusan gue. Loe jemput aja gue sesuai jam janji kita tadi. Tapi untuk sore ini gue tetep mau pulang sendiri” Sahut Ify.
“Kenapa sih loe masih ngomongin konteks pribadi dalam hal ini?” Ketus Rio.
“Karena ini emang udah konteks diluar kita sebagai partner duet” Ucap Ify tak mau kalah.
“Paling gak loe berusajha tetap professional lah” Ucap Rio.
“Keadaanya berbeda Ma-ri-o” Tegas Ify.
“Loe yang buat semua keadaan ini A-ly-ssa” Sahut Rio tak mau kalah.
Ify terdiam. Lalu mengangguk-angguk kecil dan menghela nafas pelan. “Loe bener” Ify memejamkan matanya yang agak memanas. “Gue udah gak mau nyakitin siapapun lagi.” Ify menghirup nafas kuat-kuat menghilangkan sesaknya. “Loe udah sama Shilla Yo. Kebersamaan kita pas latihan gak akan ada arti apa-apa lagi. Gue berterima kasih banget sama penunaian ‘kewajiban’ loe itu” Ucap Ify, dan pada detik yang sama tangannya melambai kearah jalan. Mengarah pada taksi kosong yang sedang melaju. “Besok jemput gue sesuai jam perjanjian kita. See you” Dengan langkah terburu-buru Ify langsung memasuki taksi yang sudah terhenti didepan mobil Rio. Meninggalkan Rio yang masih terdiam mencerna semuanya.
Ternyata memang berakhir...
***
Keesokannya sekitar jam 1 siang, Rio sudah didepan rumah Ify dengan style semi formal bercampur casual. Dengan kemeja biru langit yang digulung sampai siku dan skinny jeans putih dipadu dengan dasi hitam yang melingkar di kerah kemejanya serta sepatu kets putih. Tak lupa rambut spike yang selalu eksis melengkapi penampilannya hari ini.
Acara Pensi Nasional Bakat Pemuda Indonesia memang baru akan dimulai jam 3 sore namun untuk segala persiapan Bu Ucie meminta mereka datang lebih awal, apalagi mereka tampil sebagai salah satu opening dalam acara tersebut. Untungnya siang ini tergolong mendung, tidak terlalu panas hingga tidak begitu menganggu penampilan Rio yang benar-benar terlihat fresh siang ini.
Rio menekan bel rumah Ify. Entah sudah berapa kali ia bertandang ke rumah ini. Namun baru pertama kalinya dia merasakan gugup yang luar biasa. Tak lama pintu terbuka, Gabriel yang muncul dibaliknya. Rio bersikap sebiasa mungkin. Gabriel juga berusaha biasa saja karena sebelumnya Ify memang telah memberitahunya jika kepergiannya mengisi acara Pensi Nasional Bakat Pemuda Indonesia akan dijemput Rio sekitar jam 1 siang.
“Ngg.. Masuk Yo” Ajak Gabriel canggung,
“Gausah Yel. Gue disini aja” Tolak Rio halus sambil menggedikan dagunya kearah kursi yang ada diteras rumah Ify.
Gabriel mengangguk. “Okay, bentar lagi kayaknya Ify keluar. Dia tadi lagi lagi siap-siap” Ucap Gabriel.
Ganti Rio yang hanya mengangguk.
Dalam beberapa menit kedepan, hanya diisi keheningan antara Rio dan Gabriel.
“Yo/ Yel” Panggil Gabriel dan Rio bersamaan.
“Loe duluan” Sahut Gabriel cepat.
“Gue.. Gue mau minta maaf untuk kejadian beberapa hari......”
“Soal itu gak perlu dibahas, gue juga salah dalam hal itu. Tapi untuk hari ini, gue titip Ify ya sama loe” Potong Gabriel.
“Ohh” Rio mengangguk. “Loe tadi mau ngomong apa?”
Gabriel menggeleng. “Gak jadi, gue tadi Cuma mau bilang... Gue titip Ify sama loe hari ini” Ucap Gabriel sambil memegang bahu Rio.
“Pasti!” Ucap Rio mantap sambil membalas memegang bahu Gabriel meyakinkan dia akan memegang janji itu sebaik-baiknya.
“Thanks” Ucap Gabriel. Rio mengangguk.
Tak lama Ify muncul dari dalam rumahnya. Dengan dress biru selutut dan flatshoes hitam yang menjadi alas kakinya. Dengan tatanan rambut dikesampingkan menggunakan jepit bunga putih besar yang menghiasinya. Singkat, tampilannya saat ini benar-benar begitu serasi dengan Rio.
“Yel, gue berangkat ya?” Pamit Ify. Menyadarkan Rio bahkan Gabriel yang ikut terpersona memandangnya.
“Ahh, iya Fy. Loe janjian?” Tanya Gabriel sambil melihat kearah Rio.
Ify mengalihkan pandangannya kearah Rio yang memakai baju dengan warna yang nuansanya sama dengannya.
Ify menggeleng “Kita Cuma janjian untuk pake baju warna biru, selebihnya.........” Ify kembali menggeleng heran. Takjub, sudah kesekian kalinya dia memakai baju dengan nuansa yang sama dengan Rio tanpa kesepakatan.
Sama seperti Ify, Rio juga takjub dengan apa yang dihadapannya saat ini. Membuatnya lupa jika semua ini hanya didasari sebuah kata “kebetulan”
“You looks very beautiful girl” Puji Gabriel. Yang langsung menyadarkan Rio dari keterpesonaanya pada Ify.
Rio berdeham. “Berangkat sekarang Fy?”
Ify hanya mengangguk pelan. “Gue berangkat ya Yel” Pamit Ify sekali lagi.
Gabriel mengangguk. “Hati-hati ya”
Rio dan Ify sama-sama mengangguk lalu berjalan menuju mobil Rio yang terparkir dihalaman Rumah Ify.
***
“Ify, Rio. Kalian udah lama?” Tanya Bu Ucie yang baru saja memasuki backstage acara, sekaligus memecah keheningan antara Ify dan Rio yang hanya diam dari rumah Ify, dalam perjalanan hingga mereka sampai ditempat acara dan masih harus menunggu terlebih dahulu di backstage.
“Kita baru sampe kok” Jawab Rio mewakili dirinya dan Ify.
“Oke, sekarang kalian prepare gladi bersih dulu. Sekadar untuk pengenalan stage nanti. Ayo kedepan” Ajak Bu Ucie.
Rio dan Ify langsung menurut dan mengikuti Bu Ucie.
***
Gabriel kembali berjalan keruang keluarga setelah memastikan kepergian Rio dan Ify. Namun, bukan kembali melanjutkan aktivitasnya bersama Deva yang tadi tertunda. Gabriel justru merebahkan dirinya kesofa yang ada diruang keluarga.
“Loe serius ijinin mereka pergi berdua kak?” Tanya Deva yang segera mem-pause-kan PS nya begitu melihat Gabriel nampak tidak minat melanjutkan permainan mereka.
Gabriel mengangguk.
“Loe yakin mereka nanti akan baik-baik aja?” Tanya Deva lagi,
Gabriel menghembuskan nafasnya berat. “Harus! Gue udah nitip Ify sama Rio. Gue tadi juga udah minta maaf soal pribadi gue sama Rio. Jadi gak ada alasan untuk mereka gak baik-baik aja” Jawab Gabriel.
Deva melempar tubuhnya kesamping Gabriel. “Trus kenapa muka loe suntuk gitu?” Tanya Deva lagi.
“Loe kaya wartawan ya nanya mulu” Protes Gabriel.
Deva manyun. “Muka loe mirip orang frustasi tau” Protesnya. “Kenapasih?”
“Kepo deh loe” Ucap Gabriel cuek.
“Tuhkaan, sama kayak kak Ify. Sembunyiin aja semua sendiri” Sindir Deva berpura-pura ngambek.
“Itu gunanya gue sama dia kembar” Sahut Gabriel.
“Rese loe kak...........”
Ting Tong (???) *anggep suara bel yah._.*
Belum selesai dnegan cerocosannya. Deva langsung membungkam mulut karena bunyi bel rumah mereka kembali berbunyi.
“Gue yang liat” Sahut Gabriel yang langsung bangkit dari duduknya, yang sebenarnya hanya bermaksud menghindar dari Deva.
***
Rio dan Ify kembali ke backstage begitu mereka selesai gladi bersih diikuti oleh Bu Ucie dibelakang mereka.
“Kalian Foto dulu ya” Ucap Bu Ucie sambil mengacungkan SLR yang dibawanya.
Rio dan Ify justru saling pandang ragu.
“Ayolah, buat kenang-kenangan” Rayu Bu Ucie.
“Kalo abis performe nanti aja gimana?” Tanya Ify yang sebenernya ingin menolak, urusan nanti biarlah dia mencari alasan yang lain lagi.
“Yah. Mumpung masih fresh. Lagipula biar kalian bisa langsung istirahat nanti” Rayu Bu Ucie lagi.
Tanpa berusaha kembali menolak, Rio dan Ify langsung berdiri dari duduknya, dan berusaha tersenyum.
Bu Ucie mengarahkan kameranya kepada dua murid kebanggaannya. Sebuah Blitz langsung meluncur begitu kamera sudah memenuhi fokus.
“Duh. Kayak orang musuhan. Coba deh geseran lebih deket” Pinta Bu Ucie.
Rio dan Ify sama-sama menghela nafas. Mati-matian dari tadi mereka menjaga jarak, jarak tersebut disia-siakan begitu saja.
“Nah, oke. Siap ya! Three... two... one...” Sebuah Blitz kembali memancar.
Ify dan Rio langsung cepat-cepat mengatur jarak mereka.
“Sipp” Bu Ucie nampak puas dengan hasil jepretannya. “Sekali lagi ya, kita ambil foto yang sedikit elegan” Pinta Bu Ucie lagi.
Rio dan Ify langsung memandang Bu Ucie speechless.
“Bu, tapi kan kita kesini untuk nyanyi bukan pemotretan” Tolak Ify secara halus.
“Mungkin akan ada banyak moment kayak gini yang akan kamu lewati dengan bakat yang kamu punya Fy. Tapi untuk moment hari ini, gak akan pernah terulang lagi. Itu kenapa kenangan harus diabadikan, supaya kita bisa mengingat gak akan pernah ada sesuatu yang sama terluang pada hari berikutnya” Jelas Bu Ucie
Ify langsung terdiam, hampir sama seperti yang Sivia sampaikan padanya.
“Karena memang gak ada yang tau kan hari esok dan seterusnya?”
Ify memandang kearah Rio yang ternyata sudah memandangnya lebih dahulu, Ify langsung kembali memutar pandangannya. Lalu mengangguk kearah Bu Ucie, menandakan setuju jika harus foto bersama Rio kembali.
Bu Ucie tersenyum puas. “Sekarang kamu ngamit lengan Rio ya Fy”
Ify langsung melebarkan kelopak matanya, seperti meminta pengulangan pada permintaan Bu Ucie.
“Iya, kamu mengamit lengan Rio” Ulang Bu Ucie sambil memeragakan contoh mengamit lengan.
Ify menghela nafas, sudah yakin permintaan Bu Ucie tidak lagi salah ditangkapnya lagi. Disisi kirinya, Rio sudah mengangsurkan lengan kanannya ke arah Ify. Ify memandang sejenak. Detik berikutnya Ify sudah mengamit lengan Rio dan tersenyum kearah kamera yang dipegang oleh Bu Ucie.
“Perfect! Thanks ya. Oke, Ibu kedepan dulu liat schedule” Pamit Bu Ucie sambil berlalu dari hadapan Rio dan Ify.
Sepeninggal Bu Ucie Rio dan Ify bermaksud kembali menciptakan jarak antara mereka. Ify sudah melepas lengannya yang mengamit lengan Rio, namun renda kecil pada dress birunya justru menyangkut pada kancing yang menahan gulungan kemeja di siku Rio.
Bukan tercipta, justru jarak diantara mereka makin terhapus. Wangi parfume musk milik Rio sudah memenuhi indera penciuman Ify, membuat konsentrasinya langsung buyar dalam melepas renda yang menyangkut. Tidak jauh beda, harum strawberry segar yang menguar pada rambut Ify sudah tidak hanya memenuhi indera penciuman Rio, namun seperti sudah menular pada udara disekitarnya. Rio yang tadinya ingin membantu untuk melepas renda yang menyangkut pada kemejanya justru malah terdiam sendiri memandang puncak kepala Ify yang dulu sering diacaknya yang membuat gadis itu marah-marah kesal padanya, hingga pernah dikecupnya hingga gadis itu langsung salah tingkah dengan rona merah dikedua pipinya. Hingga tanpa sadar, justru tangannya sudah tertumpu pada tangan gadis itu.
Ify langsung terdiam begitu tangan Rio setengah menggengam tangannya yang tengah berusaha melepas renda yang menyangkut. Ify mengangkat wajahnya, dengan jarak yang sudah hampir tidak ada, kening Ify langsung bersentuhan dengan kening rio yang memang dari tadi menunduk untuk membantunya.
Mata mereka justru saling memandang dalam, seakan menuntut penyelesaian akan kisah ini. Deru nafas masing-masing sudah menerpa wajah mereka. Kemudian mereka saling memejamkan matanya masing-masing....
“Ifyyy! Riooo!”
Spontan Rio dan Ify langsung menciptakan jarak jauh-jauh diantara mereka sebisa mungkin. Pandangan merekapun sudah berlawanan arah.
“Ify, Rio” Tampak Bu Ucie yang baru memasuki stage dengan nafas yang agak memburu. Namun nampaknya Rio maupun Ify tidak ada yang menyadari. Mereka masih tenggelam dengan pikirannya masing-masing sekaligus mengatur detak jantung mereka yang benar-benar bekerja diatas normal.
‘Tadi gue ngapain sih?’ Bathin Rio frustasi.
‘Untung belum terjadi’ Pikir Ify lemah
“IFY! RIO!” Panggil Bu Ucie sekali lagi, kali ini dengan nada lebih tegas menyadari kedua muridnya tidak mendengarkannya.
“Iya Bu!!” Sahut RiFy kompak setengah kaget mendengar nada bicara Bu Ucie.
“Kalian tuh... ahh lupakan! Gini, ternyata kalian mendapat bagian di opening. Dan panitianya minta agar lagu yang kalian nyanyikan ditukar dengan pengisi acara yang ada dibagian tengah acara” Jelas Bu Ucie.
“Lho? Jadi sia-sia dong latihan kita” Protes Rio.
“Ibu juga berpikir gitu Yo, tapi lagu My Heart yang akan kalian bawakan nanti dianggap terlalu mellow jadi mereka minta lagu yang agak beat sedikit, minimal powerfull sebagai opening. Mau tidak mau kita harus professional, karena sekolah kita salah satu sekolah music yang terbaik” Tegas Bu Ucie.
Rio menghela nafas. “Okey kita professional, kita bawain lagu yang mereka minta. Tapi kalo nanti gak maksimal...” Rio menggedikkan bahu.
“Yang penting tampilkan semaksimal mungkin, lagipula ini bukan pertama kalinya kalian duet dengan lagu dadakan. Kalian pasti bisa” Semangat Bu Ucie.
“Jadi lagu apa yang ditukar dengan lagu kita?” Tanya Ify pasrah.
“Lagu yang sedang hits saat ini” Jawab Bu Ucie.
***
Gabriel membuka pintu rumah untuk melihat siapa yang menekan bel rumah. Namun begitu melihat siapa yang kini berdiri ditempatnya. Gabriel langsung membeku ditempatnya. Seorang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini. Tengah berdiri angkuh dihadapannya. Dengan postur badan tinggi besar sambil memperlihatkan senyum meremehkan yang ditujukan kepadanya. Papanya!!
---
Begitu menyadari tidak ada suara dari arah depan rumah, Deva memutuskan untuk mengikuti langkah Gabriel menuju pintu rumahnya.
***
Intro lagu yang akan dibawakan oleh Rio dan Ify sudah memenuhi stage Acara Pensi Nasional Bakat Pemuda Indonesia. Namun Rio dan Ify masih tetap berdiri disamping stage. Bukannya mereka tidak menguasai materi lagu tersebut. Hanya, justru perasaan mereka yang kini ragu dalam membawakan lagu tersebut.
“Come on. Please be a professional please. You can do it” Pinta Bu Ucie dengan penuh mengharap melihat sepertinya kedua muridnya “mogok” untuk performe.
Intro kembali diputar karena Rio dan Ify masih belum naik keatas stage.
“Pleaseee” Pinta Bu Ucie lagi begitu sadar Intro sudah diulang untuk kedua kalinya.
Karena tidak tega pada ekspresi Bu Ucie yang dihadapkan pada mereka juga tidak mau usaha wanita tersebut sia-sia dalam pengolahan tekhnik vocal mereka. Rio dan Ify terpaksa mengangguk sambil tersenyum paksa.
“Show it!! Good luck” Ucap Bu Ucie puas.
[Rio] Lihatlah luka ini...
Yang sakitnya abadi...
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu...
Rio langsung mengeluarkan suara sambil menaiki stage karena menyadari waktu intro dan masuk ke lagu sudah tidak cukup jika dilakukannya nanti diatas stage. Namun baru saja bait awal dinyanyikan semua kenangan bersama gadis yang mengikutinya dibelakang saat ini langsung berputar jelas.
[Rio] Aku tak akan lupa...
Tak akan pernah bisa...
Tentang apa yang harus memisahkan kita...
------
“Gue punya sahabat. Dia kehilangan beberapa bagian dihidupnya. Keluarga dan salah satu organ tubuhnya, meski sudah digantikan oleh orang lain” Cerita Ify.
Rio mulai paham dengan siapa yang diceritakan Ify, tetapi masih belum mengerti sepenuhnya apa yang akan maksud sebenarnya.
“Sama seperti gue. Dia butuh suatu bagian yang menyempurnakan. Tapi diluar dugaan, ternyata bagian yang dia maksud sama kayak bagian yang gue maksudkan sebagai ‘bagian yang menyempurnakan’” Suara Ify hampir menghilang oleh tangis yang sudah ditahannya dari tadi.
Mata Rio terbelalak maksimal setelah mendengar kata-kata Ify barusan. Lalu langsung menghampiri Ify cepat dan mencengkram bahu gadis itu yang telah dihadapkan kepadanya. Tapi sayang, Ify tetap menunduk.
“Jadi selama ini... Shilla suka sama gue Fy?” Tanya Rio to the point.
-----
[Rio] Disaatku tertatih...
Tanpa kau disini...
Kau tetap kunanti demi keyakinan ini...
-------
Rio menghela nafasnya berat. “Siapa yang membuat gue gak anti social lagi? Ify!. Siapa yang membuat Alvin sahabat gue lebih terbuka lagi? Ify!. Siapa yang menyelamatkan nilai gue dari dulu dalam pelajaran biologi? Ify!. Siapa yang mau capek-capek nemenin gue buat ngurus anak kecil dengan penyakit jantungnya? Ify! Siapa yang membuat adek gue Ray lebih mau jadi dirinya sendiri? Ify! Siapa cewek pertanma yang ngerebut hati nyokap gue? Ify! Siapa yang..........”
“STOP YO. UDAH CUKUP” Jerit Ify sambil menutup kedua telinganya. Jerit yang bercampur tangis. Ify kembali mundur beberapa langkah menjauhi Rio.
Rio masih tidak mau kalah dengan tetap mendekati Ify. “Rio kayak gimana Fy? Rio kayak gimana yang membuat Ify tetap disamping Rio? Rio kayak gimana yang membuat Ify bertahan dengan sikapnya? Rio kayak gimana? Apa gue harus jadi ‘Rio’ yang dulu? Rio yang selalu dikejar-kejar Ify Cuma buat diajak ngobrol gak penting? Gue akan jadi kayak gitu, asal loe tetap disamping gue. Tetap bertahan memperjuangkan gue” Ucap Rio sambil pergi meninggalkan Ify yang masih terisak sendirian.
------
[Rio] Jika memang dirimulah tulang rusukku...
Kau akan kembali pada tubuh ini...
Kuakan tua mati dalam pelukmu...
Untukmu sluruh nafas ini...
[Ify] Kita telah lewati rasa yang pernah mati...
Bukan hal baru bila kau tinggalkan aku...
------
“Terakhir” Ucap Rio lagi yang kemudian langsung melempar bola kearah ring lagi dan BRUKK.. Tubrukan bola dan papan pantul yang langsung menyentakkan Ify kembali.
“Gue pamit........................... dari hati loe” Ucap Rio yang kemudian langsung melangkah pergi.
-------
Tanpa kita mencari, jalan untuk kembali...
Takdir cinta yang menuntunmu...
Kembali padaku...
------
“Baiklah, langsung saja. Begini Yo, Fy. Sekolah kita didaulat untuk mengisi acara Pensi Nasional Bakat Pemuda Indonesia dalam bidang menyanyi.” Jelas Pak Duta.
“Bapak berniat menggunakan kami?” Sahut Rio to the point.
Pak Duta mengangguk.
“Kenapa harus kami Pak? Ini salah satu sekolah musik kan? Pasti banyak yang lebih bisa mewakili dibanding saya” Protes Ify yang membuat Rio langsung menoleh kepadanya.
Ify baru saja tidak menggunakan kata jamak dengan ucapan “kami/kita” tetapi “saya” yang justru mengartikan tunggal. Singkat, hanya untuk dirinya sendiri.
Ify berusaha mengacuhkan tatapan Rio.
“Tapi saya begitu terkesan dengan duet kalian, apalagi kalian bilang saat itu jika kalian tidak melakukan latihan sama sekali. Bagaimana jika nanti kalian latihan? Pasti hasilnya lebih dari kemarin.” Jelas Pak Duta.
------
Ify mengingat bagaimana disaat mereka harus menjauh namun keadaan justru membuat mereka harus semakin dekat.
[Ify] Disaatku tertatih... ([Rio] Saatku tertatih)
[Ify] Tanpa kau disini... ([Rio] Tanpakau disini)
[Ify] Kau tetap kunanti [RiFy] demi keyakinan ini..
[RiFy] Jika memang kau terlahir hanya untukku...
Bawalah hatiku dan lekas kembali...
Ku nikmati rindu yang datang membunuhku...
Untukmu seluruh nafas ini...
[Ify] Dan ini yang terakhir [Rio] aku menyakitimu...
[Ify] Ini yang terakhir... [Rio] Aku meninggalkanmu...
[Ify] Takkan ku sia-siakan [RiFy] hidupmu lagi...
[Rio] Ini yang terakhir dan ini yang terakhir...
[RiFy] Takkan ku sia-siakan hidupmu lagi...
[Rio] Jika memang dirimulah tulang rusukku... ([Ify] terlahir untukku)
Kau akan kembali pada tubuh ini... ([Ify] bawa hatiku kembali)
[Rio] Kuakan tua dan mati dalam pelukmu...
[RiFy] Untukmu seluruh nafas ini...
[RiFy] Jika memang kau terlahir hanya untukku...
Bawalah hatiku dan lekas kembali...
Ku nikmati rindu yang datang membunuhku...
Untukmu seluruh nafas ini...
Untukmu seluruh nafas ini...
Untukmu seluruh nafas ini...
Rio dan Ify mengakhiri lagunya disambut tepuk tangan meriah dari para audience. Bahkan banyak diantara mereka yang berstanding applause. Tanpa sadar jika dari tadi justru mereka bernyanyi sambil berhadapan dan menatap mata masing-masing. Seakan ada layar dalam bola mata gelap berwarna hitam dalam indera penglihatan mereka. Layar yang memutar perlahan kenangan tentang mereka.
***
Deva langsung terpaku begitu mengetahui siapa yang ada didepan pintu rumahnya. Tidak jauh berbeda dengan Gabriel. Deva juga langsung terpaku ditempatnya begitu tahu yang ada dihadapannya sekarang. Tidak... Dia tidak pernah lupa wajah angkuh tersebut meski terlihat agak tua dari 10 tahun yang lalu. Terakhir ditemuinya ketika dia ingin berangkat sekolah.
“Selamat siang Gabriel Damanik dan............”
“Papa ngapain kesini?” Potong Gabriel dengan nada dingin.
“Ohh, salam yang baik untuk Papamu nak” Sahut Tuan Damanik tanpa menghilangkan wajah angkuhnya.
Deva masih belum bereaksi ditempatnya.
“Papa tau darimana rumah ini?” Tanya Gabriel.
“Kamu pergi secara ‘terbuka’ bagaimana mungkin kamu bisa lepas dari pengawasan Papa” Jawab Tuan Damanik tenang.
“Jadi?”
“Kamu itu penerus perusahaan Papa satu-satunya, bagaimana mungkin kamu Papa biarkan berkeliaran dengan orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya seperti orang dibelakang kamu” Jelas Tuan Damanik sambil menggedikan dagunya kearah Deva.
Deva langsung mencelos. Namun berusaha untuk menahan emosinya.
“PAPA!! Aku gak akan ikut pulang. Papa kan yang mengusir aku dari rumah. Dan soal asal usul. Papa jangan seenaknya” Ucap gabriel. Kali ini kemarahan tidak lagi dapat ditahannya.
“Waahh, sepertinya disekolah barumu diajarkan membentak orang tua ya? Padahal Papa dengar sekolah bertaraf Internasional yang dibangun oleh Ibu dari anak itu kan?” Ucap Tuan Damanik angkuh sambil kembali menggedik kearah Deva.
Tanpa dasar nafas Deva sudah memberat.
“Berhenti membicarakan bunda” Ucap Gabriel pelan namun penuh ketegasan. Nafasnya sudah memburu karena menahan kesal.
“Ohya, yang membangun kira-kira memang bunda anak itu atau laki-laki yang bertanggung jawab atas anak itu ya.....”
Begitu mendengar kata-kata terakhir, Deva langsung maju bermaksud menyerang laki-laki yang dulu sempat dipanggilnya Papa. Namun apa daya. Ternyata Tuan Damanik membawa beberapa ajudannya yang menghalanginya.
Kini Deva hanya bisa memberontak begitu tangannya dijagal oleh dua orang tinggi besar dan berotot, yang berprofesi sebagai ajudan orang berwajah angkuh dihadapannya.
“Berhenti ngefitnah tentang nyokap gue” Teriak Deva sambil berusaha tetap memberontak.
“Ohh, rumah mewah dan beberapa mobil digarasi rumah ini membuktikan ibu mu sukses dalam bisnisnya. Tapi kenapa tidak sukses ya mendidik orang seperti kamu ya?” Ucap Tuan Damanik, seperti sengaja memancing emosi Deva.
“Gue bilang berhenti bilang yang engga-engga tentang nyokap gue” Bentak Deva.
“Berhubung mood saya baik hari ini, saya tidak mau menyakiti orang lain. Saya hanya meminta Gabriel ikut dengan saya” Ucap Tuan Damanik.
“Gak akan. Lepasin Deva. Papa bisa pergi dari sini sekarang” Tolak Gabriel mentah-mentah.
“Jangan buat Papa memaksa Yel” Geram Tuan Damanik.
“Sikap Papa yang memaksa aku untuk tetap tinggal” Sahut Gabriel.
“ergghh” Terdengar erang dari samping Gabriel.
Ternyata Deva menyikut dada dari salah satu ajudan yang menjagalnya. Namun detik berikutnya Deva harus jatuh tersungkur karena ulu hatinya mendapat pukulan telak dari teman ajudan lainnya.
“Deva!” Pekik Gabriel. Baru saja Gabriel ingin membantu Deva, namun ajudan Papanya yang menganggur sudah menahan dirinya.
Gabriel berusaha memberontak.
“Papa tidak ingin main kekerasan loe Yel, anak itu ternyata yang meminta” Ucap Papanya sambil terkekeh sinis.
Gabriel masih berusaha memberontak. Dahinya sudah berkedut menahan emosi. “Iyel gak ikut” Teriaknya sambil meronta.
“Sayangnya keputusan papa selalu mutlak Yel..” Ucap Tuan Damanik santai. “Bawa dia” Titahnya pada sang ajudan sambil melangkah terlebih dahulu menuju Alphard hitam yang setia membawanya kemanapun. Tanpa mempedulikan sumpah serapah yang sudah mengalir dari mulut Gabriel serta Meninggalkan Deva yang masih tersungkur karena sakit pada ulu hatinya.
***
Rio dan Ify sudah dalam perjalanan pulang. Mereka memutuskan untuk pulang lebih awal dari yang lain karena apa yang sudah terjadi hari ini antara mereka lebih melelahkan dibanding tugas mereka sebagai pengisi Acara.
Jalanan tidak begitu ramai seperti biasanya, membuat Rio dapat mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, namun juga tidak ngebut. Sedangkan Ify lebih memiih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
***
Gabriel duduk dikursi belakang dengan diapit ajudan ayahnya di kedua sisi. Namun pemberontakkan Gabriel masih belum berhenti. Gabriel benar-benar membuat kedua ajudannya sibuk dengan pemberontakkannya. Hingga ketika Gabriel menyikut dua ajudan yang mengapitnya dikanan kiri cukup mampu membuat mereka lengah. Gabriel berusaha mengambil alih kendali sopir untuk menarik rem mobil. Namun justru terjadi pergulatan antara Gabriel, ayahnya serta supir mobil mereka.
“Gabriel! Kita bisa celaka kalo kamu bertingkah seperti ini” Bentak Papanya.
“Iyel gak peduli. Papa turunin disini atau kita celaka sama-sama” Teriak Gabriel lagi sambil berusaha mengambil alih kemudi. Alhasil justru membuat jalan mobil Alphard yang mereka tumpangi jadi kadang tersendat dan jalannya jadi agak tidak teratur hingga terus-terusan klakson panjang menggema dari mobil pick up yang berjalan dibelakang mereka.
“Yel, bukan hanya kita yang akan celaka, tapi juga orang lain” Ucap Tuan Damanik sambil berusaha menghalangi Iyel.
“Memang Papa peduli?” Sahut gabriel cuek.
Tanpa disangka-sangka tikungan yang akan mereka lewati juga ada sebuah Jaguar hitam dengan kecepatan diatas rata-rata dan arah yang berlawanan. Dengan kondisi cara mengemudi yang tidak begitu mulus. Tuan Damanik mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghempaskan Gabriel kembali kejok mobil. Hingga alih kemudi dapat lagi diambil oleh supir pribadinya. Sayangnya, mereka tidak sempat menghindar dari mobil jaguar tersebut..
***
Ketika sampai ditikungan Rio agak melambatkan mobilnya. Namun siapa tahu didepannya justru ada alphard yang berjalan dengan tidak teratur. Begitu Rio membanting stirnya kekanan, ternyata ada sebuah mobil pick up dengan arah yang sama dengan Alphard tersebut. Membuat Rio langsung membanting habis mobilnya kesebelah kiri.
BRAKKKK..
Sisi kiri depan jaguar miliknya benar-benar habis menghantam pohon besar disisi kiri jalan. Baru saja ingin menghela nafas lega karena dirinya tidak mengalami luka apapun. Rio harus dihadapkan oleh kenyataan lagi, bila tabrakan yang barusan terjadi bukan hanya memakan korban mobilnya, namun gadis disampingnya yang agak terhimpit dengan ringseknya mobil Rio disisi kiri.
“IFY!!!” Pekik Rio. “Fy, bertahan Fy” Ucap Rio panik sambil menepuk-nepuk pelan pipi Ify.
Ify agak setengah sadar dengan tepukan dipipinya. “Rio..” Lirihnya.
“Fy, bertahan Fy. Aku akan ngeluarin kamu dari sini.” Ucap Rio sambil mengelus pelan pipi Ify.
Ify menggeleng lemah.
“Kamu bertahan Fy!!” Teriak Rio sambil mendobrak pintu mobil disampingnya. Dengan perlahan Rio mengangkat Ify yang benar-benar posisinya tidak begitu menguntungkan.
“Sakit Yoo...” Lirih Ify pelan tepat ditelinga Rio yang mengangkatnya.
“Kamu bertahan yaa. Sedikit lagi” Lirih Rio lagi. Sungguh saat ini Rio benar-benar kehabisan kata-kata begitu melihat kondisi gadis yang begitu disayanginya justru haris celaka karena dirinya.
Rio membaringkan Ify pelan-pelan diatas rumput begitu sudah berhasil mengeluarkannya dari Jaguar milikinya. Dress biru yang tadi begitu cantik pada gadis itu telah berubah warna dengan cairan gelap, berbau anyir.
“Fy bertahan. Aku mohon” Pinta Rio sambil berusaha kembali membangunkan Ify yang sudah setengah sadar.
“Sakit...” Lirih Ify lemah.
Rio langsung memeluk Ify. “Maaf. Maaf ini semua salah aku”
“Ini bukan salah kamuu... hh” Nafas Ify agak memburu.
“Fy, udah jangan bicara lagi. Kamu harus bertahan.” Potong Rio.
“Ini bukan salah kamu... Kalo ini akhirnya...”
“Kamu bicara apasih Fy? Berhenti bicara lagi... Aku mohon” Pinta Rio.
Ify menggeleng. “Biarin aku bicara... Untuk kali ini.....”
Rio menggeleng tegas.
“Aku takut gak punya wak.......”
Rio langsung menghapus jarak diantara mereka. Bibirnya membungkam mulut Ify yang sudah akan kembali bicara. Tidak lama Rio sudah kembali melepaskannya.
“Kalo membiarkan kamu bicara sekarang, membuat aku gak bisa ngeliat kamu besok pagi. Lebih baik aku tetap mengunci mulut kamu.” Ucap Rio.
Ify terdiam.
“Please jangan bicara lagi, aku yakin kamu kamu sanggup bertahan.... Demi aku...” Lanjut Rio.
Rio merogoh saku celananya mencari BBnya untuk menelepon ambulance. Ify masih tetap diam menuruti Rio dan hanya melihat Rio yang sepertinya agak kebingungan membuka lock BB nya.
IfyAlyssa
*Failed!
Rio kembali menekan-nekan keypad untuk membuka lock BB nya. Mungkin karena tadi dia agak sedikit panik, jadi ada yang typo dalam passwordnya.
IfyAlyssa
Setelah yakin benar, Rio kembali memilih tombol enter
*Failed!
‘Kok gak bisa?’ Bathin Rio, Rio berusaha mengingat password lock BB nya. Namun tetap saja. Saat ini yang ada dipikirannya hanya bagaimana menyelematkan gadis yang sangat berarti untuknya saat ini.
Rio merasakan genggaman lembut pada tangan kanannya yang tengah memegang BB.
“Ashilla” Lirih Ify pelan, namun cukup membuat hati Rio mencelos begitu mendengarnya. Bagaimana bisa Ify mengetahui password BB nya yang baru saja sengaja diganti untuk melupakan gadis ini? Bahkan detik ini juga Rio sama sekali tidak mengingatnya? Rio tersenyum kaku kearah Ify yang justru dibalas Ify dengan senyum terbaiknya.
***
Begitu menyadari mereka bebas dari kecelakaan barusan. Supir pribadi Tuan Damanik langsung menghentikan mobilnya, dan mereka langsung disalip oleh Pick up bonus dengan umpatan supir tersebut.
Gabriel masih berusaha mendongakkan kepalanya kearah luar untuk memastikan Jaguar Hitam yang barusan mengalami kecelakaan begitu menghindar dari mobil yang ditumpanginya saat tadi. Namun ternyata ajudan sang Papa langsung sigap membekap Gabriel dengan sarung tangan yang sudah dilumuri obat bius.
Akan tetapi Gabriel masih memiliki sisa tenaga untuk melihat kearah Jaguar Hitam dengan bernomor plat B 2410 TRS detik berikutnya Gabriel langsung mencelos. Menyadari jika itu adalah Jaguar yang sering beberapa kali parkir disamping mobilnya. Bahkan tadi sempat ada didepan rumahnya! Membawa.... Membawa....
“Begini lebih baik bos” Samar-sama Gabriel masih bisa mendengar ajudan sang ayah berbicara dengan gaya melapor. Namun pikirannya langsung terhenti dengan obat bius yang perlahan menghilangkan kesadarannya.
Cheers (;!!!
Trisil {}
Langganan:
Postingan (Atom)